BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Banyak
diantara umat manusia yang mengaku agama Islam tapi tidak pernah tahu akan
Islam, tidak pernah tahu bagaimana Islam, bahkan seperti apa Islam itu
berkembang. Bahkan dikalangan sejarawan terdapat perbedaan tentang saat di
mulainya sejarah Islam. Sehingga sungguh naif bila belum sama sekali mampu
untuk menguraikan secara terperinci bagaimana Islam itu sebenarnya mulai dari
awal terbentuknya hingga pada masa peradabannya dimana Islam mendapat kejayaan
dan kebanggaannya sebagai agama bawaan Nabi Muhammad saw.
Selain
dari itu, pentingnya pemaparan tentang peradaban Islam ini merupakan bentuk
suplay pengetahuan walaupun hanya secara mendasar tentang sejarah peradaban
Islam itu sendiri. Sehingga tidak merasa malu pada diri sendiri jika suatu saat
nanti ada yang bertanya tentang sejarah agama kita sendiri (yang menganut agama
Islam).
Pada pembahahsan pemaparan dan
penulisan ini akan mengarah kepada yang lebih mendasar, yakni tentang identitas paradaban Islam itu
sendiri dan sejarah peradaban Islam. Sehingga pada akhirnya memiliki bekal
mendasar tentang pradaban Islam itu sendiri dan bagaimanakah pandangan mereka
(bangsa Barat) tentang kebudayaan dan peradaban Islam.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah Sejarah Peradaban Islam itu?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Sejarah Peradaban Islam
dan hal-hal yang terkait.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Identifikasi dan Ruang Lingkup Peradaban
Islam
1. Identifikasi Peradaban Islam
Peradaban islam adalah terjemah dari
kata Arab al-hadarah al-islamiyah. Kata Arab ini juga diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia dengan kebudayaan islam.Kebudayaan dalam bahasa Arab adalah
al-tsaqafah. Di Indonesia , sebagaimana juga di Arab dan barat, masih banyak
mensinonimkan dua kata kebudayaan (Arab, Al-tsaqafah,Inggris, culture) dan
peradaban (Arab: al-hadharah ; Inggris: civilization).Dalam perkembangan ilmu
antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk
ungkapan tentang semangat mendalam satu masyarakat. Sedangkan, manifestasi-manifestasi kemajuan manusia
dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban.Kalau Kebudayaan lebih
banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi dan moral. Maka peradaban
terefleksikan dalam politik, ekonomi, dan teknologi.
Dalam pengertian itulah peradaban yang
dimaksud.Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW telah membawa bangsa
Arab yang semula terbelakang, menjadi bangsa yang maju.Ia dengan cepat bergerak
mengembangkan dunia, membina satu
kebudayaan, dan peradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia
hingga sekarang.Bahkan, kemajuan barat pada mulanya bersumber dari peradaban
islam yang masuk ke Eropa melaui Spanyol.islam memang berbeda dari agama-agama
lain.H.A.R. Gibb di dalam bukunya wither islam menyatakan,’’islam is indeed mus
More than a System of theology,It is a complete civilization”(Islam
sesungguhnya lebih dari sekedar agama, ia adalah suatu peradaban yang
sempurna). Karena yang menjadi pokok kekuatan dan sebab timbulnya kebudayaan
adalah agama islam, kebudayaan yang ditimbulkannya dinamakan kebudayaan atau
peradaban islam.[1]
2. Ruang Lingkup peradaban islam
Ruang lingkup sejarah islam dari segi
periodesasinya, apa dibagi menjadi periode klasik, periode pertengahan, periode
modern. Periode klasik yang berlangsung sejak tahun 650-1250 masehi ini dapat
dibagi lagi menjadi masa kemajuan islam 1, yaitu dari sejak tahun 650-1000, dan masa disintegrasi
dari tahun 1000-1250. Pada masa kemajuan islam 1 itu tercatat sejarah
perjuangan nabi Muhammad SAW. Dari tahun 570-632 M,Khulafaur Rasyidin dari
tahun 632-661M, Bani Ummayah dari tahun 661-750M, Bani Abbas dari tahun
750-1250M.
Selanjutnya periode pertengahan yang
berlangsung dari tahun 1250-1800M, dapat dibagi kelam 2 masa, yaitu masa
kemunduran 1 dan masa tiga kerajaan besar. Masa berlangsung sejak tahun
1250-1500M. Dijaman ini Jengis Khan dan keturunannya datang membawa penghancura
ke dunia islam. Sedangkan masa tiga kerajaan besar yang berlangsung dari tahun
1500-1800 M.
Adapun periode modern yang berlangsung
dari tahun 1800 M sampai dengan sekarang ditandai dengan jaman kebangkitan
islam. Selanjutnya dilihat dari segi isinya sejarah islam dapat dibagi ke dalam
sejarah mengenai kemajuan dan kemundurannya dalam berbagai bidang. Seperti
bidang politik, pemerintahan, ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dengan
berbagai paham dan aliran yang ada didalamnya dsb.[2]
B. Islam Normatif dan Islam Historis
1. Islam Normatif
Kata Normatif berasal
dari bahasa Inggris norm yang berarti norma ajaran, acuan, ketentuan
tentang masalah yang baik dan buruk yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh
dilakukan.
Sedangkan menurut istilah, Islam
Normatif adalah islam pada dimensi sakral yang di akui adanya realitas
transendetal yang bersifat mutlak dan universal melampaui ruang dan waktu atau
sering disebut realitas ke-Tuhan-an.
2. Islam Historis
Sejarah
dalam bahasa Arab, tarikh atau history (inggris), adalah cabang
ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan kronologi berbagai peristiwa. Menurut
Abd. Ar-Rahman As-Sakhawi bahwa sejarah adalah seni yang berkaitan dengan
serangkaian anekdot yang berbentuk kronologi peristiwa.
Sejarawan
Louis Gottschalk dalam bukunya Undertanding History: a Primer of Historical
Method, menjelaskan pengertian sejarah. Sejarah dalam bahasa inggris history
berasal dari kata benda Yunani istoria yang berarti ilmu. Dalam penggunaanya
oleh filosof Yunani, Aristoteles, istoria berarti suatu penjelasan sistematis
mengenai seperangkat gejala alam, baik susunan kronologi yang merupakan faktor
atau tidak di dalam penjelasan.[3]
Secara
ringkas, menurut Gottschalk, pengertian sejarah tidak lebih dari sebuah rekaman
peristiwa masa lampau manusia dengan segala sisinya. Sementara itu, Ibnu
Kholdun berpandangan bahwa sejarah tidak hanya dipahami sebagai rekaman
peristiwa masa lampau, tetapi juga penalaran kritis untuk menemukan kebenaran
suatu peristiwa di masa lampau. Dengan demikian, unsur penting dalam sejarah
adalah adanya peristiwa, adanya batasan waktu, adanya pelaku, dan daya kritis
dari peneliti sejarah.
Islam Historis sendiri adalah Islam yang tidak
bisa dilepaskan dari kesejarahan dan kehidupan manusia yang berada dalam ruang
dan waktu.
Dari
pengertian demikian kita dapat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sejarah
Islam adalah peristiwa atau kejadian yang sungguh-sungguh terjadi yang
seluruhnya berkaitan dengan ajaran Islam diantara cakupannya itu ada yang
berkaitan dengan sejarah proses pertumbuhan, perkembangan dan penyebarannya,
tokoh-tokoh yang melakukan pengembangan dan penyebaran agama Islam
tersebut, sejarah kemajuan dan kemunduran yang di capai umat Islam dalam
berbagai bidang,seperti dalam bidang pengetauan agama dan umum, kebudayaan,
arsitektur, politik, pemerintahan, peperangan, pendidikan, ekonomi dan lain
sebagainya.[4]
Secara
historis faktual, umat islam pernah berada di Spanyol selama 7 abad. Sejarah
juga mencatat bahwa umat islam pernah pula menggeser dominasi kekuatan imperium
Persi maupun Romawi. Kerajaan Turki Usmani pernah pula masuk ke pintu gerbang
Wina dan dan dipukul mundur pada tahun 1683. Dalam perjalanannya yang panjang
memasuki jantung Eropa, kerajaan Turki Usmani meninggalkan komunitas-komunitas
muslim baik di Bulgaria, Albania maupun Bosnia-Herze govina. Hal ini yang
membuat dunia Barat memendam rasa ingin tahunya. Sebelum wilayah islam merambah
ke wilayah yang begitu luas, umat islam sebenarnya pernah secara intensif
berhubungan dengan Barat. Bukan Barat dalam artian sekarang, tapi Barat dalam
artian Peradaban Yunani. Gerakan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani
dilakukan oleh umat islam secara besar-besaran.
Tetapi
semua itu adalah kenangan masa lalu, setelah Baghdad jatuh ke tangan Mongol
(1258), yakni 5 abad setelah islam mewarnai percaturan dunia. Perang salib
selama 200 tahun cukup memberikan kesan yang mendalam terhadap barat. Barat
mulai mempelajari ulang khazanah intelektual mereka melalui karya-karya ilmuwan
muslim. Sementara itu, setelah jatuhnya Baghdad ada 3 kerajaan islam yang
besar, yaitu kerajaan Turki Usmani, kerajaan Moghol di India dan kerajaan
Safawi di Persi. Pada saat yang sama Barat menyusun kekuatan baru.
Hanya
250 tahun dari jatuhnya Baghdad, kerajaan islam di Spanyol telah diusir dari
Cordova. Mulai tahun 1492, kerajaan islam di Spanyol telah musnah. Pada saat
yang sama ekspedisi Columbus menemukan Benua Amerika. Bahkan rombongan Spanyol
juga telah sampaai di Filipina pada tahun 1511 dan Portugal telah sampaai di
Maluku. VOC Belanda memasuki Batavia tahun 1602. Dari sinilah abad kolonialisme
dan imperialisme dimulai.[5]
3. Pengelompokan Islam Normatif dan Islam
Historis
Adapun Pengelompokkan Islam normatif dan
Islam historis menurut Nasr Hamid Abu Zaid mengelompokkan menjadi tiga wilayah
(domain) :
1. Wilayah teks asli Islam (the original
text of Islam), yaitu Al-qur’an dan sunnah nabi Muhammad yang otentik
2. Pemikiran Islam merupakan ragam menafsirkan
terhadap teks asli Islam (Al-qur’an dan sunnah nabi Muhammad SAW). Dapat pula
disebut hasil ijtihad terhadap teks asli Islam, seperti tafsir dan fikih.
Secara rasional ijtihad dibenarkan, sebab ketentuan yang terdapat di dalam
al-Qur’an dan al-Sunnah itu tidak semua terinci, bahkan sebagian masih bersifat
global yang membutuhkan penjabaran lebih lanjut. Di samping permasalahan
kehidupan selalu berkembang terus, sedangkan secara tegas permasalahan yang
timbul itu belum/tidak disinggung. Karena itulah diperbolehkan berijtihad,
meski masih harus tetap bersandar kepada kedua sumber utamanya dan sejauh dapat
memenuhi persyaratan. Dalam kelompok ini dapat di temukan empat pokok cabang :
(1) hukum/fikih, (2) teologi, (3) filsafat, (4) tasawuf. Hasil
ijtihad dalam bidang hukum muncul dalam bentuk : (1) fikih, (2) fatwa, (3)
yurisprudensi (kumpulan putusan hakim), (4) kodifikasi/unifikasi, yang muncul
dalam bentuk Undang-Undang dan komplikasi.
3. Praktek yang dilakukan kaum muslim.
Praktek ini muncul dalam berbagai macam dan bentuk sesuai dengan latar belakang
sosial (konteks). Contohnya : praktek sholat muslim di Pakistan yang tidak
meletakkan tangan di dada. Contohnya lainnya praktek duduk miring ketika
tahiyat akhir bagi muslim Indonesia, sementara muslim di tempat/ negara lain
tidak melakukannya.
Sementara Abdullah Saeed menyebut tiga
tingkatan pula, tetapi dengan formulasi yang berbeda sebagai berikut :
1. Nilai pokok/dasar/asas, kepercayaan,
ideal dan institusi-institusi.
2. Penafsiran terhadap nilai dasar
tersebut, agar nilai-nilai dasar tersebut dapat dilaksanakan/dipraktekkan.
3. Manifestasi atau pratek berdasarkan pada
nilai-nilai dasar tersebut yang berbeda antara satu negara dengan negara lain,
bahkan antara satu wilayah dengan wilayah lain. Perbedaan tejadi karena
perbedaan penafsiran dan perbedaan konteks dan budaya.[6]
C. Pembabakan Sejarah
Peradaban Islam
Sejarah berjalan dari masa lalu ke masa
kini dan melanjutkan perjalanannya ke masa depan. Ketika sedang mempelajari
suatu sejarah peradaban yang menyeluruh, kita tidak bisa lagi mengikuti mata
rantai tunggal peristiwa-peristiwa dari satu titik kunci ke titik kunci
lainnya, seperti yang mungkin kita lakukan ketika menelusuri asal usul dari
komponen-komponen khusus suatu kebudayaan. Kita harus melihat bagaimana
masyarakat tersebut berkembang secara bersama-sama dalam banyak bidang yang
paralel dan saling terkait. Kita harus mengambil seluruh bongkah waktu sekaligus, yaitu menyajikan
satu peristiwa kemudian peristiwa lain dalam satu periode.[7]
Saat mempelajari sejarah yang yang sudah berjalan cukup panjang, kita akan
mengalami kesulitan-kesulitan jika tidak dibagi dalam babakan-babakan yang
setiap babakan itu merupakan satu komponen yang memiliki ciri khusus dan
merupakan satu kebulatan untuk satu jangka waktu. Rangkaian dari babakan
sejarah yang termuat dalam satu kerangka inilah yang dinamakan pembabakan
sejarah. Periodisasi ini berfungsi untuk mempermudah dalam menelaah dan
memahami sejarah, termasuk sejarah peradaban Islam. [8]Dalam
beberapa hal , semakin pendek jarak waktu yang kita pilih, maka semakin akurat
pemahaman kita tentang perkembangan-perkembanganya.[9]
Ciri-ciri khusus untuk menetapkan satu
babakan sejarah terpecah menjadi beberapa aliran, yaitu :
D.
Aliran
yang menganggap ciri khusus tersebut adalah pada bentuk Negara atau pada system
politik yang dianut oleh pemerintah Negara;
E. Aliran yang menganggap bahwa tingkat kemajuan ekonomilah yang
menjadi ciri khususnya, dengan alasan faktor ekonomi sangat dominan dalam
mendorong terjadinya proses integrasi sesuatu masyarakat, ekonomi merupakan
faktor penting pula yang mempengaruhi integrasi social, politk, budaya, dan
sebagainya;
F. Aliran yang menganggap tingkat kemajuan
peradaban sebagai cirri khusus;
G. Aliran yang menganggap tingkat kemajuan
kebudayaan sebagai cirri khusus;
H.
Aliran
yang menganggap masuk dan berkembangnya suatu agama sebagai ciri khasnya.
Disamping terdapat perbedaan penetapan
ciri khas dalam babakan sejarah yang akan menimbulkan perbedaan pembagian
pembabakan sejarah Islam, para ahli sejarah juga berbea pendapat tentang kapan
dimulainya sejarah Islam. Di satu pihak menyatakan bahwa sejarah Islam itu di
mulai sejak Muhammad diangkat menjadi Rasul yang pada waktu itu beliau masih
berada di Makkah, 13 tahun sebelum hijrah ke Madinah. Di lain pihak menyatakan
bahwa sejarah Islam itu dimulai sejak lahirnya Negara Madinah, setelah Nabi
hijrah ke Madinah yang sebelumnya bernama Yastrib.
Masing-masing mempunyai argumentasi
sendiri-sendiri. Pihak pertama berargumentasi bahwa sejak Nabi berada di
Makkah, telah lahir masyarakat muslim meskipun belum berdaulat. Dan 13 tahun
periode Makkah tersebut harus dipandang sebagi masa penggemblengan dan lahirnya
masyarakat pendukung Negara Madinah, baik mereka berasal dari penduduk Makkah
sendiri maupun dari Madinah. Karena itulah peride Makkah dan peride Madinah
tidak dapat dipisahkan. Argumentasi pihak kedua mengatakan bahwa masyarakat
yang mandiri dan berdaulat baru terbentuk di Madinah, dimana beliau berperan
sebagai Rasul Allah sekaligus sebagai kepala Negara berdasarkan PiagamMadinah.
Pada saat itu Nabi SAW dan kaum muslim tidak lagi dikejar-kejar dan dianiaya,
dan atau menjadi objek penghinaan, tetapi justru mereka menjadi orang-orang
yang diharapkan mampu memberi perlindungan terhadap siapapun, baik muslim
maupun non muslim, sejak itulah umat muslim
berperan sebagai pembawa perubahan dalam masyarakat dan karena itu
sejarah Islam mulai terbentuk. Para ahli berbeda pendapat mengenai pembabakan
sejarah peradaban Islam. Hasjmy menyatakan bahwa sejarah kebudayaan Islam
dibagi menjadi sembilan periode, sesuai dengan perubahan politik, ekonomi dan
social dalam masyarakat Islam. Kesembilan periodisasi tersebut adalah:
1.
Masa
permulaan Islam, dimulai sejak lahirnya Islam yang ditandai dengan turunnnya
wahyu pertama sampai tahun 661 M atau sepeninggal khalifah Ali bin Abi Thalib.
2. Masa daulah Amawiyah, mulai tahu 41-32 H
(651-750 M).
3. Masa Daulah Abbasiyah I, mulai tahun
132-232 H (750-847 M).
4. Masa Daulah Abbasiyah II, mulai tahun
232-334 H (847-946 M).
5. Masa Daulah Abbasiyah III, mulai tahun
334-467 H (946-1075 M).
6. Masa Daulah Abbasiyah IV, mulai tahun
467-656 H (1075-1261 M).
7. Masa Daulah Mungoliyah, mulai tahun
656-925 H (1261-1520 M).
8. Masa Daulah Usmaniyah, mulai tahun
925-1213 H (1520-1802 M).
9.
Masa
Kebangkitan Baru, mulai tahun 1213 H (1801 M) sampai awal abad 20.
Dari pendapat tersebut dapat dipahami
bahwa periode sejarah peradaban Islam dimulai sejak Muhammad diangkat menjadi
Nabi dan Rasul. Hal ini berarti mendukung peendapat pihak pertama sebagaimana uraian di atas.
Nourouzzaman Shiddiqie juga sependapat
dengan Hasjmy , ia menyatakan bahwa
saat ini para sejarawan cenderung mengambil masyarakat sebagai unit sejarah.
Sebab jika unit sejarah itu adalah negara maka ia mengandung kelemahan, yaitu
bahwa batas Negara tidak selalu tetap. Dia telah membagi sejarah Islam menjadi
tiga periode beserta ciri-cirinya sebagai berikut :
1.
Periode
Klasik, yang dimulai sejak Rasulullah menyampaikan seruannya sampai masa
runtuhnya Dinasti Abbasiyah pada tahun 656 H/1258 M. Ciri-cirinya adalah umat
Islam mencapai prestasi-prestasi puncak di bidang peradaban. Bila dikaitkan
dengan pendapat sebelumnya, maka periode ini dimulai sejak masa permulaan Islam
sampai menjelang berakhirnya masa Daulah abbasiyah IV (nomor 1 s.d. 6).
2. Periode pertengahan, dimulai sejak
runtuhnya Dinasti Abbasiyah. Ciri-cirinya adalah kekuasaan politik
terpecah-pecah dan saling memusuhi. Bila dikaitkan dengan pendapat sebelumnya,
maka periode ini dimulai sejak Daulah Mongoliyah dan Daulah Usmaniyah (nomor
7 dan 8).
3. Periode modern, yaitu sejak abad ke 13
H/19 M sampai sekarang. Dalam periode ini umat Islam sudah tidak memilki
kekuasaan politik yang disegani. Dinasti Turki Ustmani yang pernah menggedor
pintu kota Wina sudah mendapat julukan The
Sick Man of Europe. Bukan saja Turki sudah tidak mampu memperluas wilayah
kekuasaan politiknya, bahkan wilayah yang telah dikuasainya dibagi-bagi antara
inggris, Perancis, dan Rusia. Wilayah Turki Ustmani ibarat sepotong kue yang
menjadi rebutan antara kekuasaan-kekuasaan Barat.[10]
Sejarah
Perkembangan islam terbagi dalam 3 masa :
1. Islam di Masa Awal
Terdapat dua pendapat tentang awal
dimulainya sejarah islam pada masa Nabi. Pertama, mengatakan bahwa sejarah
islam dimulai sejak nabi diangkat menjadi Rosul. Kedua, mengatakan bahwa
sejarah islam dimulai semenjak nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah. Dan pendapat
yang terkuat adalah pendapat yang kedua, karena tahun islam dimulai dengan
hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M.
Pada masa Nabi, segala permasalahan
tentang umat islam selalu dikembalikan kepadanya, sebagai rujukan umat islam.
Setelah Nabi wafat, umat islam mulai berselisih masalah penentuan siapa yang
berhak mengganti posisi kepemimpinan Nabi. Seluruh pemuka islam berkumpul di
Tsaqifah Bani sa’idah untuk berunding masalah pengganti Nabi, dan akhirnya
terjadi kesepakatan untuk mengangkat Abu bakar menjadi khalifah. Dalam periode
kepemimpinannya, beliau berhasil menumpas kaum-kaum murtad dan kaum yang ingkar
membayar zakat.
Setelah Abu Bakar wafat, Umar terpilih
menjadi penerusnya. Penyebaran islam meluas ke luar jazirah Arabia bahkan dua
kerajaan besar, Persia dan Romawi. Pada usia 63 tahun, beliau wafat dibunuh
oleh abu Lu’luah al-Majusi dari Persia
Pengganti Umar adalah Usman bin Affan.
Pada masa pemerintahan Usman telah berhasil disusun al-Qur’an dalam satu
bentukbacaan yang sebelumnya memiliki banyak versi. Tujuannya agar umat islam
bersatu. Akan tetapi, di kalangan umat islam terjadi perpecahan karena masalah
kebijakan yang dilakukan oleh Usman dalam hal pembagian kekuasaan.
Pengganti Usman adalah ali bin abi
Thalib. Perpecahan di kalangan umat islam semakin tajam dengan terbaginya umat
islam karena perisiwa tahkim/arbitrase antara kelompok Ali dan kelompok
mu’awwiyah.
Setelah masa Khulafa’ al-Rasyidin,
pemerintaha islam dipegang Daulah Umaiyyahdengan khalifah pertama Mu’awwiyah
bin abu Sufyan. Perselisishan intern yang terjadi dalam bentuk perebutan
kekuasaan kemudian membawa pada keruntuhan. Maka kepemimpinan dalam islam
dialnjutkan oleh Dinasti Abbasiyah yang didirikan oleh abu al-abbas. Fokus
utama yng menjadi ciri khas dari kejayaan Dinasti abbasiyah adalah di bidang
pengembangan keilmuan.
2. Islam pada Periode Pertengahan
Periode ini ditandai dengan kemunduran
total kekuasaan Islam di Baghdad. Muncul dinasti Umaiyyah periode kedua di
Spanyol yang diproklamirkan oleh ‘Abd al-Rahman al-dakhil. Di Mesir juga muncul
Dinasti Fathimiyyah yang beraliran Syi’ah, digantikan oleh Dinasti Ayyubiyah
yang beraliran sunni dan berakhir tahun 1250 M, kemudian digantikan oleh
Dinasti Mamlukkiyah sampai tahun 1517 M.
Dalam keadaan ini, muncullah tiga
kerajaan besar islam yang mencoba untuk membangkitkan kembali kekuasaan islam,
yaitu Utsmani di Turkey (1290-1924 M), Safawi di Persia (1501-1732 M) dan
Mughal di India (1526-1858 M). Satu persatu ketiga kerajaan tersebut hancur dan
digantikan dengan kekuatan lain. Kerajaan utsmani digantikan oleh Republik
Turki, Safawi digantikan oleh Penjajah Inggris, dan kerajaan Mughal digantikan
oleh penjajah Inggris, dan Mesir dikuasai Napoleon dari Prancis tahun 1798.
3. Islam pada Periode modern
Periode modern disebut oleh Harun
Nasution sebagai zaman kebangkitan islam. Ekspedisi Napoleon yang berakhir
tahun 1801 membuka matra umat islam, terutama Turki dan Mesir, akan kelemahan
umat islam di hadapan kekuatan Barat. Ekspedisi Napoleon di Mesir
memperkenalkan ilmu pengetahuan dengan membawa 167 ahli. Dia membawa 2 set alat
percetakan huruf Latin, Arab, dan Yunani. Ekspedisi ini bukan hanya membawa
misi militer, tetapi juaga misi ilmiah. Napoleon membentuk lembaga ilmiah yang
disebut dengan Institut d’Egypte.
Ide-ide baru yang diperkenalkan Napoleon
di Mesir adalah sistem negara republik yang kepel negaranya dipilih untuk
jangka waktu tertentu, persamaan (egalite) dan paham kebangsaan (nation). Para
pemuka islam pun mulai berpikir dan mulai mencari jalan keluar untuk
mengembalikan kejayaan umat islam. Maka muncullah gerakan pembaruan yang
dilakukan di berbagai negara, seperti Turki dan Mesir.[11]
Badri Yatim membagi babak sejarah
peradaban Islam ke delapan periode sebagai berikut :
1.
Masa
kemajuan Islam I (650-1000 M).
a. Khilafah Rasyidah,
b. Khilafah Bani Umayah,
c. Khilafah Bani Abbas.
2. Masa disintegrasi (1000-1250 M).
a. Dinasti-dinasti yang memerdekakan diri
dari Bagdad,
b. Perebutan kekuasaan di pusat
pemerintahan,
c. Perang Salib,
d. Sebab-sebab kemunduran pemerintahan Bani
Abbas.
3. Islam di Spanyol dan pengaruhnya
terhadap Renaisans di Eropa.
a. Masuknya Islam ke Spanyol,
b. Perkembangan Islam di Spanyol,
c. Kemajuan peradaban,
d. Penyebab kemunduran dan kehancuran,
e. Pengaruh peradaban Spanyol Islam di
Eropa.
4. Masa kemunduran (1250-1500 M).
a. Bangsa Mongol dan Dinasti Ilkhan,
b. Serangan-serangan Timur Lenk,
c. Dinasti Mamluk di Mesir.
5. Masa tiga kerajaan besar (1500-1800 M).
a. Kerajaan Ustmani,
b. Kerajaan Syafawi di Persia,
c. Kerajaan Mughal di India,
d. Perbedaan kemajuan masa ini dengan masa
klasik.
6. Masa kemunduran tiga kerajaan besar
(1700-1800 M).
a. Kemunduran dan kehancuran kerajaan
Syafawi,
b. Kemunduran dan runtuhnya kerajaan
Mughal,
c. Kemunduran kerajaan Ustman,
d. Kemajuan Eropa (Barat).
7. Penjajahan Barat atas dunia Islam dan
perjuangan kemerdekaan Negara-negara Islam.
a. Renaisans di Eropa,
b. Penjajahan Barat terhadap dunia Islam di
Anak Benua India dan Asia Tenggara,
c. Kemunduran kerajaan Ustmani dan ekspansi
Barat ke Timur Tengah,
d. Bangkitnya nasionalisme di dunia Islam
dan tumbuhnya gerakan partai yang memperjuangkan kemerdekaan negaranya,
e. Kemerdekaan Negara-negara Islam dari
penjajahan.
8.
Kedatangan
Islam di Indonesia dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.
Adapun Jaih Mubarok membagi periode
peradaban Islam menjadi enam periode, yaitu :
1.
Peradaban
Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW (610-632 M).
2. Peradaban Islam pada zaman Al-Khlafa
Ar-Rasyidin (632-661 M).
3. Peradaban Islam pada zaman Umayah di
Syiria (661-689 M) dan Andalusia (705-1031 M).
4. Peradaban Islam pada zaman Dinasti
Abbasiyah (133-656 H/750-1258 M).
a. Periode awal Dinasti Abbasiyah,
b. Kemajuan dan kemunduran Dinasti
Abbasiyah,
c. Berdirinya dinasti-dinasti kecil di timur ataupun barat Baghdad.
5. Peradaban tiga kerajaan besar Islam.
a. Turki Ustmani (1300-1922 M) hingga
Mustafa Kemal,
b. Dinasti Syafawi (1501-1732 M) di Persia
hingga Khumaini,
c. Dinasti Mughal di India hingga
terbentuknya Pakistan-Bangladesh.
6.
Peradaban
Islam di Asia Tenggara.[12]
I. Nilai Tawar Peradaban Islam
Nilai tawar adalah nilai keunggulan atau
keistimewaan yang dimilki oleh sesuatu. Nilai tawar peradaban Islam adalah
nilai keistimewaan yang dimiliki oleh peradaban Islam. Al-Siba’iy menjelaskan
bahwa peradaban Islam memiliki beberapa keistimewaan, yaitu :
1.
Berdiri
atas dasar keEsaan mutlak dalam aqidah. Ketinggian dalam memahami keEsaan ini
memilki pengaruh besar dalam mengangkat martabat manusia dan membebaskan
masyarakat-masyarakat dari penindasan raja-raja, para penguasa, orang-orang
kuat dan para agamawan dan membetulkan hubungan antara para penguasa dan rakyat
yang diperintahkan serta mengarahkan pandangan kepada Allah semata sebagai
pencipta dan Tuhan pemilik seluruh alam.
2. Memiliki risalah yang universal dan
memberikan prinsip-prinsip moral dasar dalam seluruh sistem yang dipraktekkan
dan telah mencapai tingkat tertinggi. Seperti masalah pemerintahan, hukum,
peperangan, perdamaian, ekonomi, dan keluarga.
3. Berpegang pada iman yang paling benar
dan berdiri diatas aqidah dalam prinsipnya yang paling jernih, artinya
peradaban Islam adalah satu-satunya peradaban dimana agama tidak terpisah dari
dari negara dan juga tetap selamat dari percampuran antara keduanya. Kepala
Negara merupakan khalifah dan pemimpin kaum mukminin, pemerintahannya adalah
demi kebenaran, hukum dipegang oleh orang-orang yang ahli, setiap orang memilki
kedudukan yang sama dihadapan hukum dan kelebihan seseorang atas lainnya adalah
taqwa. Dengan kata lain bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang tidak
memilki istilah istimewa untuk para pemimpin, agamawan, bangsawan maupun orang
kaya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahfi : 110.
قُلْ اِنَّمَآ اَنَاْ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحَى
اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلهُكُمْ اِلهٌ وحِدٌ
“ Katakanlah (hai Muhammad), sesungguhnya aku adalah manusia
biasa seperti kamu yang diwahyukan kepadaku : bahwa sesungguhnya Tuhan kamu
adalah Tuhan yang Esa.”
4.
Adanya toleransi agama yang mengagumkan.[13]
Seperti
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, A. (1996). Studi Agama Normativitas atau
Historisitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ampel, M. I. (2011). Pengantar Studi Islam. Surabaya:
IAIN Sunan Ampel Press.
Mudzar, A. (1998). Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan
Praktek. Yogyakarta: pustaka Pelajar.
Nata, A. (2003). Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.
S.J, F. (2008). Pasang Surut Peradaban Islam dalam
Lintasan Sejarah. Malang: UIN-Malang Press.
Supriyadi, D. (2008,cet X). Sejarah Peradaban Islam.
Bandung: CV Pustaka Setia.
Yatim, B. (2008). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.
[1] Yatim,Badri,sejarah
peradaban islam(Jakarta;PT Raja Grafindo Persada,2008),hlm.1-2
[2] Abuddin Nata,Metodologi
Studi Islam(Jakarta;PT Raja Grafindo Persada,2003),hlm.314
[3] Fadil S. J, Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah
(Malang: UIN-Malang Press, 2008)
[5] Abdullah, Amin. 1996. Studi Agama Normativititas atau
Historisitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 200
[6] Mudzar, Atho. 1998. Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan
Praktek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal1
[7] Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam Conscience and
History in a World Civilization (Jakarta Selatan: Paramadina, 2002), 11-12.
[8] Fadil S. J, Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah
(Malang: UIN-Malang Press, 2008), 34-35.
[9] Hodgson, The Venture…, 12.
[10] Fadil, Pasang Surut…, 35-40.
[12] Dedi
Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008, cet
X), 21-23.
[13] Fadil, Pasang Surut…, 26-31.
thang keren buat tugas hehehe
BalasHapus