Pages

Sabtu, 10 Oktober 2015

Makalah Psikologi tentang Teori Perkembangan



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Sejak berabad-abad yang lalu perhatian terhadap seluk beluk kehidupan anak sudah diperlihatkan, sedikitnya dari sudut perkembangannya agar bisa mempengaruhi kehidupan anak kearah kesejahteraan yang diharapkan. Anak harus tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang baik yang bisa mengurus dirinya sendiri dan tidak bergantung atau menimbulkan masalah pada orang lain, pada keluarga atau masyarakatnya.
Banyak filsuf, dokter, ahli pendidikan dan ahli teologi memberikan pandangan mengenai anak dan latar belakang perkembangannya serta pengaruh-pengaruh keturunan dan lingkungan hidup terhadap hidup kejiwaan anak. Pada akhir abad ke 17, seorang filsuf Inggris yang terkenal : John Locke (1632-1704) mengemukakan bahwa pengalaman dan pendidikan bagi anak merupakan factor yang paling menentukan dalam perkembangan anak. Isi kejiwaan anak ketika dilahirkan adalah ibarat secarik kertas yang masih kosong,artinya bagaimana nanti bentuk dan corak kertas tersebut bergantung pada cara kertas tersebut ditulisi. Locke mengemukakan istilah “tabula rasa” untuk mengungkapkan pentingnya pengaruh pengalaman dan lingkungan hidup terhadap perkembangan anak. 

B.     Rumusan masalah
1.      Apa hakekat perkembangan ?
2.      Jelaskan macam-macam teori perkembangan ?

C.     Tujuan penulisan
1.      Mengetahui hakekat dari perkembangan
2.      Mengetahui macam-macam teori perkembangan ?


A.  Hakekat Perkembangan
Perkembangan (development)
Perkembangan adalah suatu proses tertentu yaitu proses yang terus menerus, dan proses yang menuju ke depan dan tidak dapat diulang kembali. Istilah “perkembangan” secara khusus diartikan sebagai perubahan-perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif yang menyangkut aspek-aspek mental psikologis manusia. Misalnya : perubahan yang berkaitan dengan pengetahuan, kemampuan, sifat social, kecerdasan, dan sebagainya.[1]
Secara sederhana Saifert dan Hoffnung (1994) mendefinisikan perkembangan sebagai “Long-term changes in a person’s growth, feelings, patterns of thinking, social relationship, and motor skills.” Sementara itu, Chaplin (2002) mengartikan perkembangan sebagai:
1.      Perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati,
2.      Pertumbuhan,
3.       Perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi dari bagian-bagian jasmaniah ke dalam bagian-bagian fungsional,
4.      Kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari.
Menurut Reni Akbar Hawadi (2001), “perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat, dan ciri-ciri yang baru. Dalam istilah perkembangan juga tercakup konsep usia, yang diawali dari saat pembuahan dan berakhir dengan kematian.[2]
Menurut F.J. Monks, dkk., (2001), pengertian perkembangan menunjuk pada “suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali.” Perkembangan juga dapat diartikan  sebagai  “proses yang kekal dan tetap yang menuju kearah suatu organisasi pada tingkat intregasi yang lebih tinggi, berdasarkan pertumbuhan, pematangan, dan belajar.”
Kesimpulan umum yang dapat ditarik dari beberapa definisi diatas adalah bahwa perkembangan tidak terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus-menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangan, dan belajar.
Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk atau tahap ke bentuk atau tahap selanjutnya, yang  kian hari bertambah maju, mulai dari kasa pembuahan dan berakhir dengan kematian.
Ini menunjukkan sejak masa konsepsi sampai meninggal dunia, individu tidak pernah statis, melainkan senantiasa mengalami perubahan-perubahan yang bersifat progresif yang berkesinambungan. Selama masa kanak-kanak sampai menginjak remaja. Misalnya, ia mengalami perkembangan dalam struktur fisik dan mental, jasmani dan rohani sebagai ciri-ciri dalam memasuki jenjang kedewasaan. Demikian seterusnya, perubahan-perubahan diri individu itu terus berlangsung tanpa henti, meskipun perkembangannya semakin hari semakin pelan, setelah ia mencapai titk puncaknya. Ini berarti dalam konsep perkembangan juga tercakup makna pembusukan (decay) seperti kematian.


Pertumbuhan (growth)
Dalam konsep perkembangan juga terkandung pertumbuhan. Pertumbuhan (growth) sebenarnya merupakan sebuah istilah yang lazim digunakan dalam biologi, sehingga pengertiannya lebih bersifat biologis. C.P. Chaplin (2002), mengartikan pertumbuhan sebagai suatu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran dari bagian-bagian tubuh atau organisme sebagai suatu keseluruhan. Menurut A.E. Sinolungan, (1997), pertumbuhan menunjuk pada perubahan kuantitatif, yaitu yang dapat dihitung atau diukur, seperti panjang atau berat tubuh. Sedangkan menurut Ahmad Thonthowi (1993), mengartikan pertumbuhan sebagai perubahn jasad yang meningkat dalam ukuran (size) sebagai akibat dari adanya perbanyakan (multiplication) sel-sel.
Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bawa istilah pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk pada perubahan-perubahan kuantitatif, yaitu peningkatan dalam ukuran dan struktur, seperti pertumbuhan badan, pertumbuhan kaki, kepala, jantung, paru-paru, dan sebagainya. Dengan demikian, tidak tepat jika dikatakan pertumbuhan ingatan, Pertumbuhan berfikir, pertumbuhan kecerdasan, dan sebagainya.   Sebab kesemuanya merupakan perubahan-perubahan fungsi-fungsi rohaniah. Demikian juga tidak tepat kalau dikatakan pertumbuhan kemampuan berjalan, pertumbuhan menulis, pertumbuhan penginderaan, dan sebagainya. Sebab kesemuanya merupakan perkembangan fungsi-fungsi jasmaniah.
Pertumbuhan fisik bersifat meningkat, menetap, kemudian mengalami kemunduran sejalan dengan bertambahnya usia. Ini berarti pertumbuhan fisik ada puncaknya. Sesudah masa tertentu, fisik mulai mengalami kemunduran dan berakhir pada keruntuhan dihari tua, dimana kekuatan dan kesehatannya berkurang, panca indera menjadi lemah atau lumpuh sama sekali. Berbeda dengan perkembangan aspek mental atau psikis yang relatif berkelanjutan, sepanjang individu yang bersangkutan tetap memeliharanya.
Dengan demikian, istilah “pertumbuhan” lebih cenderung menunjuk pada kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuh yang melaju sampai pada suatu titik optimum dan kemudian menurun menuju keruntuhannya. Sedangkan istilah “perkembangan”  lebih menunjuk pada kemajuan mental atau perkembangan rohani yang maju terus sampai akhir hayat. Perkembangan rohani tidak terhambat walaupun keadaan jasmani sudah sampai pada puncak pertumbuhannya. Meskipun terdapat perbedaan penekanan dari kedua istilah tersebut, namun dalam literatur psikologi perkembangan istilah “pertumbuhan” digunakan dalam pengertian yang sama dengan perkembangan. Bahkan menurut Witherington (1986), “pertumbuhan dalam pengertiannya yang luas meliputi perkembangan.”[3]
Kematangan (maturation)
Pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohani yang disebutkan diatas, sebenarnya merupakan suatu kesatuan dalam diri manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain. Laju perkembangan rohani dipengaruhi oleh laju pertumbuhan jasmani, demikian sebaliknya. Pertumbuhan dan perkembangan itu pada umumnya berjalan selaras dan pada tahap-tahap tertentu menhasilkan suatu “kematangan”, baik kematangan jasmani maupun kematangan mental.
            Chaplin (2002) mengartikan kematangan (maturation) sebagai:
1)      Perkembangan, proses mencapai kemasakan/ usia masak,
2)      Proses perkembangan, yang dianggap berasal dari keturunan, atau merupakan tingkah laku khusus spesies (jenis, rumpun).
Myers (1996), mendefinisikan kematangan (maturation) sebagai: “biological growth processes that enable orderly in behavior, relatively uninfluenced by experience. Menurut Zigler dan Stevenson (1993), kematangan adalah “The orderly physiological changes that occur in all species over time and that appear to unfold according to a genetic blueprint.”[4]
Sementara itu, Davidoff (1988), menggunakan istilah kematangan (maturation) untuk menunjuk pada munculnya pola perilaku tertentu yang tergantung pada pertumbuhan jasmani dan kesiapan susunan saraf. Proses kematangan ini juga sangat tergantung pada gen, karena pada saat terjadinya pembuahan, gen sudah memprogramkan potensi-potensi tertentu untuk prkembangan makhluk tersebut dikemudian hari.
Jadi, kematangan itu sebenarnya merupakan suatu potensi yang dibawa individu sejak lahir, timbul dan bersatu dengan pembawaanya serta turut mengatur pola perkembangan tingkah laku individu. Meskipun demikian, kematangan tidak dapat dikatakan sebagai faktor keturunan atau pembawaan, karena kematangan ini merupakan suatu sifat tersendiri yang umum dimiliki oleh setiap individu dalam bentuk dan masa tertentu.
Jadi, kematangan itu sebenarnya merupakan suatu potensi yang dibawa individu sejak lahir, timbul dan bersatu dengan pembawaannya serta turut mengatur pola perkembangan tingkah laku individu. Kematangan terjadi pula pada aspek-aspek psikis yang meliputi keadaan berpikir, rasa, kemauan dan lain-lain yang diperlukan adanya latihan-latihan tertentu. Misalnya, seorang anak yang baru berusia lima tahun di anggap masih belum matang untuk menangkap masalah-masalah yang bersifat abstrak, karena itu anak yang bersangkutan belum bisa diberikan matematika dan angka-angka. Pada usia sekitar empat bulan, seorang anak belum matang didudukkan, karena berdasarkan penelitian bahwa kemampuan leher dan kepalanya belum mampu untuk tegak. Usaha pemaksaan terhadap kecepatan tibanya masa kematangan yang terlalu awal akan mengakibatkan kerusakan atau kegagalan dalam perkembangan tingkah laku individu yang bersangkutan.
Perubahan (change)
Perkembangan mengandung perubahan, tetapi bukan berarti setiap perubahan bermakna perkembangan. Perubahan itu tidak pula mempengaruhi proses perkembangan seseorang dengan cara yang sama. Perubahan-perubahan dalam perkembangan bertujuan untuk memungkinkan orang menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia hidup. Untuk mencapai tujuan ini, maka realisasi diri atau yang biasa disebut “aktualisasi diri” mrupakan faktor yang sangat penting. Tujuan ini dapat dianggap sebagai suatu dorongan untuk melakukan sesuatu yang tepat, untuk menjadi manusia yang diinginkan baik secara fisik maupun psikis.
Realisasi diri memainkan peranan penting dalam kesehatan jiwa seseorang. Orang yang berhasil menyesuaikan diri dengan baik secara pribadi dan social, akan mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan minat dan keinginannya dengan cara-cara yang memuaskan dirinya. Tetapi pada saat yang sama, ia harus menyesuaikannya dengan standar-standar yang diakui bersama.
Secara garis besar perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan itu dapat dibagi ke dalam empat bentuk, yaitu:
a)      Perubahan dalam ukuran besarnya
Perubahan-perubahan dalam bentuk dan ukuran ini terlihat dalam pertumbuhan jasmani dan perkembangan mental seseorang. Setiap tahun anak tumbuh menjadi dewasa, tinggi, dan berat badannya bertambah, kecuali jika keadaan yang tidak normal mempengaruhiny, maka akan terjadi berbagai penyimpangan dalam pertumbuhannya.
Perkembangan mental pun akan menunjukkan yang sama, seperti meningkat dan bertambahnya perbendaharaan kosa kata setiap tahunnya, kemampuan berpikir, mengingat, mengecap, dan menggunakan sesuatu yang berlangsung selama masa perkembangannya dari tahun ke tahun.
b)     Perubahan-perubahan dalam proporsi
Pertumbuhan fisik tidaklah terbatas pada perubahan-perubahan ukuran, tetapi juga pada proporsi. Anak bukanlah manusia dewasa dalam bentuk kecil, namun keseluruhan tubuhnya menunjukkan proporsi yang berbeda dengan orang dewasa. Kemudian ketika anak mencapai usia pubertas, baru proporsi tubuhnya mulai menyerupai orang dewasa.  
c)      Hilangnya bentuk atau cirri-ciri lama
Jenis perubahan yang terjadi adalah hilangnya bentuk dan cirri-ciri tertentu meliputi hilangnya kelenjar anak-anak yang terletak di leher, rambut, gigi, hilangnaya gigi anak-anak, perkembangan bicaranya, perkembangan penglihatannya semakin tajam atau penginderaan lainnya dll.
d)     Timbul atau lahirnya bentuk atau cirri-ciri baru
Dengan hilangnya bentuk atau cirri lama maka timbullah cirri dan bentuk perubahan-perubahan fisik dan mental yang baru. Beberapa perubahan itu terjadi melalui belajar, namun kebanyakan perubahan itu merupakan hasil proses kematangan yang pada saat lahir belum sepenuhnya berkembang.
Segala sesuatu yang ada di sekitar kita, baik kehidupan manusia, hewan, tumbuhan, maupun benda-benda anorganik tidak satupun yang abadi, pasti mengalami yang namanya perubahan. Segalanya selalu berubah, lambat atau cepat, berwujud penyusutan, pertumbuhan maupun perkembangan, menurut sifat kodratnya masing-masing. Demokritos, seorang filusuf Yunani kuno berkata bahwa tidak satupun yang abadi kecuali ketidakabadian itu sendiri.
Demikian pula halnya dengan kehidupan manusia, yang bermula dari telur, kemudian melalui garis pertumbuhan : janin, bayi, kanak-kanak, pemuda, dewasa, orang tua, dan akhirnya meninggal. Semuanya berubah menurut perkembangan dengan berbagai variasi, menurut irama perkembangannya sendiri-sendiri.
Dalam kehidupan manusia terdapat aspek-aspek yang mengalami perkembangan, untuk mengetahui aspek apa saja. Pertama-tama kita perlu lebih dulu mengetahui hakikat dari manusia. Yaitu pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang hidup dalam keadaan :
1.      Psikhophisis, yang berarti manusia adalah makhluk yang hidup dalam kesatuan dua, secara jasmaniah dan rohaniah.
2.      Sosioindividuil, yang berarti manusia adalah makhluk yang hidup dalam kesatuan dua, sosial dan individuil.
3.      Culturilreligius, yang berarti manusia adalah makhluk yang hidup dalam kesatuan dua, dicipta (oleh Maha Pencipta) dan mencipta (kebudayaan).
Semua sifat dan semua aspek tersebut berkembang seluruhnya secara simultan selama mendapat kesempatan dan sejauh masih memungkinkan, menurut irama variasi dan isinya sendiri-sendiri.[5]
B.  Teori Perkembangan
Seperti halnya dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya, disiplin psikologi perkembangan bertujuan untuk memahami suatu gejala atau fenomena. Dengan memahami suatu fenomena, kita dapat membuat prediksi tentang kapan terjadinya fenomena tersebut dan bagaimana terjadinya. Untuk itu, agar suatu gejala dalam piskologi perkembangan betul-betul dapat dimengerti, maka kita memerlukan teori.
Menurut pengertian yang paling umum, teori merupakan lawan dari fakta. Chaplin (2002) mendefinisikan teori sebagai “satu prinsip umum yang dirumuskan untuk menjelaskan sekelompok gejala yang berkaitan. “ sedangkan menurut Santrock (1998), teori adalah “a coherent set of ideas that helps explain data and make predication. A theory contains hyipotheses, assumptions that can be tested to determine their accuracy”. Jadi, sebenarnya teori adalah hipotesis yang belum terbukti atau spekulasi tentang kenyataan yang belum terbukti atau spekulasi tentang kenyataan yang belum diketahui secara pasti, sehingga perlu diuji lebih lanjut untuk menentukan akurasinya. Apabila dalam pengujian teori itu ternyata benar, maka ia menjadi fakta.
Dalam memahami perkembangan manusia, teori mempunyai peranan yang sangat penting. Teori dapat membantu kita memahami gejala-gejala dan membuat ramalan tentang bagaimana kita berkembang serta bagaimana kita berprilaku. Menurut Miller (1993), setidak-tidaknya ada dua peranan penting dari teori perkembangan, yaitu:
·         Mengorganisir dan memberi makna terhadap fakta-fakta atau gejala-gejala perkembangan.
·         Memberikan pedoman dalam melakukan penelitian dan menghasilkan informasi baru.
Dalam pembahasan tentang perkembangan, terdapat banyak teori-teori diantaranya sebagai berikut:
1.      Teori Psikoseksual Freud
Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud adalah salah satu teori yang paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang paling kontroversial. Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu. Energi psikoseksual, atau libido , digambarkan sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku. Menurut Sigmund Freud, kepribadian sebagian besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian hari.[6]

2.      Teori Psikososial Erikson
Teori Erik Erikson membahas tentang perkembangan manusia dikenal dengan teori perkembangan psiko-sosial. Teori perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah perasaan sadar yang kita kembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga percaya bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan menjadi positif, inilah alasan mengapa teori Erikson disebut sebagai teori perkembangan psikososial.[7]

3.      Teori Psikodinamika
Teori Psikodinamik yaitu teori yang menjelaskan tentang hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang sangat diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi, dan aspek-aspek internal lainnya.
Para teoritisi psikodinamik percaya bahwa perkembangan merupakan suatu proses aktif dan dinamis yang sangat dipengaruhi oleh dorongan-dorongan atau impuls-impuls individual yang dibawa sejak lahir serta pengalaman-pengalaman social dan emosional mereka. Teori ini banyak dipengaruhi Sigmund Freud dan Erik Erikson.[8]
4.      Teori Kognitif
Teori ini menekankan pikiran-pikiran sadar mereka,yang di dasarkan pada asumsi bahwa kemampuan kognitif merupakan sesuatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak. Dengan kemampuan kognitif ini, maka anak di pandang sebagai individu yang secara aktif membangun sendiri pengetahuan mereka tentang dunia. Studi tentang perkembangan kognitif didominasi oleh dua teori, yaitu teori perkembangan kognitif Jean Piaget dan teori pemprosesan informasi.
a.       Teori Perkembangan kognitif dari Jean Piaget
Jean Piaget terkenal dengan teori kognitifnya yang berpengaruh penting terhadap  perkembangan konsep kecerdasan. Psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980 ini pada awalnya lebih tertarik pada bidang biologi dan filsafat khususnya epistemologi. Namun dalam perjalanan karirnya sebagai peneliti di Binet Testing Laboratory di Paris, Piaget lebih fokus pada bidang psikologi Pengertian kognisi sebenarnya meliputi aspek-aspek struktur intelek yang digunakan untuk mengetahui sesuatu. Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif bukan hanya hasil kematangan organisme, bukan pula pengaruh lingkungan semata, melainkan hasil interaksi diantara keduanya. Jean Peaget mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan  penyesuaian (adaptasi).
Faktor yang Berpengaruh dalam Perkembangan Kognitif  yaitu :
1.)      Fisik 
Interaksi antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru, tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.  
2.)      Kematangan
Kematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.
3.)      Pengaruh sosial
Lingkungan sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif
4.)      Proses pengaturan diri yang disebut ekuilibrasi
Proses pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur interaksi spesifik dari individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial dan perkembangan  jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan tersusun baik.[9]


b.      Teori Pemprosesan Informasi
Para pakar psikologi pemprosesan informasi tidak menggambarkan perkembangan dalam tahap-tahap atau serangkaian subtahap tertentu. Sebaliknya mereka lrbih menekankan pentingnya proses-proses kognitif, seperti persepsi, seleksi perhatian, memori, dan strategi kognitif. Teori pemprosesan informasi ini di dasarkan atas tiga asumsi umum:
·         Pikiran di pandang sebagai suatu system penyimpanan dan pengembalian informasi.
·         Individu-individu memproses informasi dari lingkungan.
·         Terdapat keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari seorang individu.[10]
5.      Teori Empirisme
Tokoh utama teori ini adalah Francis Bacon (Inggris 1561-1626) dan John Locke (Inggris 1632-1704), berpandangan bahwa pada dasarnya anak lahir ke dunia; perkembangannya ditentukan oleh adanya pengaruh dari luar, termasuk pendidikan dan pengajaran. Pendidikan atau pengajaran anak pasti berhasil dalam usahanya membentuk lain dari teori ini adalah :
a.    Teori Optimisme (pedagogis optimisme) dengan alasan adanya karena teori ini sangat yakin dan optimis akan keberhasilan upaya pendidikan dalam membina kepribadian anak.
b.    Teori yang berorientasi lingkungan (enviromentalisme), dinamakan demikian karena lingkungan lebih banyak menentukan terhadap corak perkembangan anak.
c.    Teori Tabularasa: karena paham ini mengibaratkan anak lahir dalam kondisi putih bersih seprti meja lilin (tabula/ table = meja; rasa = lilin).
6.      Teori Nativisme
Shopenhauer (Jerman 1788-1860) mengemukakan bahwa anak lahir telah dilengkapi pembawaan bakat alami (kodrat). Dan pembawaan (nativus = pembawaan) inilah yang akan menetukan wujud kepribadian seorang anak. Istilah lain dari aliran ini disebut dengan :
a.    Teori Pesimisme (Pedagogis-pesimistis), karena teori ini menolak, pesimis terhadap pengaruh luar.
b.    Teori Biologisme, disebabkan menitikberatkan pada faktor biologis, faktor keturunan (genetic) dan kostitusi atau keadaan psikolofisik yang dibawa seajak lahir.
7.      Teori Konvergensi
Konvergensi (converg = memusatkan pada satu titik; bertemu). Teori ini penganjur utamanya adalah Williams Stern dibantu istri setianya Clara Stern. Diungkapkan bahwa perkembangan jiwa anak lebih banyak ditentukan oleh dua faktor yang saling menopang. Yakni faktor bakat dan faktor pengaruh lingkungan.
8.      TeoriRekapitulasi
Rekapitulasi (recapitulation) berarti ulangan, yang dimaksudkan bahwa perkembangan jiwa anak adalah hasil ulangan dari perkembangan seluruh jiwa manusia. Seorang manusia akan mengalami tingkatan masa sebagai berikut :
a.    Masa berburu (meramu) sampai umur kurang lebih 8 tahun, rupa kegiatannya antara lain : menangkap binatang, bermain panah, main pistol-pistolan dan lain-lain.
b.    Masa menggembala kurang lebih 8-10 tahun, seorang anak senang memelihara binatang, ikan kambing dan lain-lain.
c.    Masa bertani kurang lebih 10-12 tahun, suka berkebun memelihara dan menanam tanaman, bunga dan lain-lain.
d.   Masa berdagang kurang lebih 12-14 tahun, gemar bermain pasar-pasaran, tukar-menukar perangko, tukar gambar dan lain-lain.
Masa industri 14 tahun keatas, anak mulai mencoba berkarya sendiri, membuat mainan, membuat kandang merpati, dan lain-lain.[11]
9.      Teori Kemungkinan Berkembang
Teori ini disampaikan oleh Dr. M.J. Langeveld salah seorang ilmuan dari Belanda. Teori ini berlandaskan pada alasan-alasan :
a.     Anak adalah makhluk manusia yang hidup
b.    Waktu dilahirkan anak dalam kondisi tidak berdaya, sehingga ia membutuhkan perlindungan.
c.    Dalam perkembangan anak melakukan kegiatan yang bersifat pasif (menerima) dan aktif (eksplorasi).
10.  Teori Interaksionisme
Menurut teori ini, perkembangan jiwa atau perilaku anak banyak ditentukan oleh adanya dialektif dengan lingkungannya. Maksudnya, perkembangan kognitif seorang anak bukan merupakan perkembangan yang wajar, melainkan ditentukan interaksi budaya.[12]
11.  Teori Ekologis
Teori ini memberikan tekanan pada system lingkungan. Tokoh teori ekologis adalah Urie Brofenbrenner yang menggambarkan empat kondisi lingkungan dimana perkembangan akan terjadi, yaitu:
Ø  Mikrosistem, menunjukkan bahwa individu hidup dan saling berhubungan dengan orang lain, yang meliputi keluarga, teman, dan lingkungan sosialnya.
Ø  Mesosistem, menunjukkan hubungan antara dua atau lebih mikrosistem atau hubungan beberapa konteks. Misalnya: hubungan antara rumah dengan sekolah, rumah dengan masjid, dll.
Ø  Ekosistem, individu tidak berpartisipasi aktif, tetapi keputusan penting yang diambil mempunyai dampak terhadap orang-orang yang berhubungan langsung dengannya. Misalnya pemerintahan lokal,
Ø  Makrosistem, pembentukan social dan kebudayaan untuk menjelaskan dan mengorganisir kehidupan yang direfleksikan dalam pola lingkaran mikrosistem, mesosistem, dan ekosistem.[13]
BAB III
SIMPULAN

Dari Pembahasan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa perkembangan tidak terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus-menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangan, dan belajar. Lebih singkatnya perkembangan adalah sebuah perubahan yang cakupannya lebih luas dari pertumbuhan.
Dan untuk lebih memahami perkembangan itu sendiri, pari ahli psikologi merumuskannya ke dalam teori-teori menurut presepsi mereka masing-masing. Di antara teori-teori perkembangan yang utama yakni teori psikoseksual, teori psikodinamika, dan teori kognitif.


















DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Sholeh, Munawar. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
http://www.academia.edu. Diakses tgl 7 maret 2015
Dikutip pada http://belajarpsikologi.com tgl 4 maret 2015
Dikutip pada https://desyandri.wordpress.com tgl 4 maret 2015
Sabri, M. Alisuf. 1993. Pengantar Psikologi Umum&Perkembangan. Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya.
Samsunuwiyati, Mar’at. 2009 Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sujanto, Agus. 1984. Psikologi Perkembangan. Surabaya: Aksara Baru.




[1] M.Alisuf Sabri,Pengantar Psikologi Umum&Perkembangan(Jakarta:Pedoman Ilmu Jaya, 1993), 136-137
[2]Mar’at Samsunuwiyati, Psikologi Perkembangan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), 4

[3] Mar’at Samsunuwiyati, Psikologi Perkembangan, 5
[4] Mar’at Samsunuwiyati, Psikologi Perkembangan, 6
[5] Sujanto, Agus. Psikologi Perkembangan (Surabaya: Aksara Baru, 1984), 253-254
[6] Dikutip pada http://belajarpsikologi.com tgl 4 maret 2015
[7] Dikutip pada https://desyandri.wordpress.com tgl 4 maret 2015
[8] Mar’at Samsunuwiyati, Psikologi Perkembangan, 38
[9] Dikutip pada http://www.academia.edu tgl 7 maret 2015
[10] Mar’at Samsunuwiyati, Psikologi Perkembangan, 49
[11] Ahmadi, Abu dan Sholeh, Munawar. Psikologi Perkembangan (Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2005), 20-22

[12] Ahmadi, Abu dan Sholeh, Munawar. Psikologi Perkembangan, 23
[13] Mar’at Samsunuwiyati, Psikologi Perkembangan, 53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar