BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Banyak bangsa yang masuk Islam dengan berbagai latar belakang
sosial maupun budaya. Ada yang masuk dengan iklas dan ada pula yang didorong
motivasi tertentu.
Perkembangan Islam sangat pesat di zaman Nabi Muhammad dan
khulafaurrasyidien. Pada saat Nabi Muhammad wafat dan pada awal Abu Bakar
menjadi khalifah sudah muncul gerakan menolak ajaran Islam dan kufur dengan
motif ingin melepaskan diri dari kekuasaan Islam, terjadi banyak perselisihan,
munculnya sektarianisme dan perbedaan pandangan politik. Kontak-kontak tersebut
telah mendorong lahirnya khurafat, abatil, dan Israiliyat.
Kemunculan Israiliyat tidak dapat dihindari karena orang-orang
Yahudi sejak dahulu kala berkelana ke arah timur menuju Babilonia dan
sekitarnya serta ke arah barat menuju Mesir. Setelah kembali ke negeri asal,
mereka membawa bermacam-macam berita keagamaan yang dijumpai di negeri-negeri
yang mereka singgahi dan juga para ahli kitab yang masuk Islam yang menceritakan berita berita
lebih detail.
Maka akhirnya, Israiliyat masuk karena para sahabat kurang teliti
dan kurang berhati-hati dalam meriwayatkan Hadis. Berangkat dari kesadaran
itulah maka para tabiien membuat syarat-syarat yang sangat ketat untuk menerima
Hadist.
B.
Rumusan Masalah
Dari
latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.
Apa pengertian Israiliyat?
2.
Bagaimana para ulama menyikapi ayat Israiliyat
C.
Tujuan Pembahasan
Dari
rumusan di atas dapat disimpulkan beberapa tujuan penulisan sebagai berikut:
1.
Memperluas khazanah pengetahuan Israiliyat.
2.
Mengetahui kebenaran Israiliyat.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Israiliyat
Kata israiliyyat adalah bentuk
jama’ dari israiliyyah. Ada beberapa pengertian yang dipakai untuk
menjelaskan arti israilliyat, namun secara umum pengertian israiliyyat
adalah kisah atau berita yang diriwayatkan dari sumber-sumber yang berasal dari
orang Israil. Israil (bahasa Ibraniyah: isra artinya hamba dan il artinya
Tuhan/Allah) itu sendiri merupakan gelar yang diberikan kepada nabi Ya’kub bin
Ishaq bin Ibrahim. Maka Bani Israil adalah sebutan untuk anak keturunan
nabi Ya’kub Nama ini kemudian dihubungkan dengan Yahudi, sehingga
orang-orang Yahudi disebut Bani Israil.
Para
ulama menggunakan istilah israilliyat untuk riwayat yang didapat dari
orang-orang Yahudi dan Nasrani, baik berupa kisah-kisah atau dongengan yang
umumnya berkaitan dengan fakta-fakta sejarah, keadaan umat pada masa lampau dan
berbagai hal yang pernah terjadi pada para nabi dan Rasul, serta informasi
tentang penciptaan manusia dan alam[1]
B.
Perawi Israiliyat dan Obyeknya
Sebelum kajian ini menjadi kajian ilmiyah dikalangan ahli tafsir, dalam
periode periwayatan Hadis dikatakan oleh Ad-Dzahabie bahwa telah masyhur adanya
golongan sahabat, tabiien dan pengikut tabiien yang meriwayatkan cerita
Israiliyat.
Persoalan umum yang dihadapi dalam kajian Israiliyat selalu berhadapan
dengan pemahaman klasik tanpa melakukan kritik, mengambil apa adanya, sehingga
pemahaman kita tentang sahabat yang meriwayatkan Israiliyat terkesan tabu dan
tidak tersentuh.
Di antara golongan sahabat yang masyhur meriwayatkan cerita
Israiliyat ialah:[2]
1.
Abu
Hurairah, beliau banyak mengambil riwayat dari Kaab dan ahli kitab lainnya.
Namun Adz-Dzahabi mengingkari tuduhan
berlebihan yang ditujukan kepada Abu Hurairah.
2.
Abdullah
bin Abbas, ia sering melemparkan persoalan kepada orang yang telah masuk Islam
dari kalangan Ahli Kitab.
3.
Abdullah
bin Amr bin Ash, telah banyak disandarkan kepadanya cerita-cerita Israiliyat
dan sebagaian besar riwayat-riwayatnya telah dinyatakan: Bahwa kemungkinan
diterimanya dari dua sahabat yang didapatkannya pada waktu Perang Yarmuk.
4.
Abdullah
bin Salam cerita-cerita Israiliyat diriwayatkan darinya dan diingkari oleh
sebagian orang yang meragukan apa yang diriwayatkan oleh Muslim seorang Ahli
Kitab. Ia berasal dari Bani Qainuqo, ia adalah tokoh Yahudi yang masuk islam
sejak Nabi saw hijrah ke Madinah. Dengan jujur ia mengatakan bahwa Nabi
Muhammad adalah Nabi, akhir sesuai dengan pengetauhannya dari kitab-kitab
Yahudi dan Nashrani. Setelah masuk
Islam ia dikenal sebagai sahabat Nabi yang melaksanakan perintah Allah.
5.
Tamim
Ad-Daari berasal dari Nasrani, mengetauhi banyak ilmu Nasraniyah dan
berita-beritanya. Disamping itu ia mengetauhi pula kejadian-kejadian dan
peristiwa-peristiwa umat terdahulu.
Diantara golongan tabiien yang masyhur meriwayatkan cerita
Israiliyat ialah:[3]
1.
Kaab
Al-Ahbar, banyak cerita-cerita Israiliyat yang dinisbahkan kepadanya.
2.
Wahab
bin Munabbih, ia telah menyebarkan cerita-cerita Israiliyat dan banyak yang
dinisbahkan kepadanya.
Diantara pengikut tabiien yang masyhur meriwayatkan cerita
Israiliyat ialah:[4]
1.
Muhammad
bin Said al-Kahbi, ia sangat masyhur dalam bidang tafsir dan disamping itu ia
dikenal ahli biografi dan sejarah, maka tidak disangsikan banyak sekali
periwayatan Israiliyat dalam tafsir dan hadisnya.
2.
Abdul
Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, ia orang Romawi yang beragama Nasrani kemudian
masuk Islam, ia mengetauhi prinsip-prinsip ajaran Masehi dan cerita-cerita
Israiliyat.
3.
Muqatil
bin Sulaiman, masyhur di bidang tafsir, ia dianggap memiliki cacat yang tidak
dimiliki ulama lainnya di zamannya.
4.
Muhammad
bin Marwan as-Su’udi, ia adalah murid Muhammad bin Said Al-Kalbi, Bukhari tidak
menuliskan hadisnya dan ulama lain bersikap diam terhadapnya.
C.
Macam-macam Israiliyat
1.
Ditinjau dari riwayatnya cerita, Israiliyat dibagi dua
diantaranya adalah:
a.
Cerita Shahih, contohnya: seperti cerita israiliyat yang
datang membenarkan apa yang ada dalam al-Qur’an me-ngenal sifat‑sifat Nabi
Muhammad SAW. Allah SWT berfirman: "Hai Nabi, sesungguhnva Kami
mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan
untuk menjadi cahaya yang mene-rangi”. (QS. Al-Ahzab: 45‑46) Sifat‑sifat
ini telah disebutkan dalam Taurat dan para penelaah Taurat telah menyatakan
secara terus terang mengenal hal itu. Al Bukhari meriwayatkan dari Atha’ bin
Yasar bahwa ia telah bertemu dengan Abdullah bin Amr, lalu ia berkata
kepadanya, “beritahukan kepadaku tentang sifat Nabi SAW dalam Taurat.
Abdullah berkata, “baik” demi Allah, beliau tersifat dalam Taurat seperti
sifatnva dalam al-Qur’an, “wahai Nabi, sesungguhnya…, bukan sebagai orang
yang berperangai kasar dan bukan berwatak keras. Allah SWT tidak akan
mencabut nyawanya sehingga dengannya ia meluruskan agama yang bengkok dengan
menga-takan, tiada ada Ilah kecuali Allah, dengannya ia membuka hati yang
tertutup, telinga yang tuli dan mati (hati) yang buta.
Atha’ berkata “saya telah bertemu Ka’ab, lalu
saya menanyainya tentang hal itu, maka tidaklah ia (Ka’ab: sahabat
mantan Yahudi) menyalahi satu huruf pun (dalam menyifati Nabi sebagaimana dalam
Taurat dan dalam al-Qur’an.
b.
Cerita Dhaief, contohnya: atsar yang diriwayatkan oleh
Al-Razi dan dinukil oleh Ibnu Katsir QS. Qaf: 50, ia berkata: “Sesungguhnya
atsar tersebut adalah atsar gharib dan tidak shahih, ia menganggapnya sebagai
cerita khurafat Bani Israil”.[5]
2.
Ditinjau dari syariat Islamiyah, Ibnu Katsir membagi
Israiliyat menjadi tiga diantaranya adalah:
a.
Khabariyah al-shidqu, Israiliyat yang bisa dibenarkan isinya, yaitu apabila
isinya sesuai dengan kandungan al-Qur’an dan sunnah Nabi, beritanya tidak
bertentangan dengan dalil naqli dan aqli. Sebab al-Qur’an adalah kitab Allah
yang menjadi saksi atas kitab-kitab samawi sebelumnya. QS. al-Maidah 5: 48-49.Apa
yang ditetapkan oleh Islam dan dinyatakan kebenarannya maka ia benar, seperti
yang diriwayatkan oleh Bukhori dan selainnya dari Ibnu Masud ra berkata,”Telah
datang seorang pendeta Yahudi kepada Rasulullah saw dan mengatakan,’Wahai
Muhammad, sesungguhnya kami mendapatkan bahwa Allah menjadikan langit diatas
jari-jemari dan seluruh makhluk diatas jari-jemari kemudian mengatakan,’Aku
adalah Raja.’ Maka Nabi saw tertawa sehingga tampak gigi grahamnya
membenarkan perkataan pendeta itu dan membaca firman Allah : “Dan mereka tidak
mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya
dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan
kanan-Nya.. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka
persekutukan (QS. Az Zumar : 67)”
وَمَا
قَدَرُوْا اللّٰهَ حَقَّ قَدۡرِهٖ ۖ وَالۡاَرۡضُ
جَمِيۡعًا قَبۡضَتُهٗ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطۡوِيّٰتٌۢ بِيَمِيۡنِهٖ
ؕ سُبۡحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشۡرِكُوۡنَ
“Dan mereka
tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi
seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan
tangan kanan-Nya . Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka
persekutukan”[6]
b.
Khabar al-kidzbu, Israiliyat yang jelas isinya bertentangan dengan
al-Qur’an dan sunnah atau jelas kebohongannya dan kekhurafatannya. Yang serupa
ini harus dijauhi sesuai dengan anjuran Nabi dan para sahabat.seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Jabir
berkata,”Dahulu orang-orang Yahudi mengatakan,’Apabila seseorang menyetubuhi
isteri dari belakang maka anaknya akan juling, maka turunlah
ayat,’Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam.” (QS. Al Baqoroh : 223)
نِسَآؤُكُمۡ
حَرۡثٌ۬ لَّكُمۡ فَأۡتُواْ حَرۡثَكُمۡ أَنَّىٰ شِئۡتُمۡۖ وَقَدِّمُواْ
لِأَنفُسِكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّڪُم مُّلَـٰقُوهُۗ
وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
“Isteri-isterimu
adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat
bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang
baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu
kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”[7]
c.
Khabar al-Shidqu wal kidzbu, Israiliyat yang tidak diketauhi benar dan tidaknya. Yang
serupa ini tidak perlu diyakini atau didustakan. Sikap ini sesuai dengan
riwayat Abu Hurairah: ia berkata “Orang ahli kitab itu membaca kitab Taurat
dengan bahasa Ibrani, lalu menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada orang
Islam. Maka Rasulullah saw bersabda: Jangan percaya kepada ahli kitab dan
jangan mendustakan mereka,tetapi katakan: Kami percaya kepada Allah, kepada apa
yang diturunkan kepada kamu sekalian”(HR Shahih Bukhari).[8]surat Kahfi ayat 94 yang berbunyi,mereka berkata: Hai Dzul
Qarnain! Sesungguhnya Ya;juz dan Ma’juz itu perusak besar Dwimuka
bumi.Ath-thabari menyebutkan riwayat dengan isnad yang mengatakan: “telah
menceritakan kepada kami Humaid,ia berkata: telah menceritakan kepada kami
Salamah,ia berkata : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq yang
berkata: telah menceritakan kepada kami salah seorang ahli kitab yang telah
masuk islam, yang suka menceritakan cerita-cerita asing : Dari warisan-warisan
cerita yang diperoleh dikatakan bahwa Dzul Qarnain adalah seorang penduduk Mesir.
Nama lengkapnya Mirzaban bin Murdhiyah, bangsa Yunani,keturunan Yunan bin Yafit
bin Nuh dan seterusnya.Dengan metode demikian Ath-thabari banyak memasukkan
riwayat israiliyat ke dalam kitab tafsirnya.[9]
D.
Kitab Tafsir yang Banyak Meriwayatkan Israiliyat
1.
Jami’ Al-Bayan
Fit Tafsir Al-Qur’an ( Al-Thabari)
Arti judul kitab ini adalah “Keterangan
lengkap tentang tafsir al-qur’an”. Tafsir ini disusun oleh Ibnu Jarir A-Thabari
( 224-310 H ) seorang yang terkenal dalam fiqih dan hadist, disamping ahli
tafsir. Beliau dikenal sebagai bapak tafsir dan tarikh islam.[10]
Namun, harus dicatat bahwa karya ulama ini banyak terjerumus dalam kesalahan,
karena ia sering menyebutkan dalam tafsirnya riwayat-riwayat israiliyat yang
sering disandarkan kepada Ka’b Al Ahbar. Kitab tafsir ini memiliki
riwayat-riwayat yang lemah , terkesan tertolak dan dhaif. [11]
2.
Tafsir Muqatil (
Muqatil Bin Sulaiman )
Tafsir ini ditulis oleh Muqatil
Bin Sulaiman ( Wafat 150 H ). Tafsir ini adalah tafsir yang banyak mengemukakan
cerita israiliyat namun tidak menyebutkan sanad-sanadnya sama sekali serta
tanpa diberi penjelasan. Al-Dzahabi menemukan kejanggalan dalam tafsir ini,
karena hanya sedikit saja yang diberikan isnad oleh Muqatil. Contohnya yang
diceritakan dalam tafsir ini merupakan bagian bagian dari cerita khufarat.
3.
Al-Kasyfu ‘An
Bayani Tafsir Al-Qur’an ( Al-Tsa’labi )
Penulis
tafsir ini adalah Ibn Ibrahim al-Tsa’labi al-Naisaburi yang sering dipanggil
dengan Abu Ishaq ( wafat 427 H ). Ia menafsirkan al-qur’an berdasarkan hadist
yang bersumber dari ulama salaf. Akan tetapi dalam menukilkan sanad hadist, ia
tidak mencantumkannya secara lengkap. Tafsir ini membahas nahwu dan fiqih.
Karena beliau seorang pemberi nasehat, maka tidak salah beliau menyukai
cerita-cerita. Oleh sebab itu dalam kitab ini banyak sekali yang janggal dan
menjurus pada ketidakbenaran riwayat.
4.
Tafsir Ma’alim
al-Tanzil
Tafsir ini ditulis oleh Syech Abu
Muhammad al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad al-Baghawiy. Menurut Ibn Taimiyah,
tafsir ini merupakan tafsir dari
ringkasan karya al-Tsa’labiy, akan tetapi ia menjaga tafsirnya dari
hadist-hadist maudhu’ dan pendapat
yang bid’ah. Namun menurut
al-Dzahabi, tafsir ini justru banyak mengandung kebatilan.
5.
Lubab At-Ta’wil
Fi Ma’ani Al-Tanzil
‘Ala al-Din al-Hasan Ali ibn
Muhammad ibn Ibrahim Ibn Amr ibn Khalil al-Syaibiy ( 678-741 H ) adalah penulis dari tafsir
ini. Sebagai seorang sufi yang senang member nasehat, maka tidak heran ia
banyak menelaah buku-buku di damaskus, sehingga bacaannya akan kitab-kitab
tersebut mempengaruhi tulisannya. Kitab
tafsir ini juga menukil cerita israiliyat dari tafsir al-Tsa’labi. Dalam
menukilkan israiliyat tersebut, ia tidak member komentar apa-apa dan tidak
mengkritik apapun cerita-cerita yang janggal dan irrasional dari cerita itu,
serta tidak mempersoalkan sanad-sanad dari hadist yang dikemukakannya
6.
Tafsir Al-Qur’an
Al-‘Azim ( Ibnu Katsir )
Tafsir ini populer dengan sebutan tafsir
Ibn Katsir, yang merupakan nama terakhir yang dinisbahkan kepada pengarangnya,
yaitu Ibn Katsir. Kitab ini dipandang kitab tafsir kedua setelah al-Thabariy.
Pengarangnya selalu memperhatikan riwayat-riwayat ahli tafsir salaf. Disampinmg
itu, ia juga membicarakan kerajihan hadist dan atsar serta menolak
riwayat-riwayat yang munkar. Perbedaannya dengan at-Thabariy adalah bahawa
tafsir Ibn Katsir ini selalu mengingatkan para pembaca akan keganjilan dan
kemunkaran cerita-cerita israiliyat dalam tafsir bi al-Ma’tsur. Karena Ibn
Katsir juga seorang sejarawan, maka hal itu sangat menolongnya dalam menyeleksi
berita-berita, cerita-cerita serta dongeng-dongeng israiliyat. Sebagian cerita
dikritik,dikomentari dan dikemukakan kebathilannya.[12]
7.
Ruh Al-Ma’ani Fi
Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azim Wa Sab’il Masani (Al-Alusi )
Kitab tafsir ini adalah kitab yang
ditulis oleh Abu Sana’ Syihab al-Din al-Sayyid Mahmud Afandi al-Alusi
Al-Baghdadi. Beliau sangat selektif dan kritis terhadap pengambilan
riwayat-riwayat israiliyat. Dikarenakan beliau menekuni disiplin ilmu hadist
dan banyak bergaul dengan para ulama ahli hadist muta’akhirin. Adapun ketika
beliau menuliskan riwayat yang maudhu’
itu tidak lain supaya menunjukkan kebathilan riwayat tersebut.[13]
E.
Sikap Terhadap Informasi Israiliyat
Seperti yang
kita ketahui bahwa yang menjadi latar belakang adanya ayat israiliyat adalah
adanya pencampuran budaya (akulturasi) orang Yahudi yang telah masuk Islam pada
masa itu, sehingga menimbulkan sesuatu hal yang canggung dan berbeda. Yang
memegang teguh cerita agama mereka sebelumnya dan terbawa hingga mereka masuk Islam. Selain itu pengaruh israiliyat bisa terjadi
karena budaya arab pada masa itu lebih suka menghafal daripada menulis.[14]
Hukum meriwayatkan israiliyat adalah
boleh-boleh saja, selama sesuai dengan agama islam. Kita tidak boleh secara
cepat mengatakan riwayat itu salah sebelum kita mengobservasi kebenarannya.
Sebagaimana Hadist berikut:
“
Bila dikisahkan kepadamu tentang ahli kitab janganlah dibenarkan dan jangan
pula didustakan “
Maksud dari hadist di atas, kita harus
mengetahui kebenaran riwayat dan kemudian dijadikan pegangan jia benar.[15]
Sikap ini disebut dengan sikap tawaqquf.
“Sampaikanlah
dariku walaupun satu ayat dan tidak mengapa kalian menceritakan tentang bani
israil. Barang siapa sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah dia menyiapkan
tempat duduknya di neraka” (HR.Al-Bukhori)
Dalam kebanyakan israiliyat, kisah
mereka tidak bermanfaat untuk urusan agama, seperti penentuan warna anjing ashabul kahfi dan yang lainnya.[16]
Adapun alasan
kenapa israiliyat dilarang dalam tafsir al-qur’an karena ada yang beranggapan
bahwa kaum yahudi itu telah sesat dalam urusan agama mereka apalagi jika
mengurusi agama islam, bukankah mereka akan menjadikan sesat kepada umat islam.
Oleh
sebab itu menanyakan urusan agama kepada ahli kitab adalah haram.
Pendapat
dan sikap ulama terhadap israiliyat
1.
Ibnu Taimiyah
Beliau bertolak pada tiga klasifikasi ayat
israiliyat yang antara lain :
a.
Israiliyat yang
masuk dalam bagian yang sejalan dengan Islam
perlu dibenarkan dan perlu diriwayatkan.
b.
Israiliyat yang
tidak sejalan dengan Islam
harus ditolak dan tidak boleh diriwayatkan.
c.
Israiliyat yang
tidak termasuk pada poin kesatu maupun kedua tidak boleh dibenarkan akan tetapi
juga tidak boleh disalahkan.
2.
Allamah Ahmad
Muhammad Syakir
Beliau
mengomentari israiliyat dalam bukunya yang berjudul Umdah at-Tafsir, “ Boleh mengambil berita dari mereka ( yang tidak
adil atas kebenaran dan dustanya pada kita ) adalah satu hal, sedangkan
mengutip hal itu dalam tafsir al-qur’an dan menjadikannya sebagai suatu pendapat
atau riwayat dalam memahami makna ayat-ayat al-qur’an, atau menentukan sesuatu
yang tidak ditentukan di dalamnya, adalah hal lain. Ini
karena dengan mengutip hal seperti itu disamping kalam Allah SWT dapat memberi
kesan bahwa berita yang tidak tahu kebenaran dan dustanya itu adalah penjelas
makna firman Allah Swt dan menjadi pemerinci apa yang global di dalamnya.
3.
Ibn Khaldun
Dalam muqaddimahnya diperbolehkan
merujuk kepada ahli kitab. Keterangannya tersebut diungkapkan dengan redaksi
sebagai berikut, tafsir itu terbagi
menjadi dua macam. ( salah satunya adalah tafsir naqli yang disandarkan kepada
riwayat-riwayat yang dinukil dari kaum salaf ). Berita yang dinukil kaum salaf
biasanya adalah nasikh, mansukh, asbab an-nuzul, maksud beberapa ayat, dan segala
sesuatu yang tidak bisa diketahui kecuali melalui riwayat dari generasi sahabat
dan tabi’in.
4.
Muhammad Abduh
Beliau salah satu orang yang sering
mengkritik mufassir generasi pertama yang menggunakan israiliyat sebagai tafsir
al-qur’an. Bahkan salah satu penulisan tafsirnya adalah untuk menghindari
kebiasaan ulama tafsir itu. Beliau menolak keabsahan ulama tafsir generasi
pertama yang menghubungkan al-qur’an dengan israiliyat.
5.
Muhammad Rasyid
Ridha dan Musthofa al-Maraghi
Mereka
adalah murid dari Muhammad Abduh juga melontarkan kritik yang sama dengan
gurunya tersebut yang pada intinya mengatakan bahwa riwayat israiliyat telah
menyimpang dan tidak sesuai dengan islam.
6.
Ibnu Ma’sud
Beliau
dalam menanggapi israiliyat mengeluarkan kritik “ Jangan tanyakan kepada ahli
kitab tentang tafsir, karena mereka tidak dapat membimbing ke arah yang benar
dan mereka sendiri berada dalam kesalahan. “[17]
7.
Ibnu Abbas RA
Al-Bukhori
meriwayatkan dari Ibn Abbas RA, bahwa Rasulullah berkata: “
Wahai kaum muslimin! Bagaimana kalian bisa bertanya sesuatu kepada ahlul kitab
sedangkan al-qur’an yang Allah Azza wa jalla turunkan kepada nabi kalian telah
menceritakan sesuatu yang benar dan murni tentang Allah azza wa jalla. Allah
Azza wa Jalla telah memberitahukan kepada kalian bahwa ahlul kitab telah
mengganti dan merubah isi al-kitab kemudian mereka menulisnya sendiri dengan
tangan-tangan mereka lalu mereka mengatakan” ini datangnya dari Allah” ….[18]
8.
Imam Ahmad.[19]
Sebagaimana
yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir bin Abdillah Ra Rasulullah
mengatakan:
“ jangan
kalian bertanya kepada ahlul kitab karena mereka tidak akan memberi petunjuk bagi kalian dan sungguh mereka
telah tersesat, karena bisa jadi kalian akan membenarkan sesuatu yang bathil
atau mendustakan yang haq. Seandainya Musa As hidup diantara kalian, maka tidak
halal baginya kecuali mengikutiku.”
9.
Al-Baghawi
Beliau
dalam menyikapi israiliyat tentang tafsir
at-Tsalabi menjelaskan bahwa, israiliyat tidak pencari kayu bakar pada
malam hari, mengumpulkan semua yang di dapat dalam buku tafsir, baik shahih,
dhaif, maupun maudhu’.[20]
10.
Ibnu Katsir
Beliau
adalah seorang ahli fiqih, ahli hadist,sejarawan ulung dan mufasir yang
sempurna. Nama lengkapnya Ismail bin ‘Amr al-Quraisy bin Kasir al-Basri
ad-Dimasyqi ‘Imaduddin Abul Fida’ al-Hafiz al-Muhaddis asy-syafi’i. Wafat pada
774 H. [21]
Pandangannya mengacu pada hadist :
“berceritalah dari kaum israil, tidak ada dosa (bagi
kalian)”
Beliau membolehkan
riwayat yang yang rasional, adapun kisah-kisah yang tidak rasional dan diduga
keras dustanya tidak diperbolehkan sesuai dengan hadist yang dijadikan acuan.[22]
F.
Pengaruh Israiliyat dalam Tafsir Al-Qur’an
Dampak
negatif israiliyat dalam tafsir al-qur’an
Menurut Al-Dzahabi dampak negatif apabila israiliyat
dimasukan kedalam tafsir adalah :
1.
Dalam israiliyat
terdapat unsur penyerupaan pada Allah, peniadaan pada Nabi dan Rasul dari
dosa,karena mengandung unsure tuduhan perbuatan buruk yang tidak pantas bagi
orang yang adil,terlebih sebagai nabi.
2.
Israiliyat akan
memberikan kesan bahwa islam seolah mengandung khufarat dan penuh dengan kebohongan yang tidak ada sumbernya dan
ini sudah jelas akan memojokkan dan merusak citra islam.
3.
Israiliyat
menghilangkan kepercayaan kepada ulama salaf, baik dari kalangan sahabat maupun
kalangan tabi’in.
4.
Israiliyat dapat
memalingkan manusia dari maksud dan tujuan alqur’an.[23]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Israiliyat adalah
berita-berita yang diceritakan Ahli kitab yang masuk Islam.Cerita Israiliyat
ini sebagaian besar diriwayatkan dari empat orang; Abdullah bin Salam, Ka’bul
Ahbar, Wahb bin Munabbih dan Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Jurraij. Cerita
israiliyat ada yang benar dan ada yang tidak benar.Kita tidak boleh menyalahkan
dan membenarkan juga.
Namun semuanya
dikembalikan lagi kepada individu apakah membolehkan ataupun tidak membolehkan
Israiliyat itu sendiri. Pada era perkembangan awal Islam memang masalah kultur
agama yang campur antara Yahudi dan Islam sangat banyak.Apalagi di Madinah yang
pada saat itu berhubungan langsung dengan Islam.Namun dalam era mufasir modern
seperti Muhammad Abduh tidak membolehkan Israiliyat karena tidak sesuai dengan
Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Hamid,
Shalahuddin. 2002. Study Ulumul qur’an. Jakarta: PT Intimedia Ciptanusantara
Khalid,
M.Rusydi. 2011. mencermati israiliyat dalam kitab-kitab tafsir.
AL-FIKR volume 15 nomer 2
Syihabbudin, Sayyid Mahmud al-Alusi al-Baghdadi. Ruhul Ma’ani Fi
Tafsiril Qur’an al-Adhim Was-sab’il Matsani. Beirut-Lebanon: Daru Ihya’it
Turots Al-Arobi, 1981.
Al-qur’an
dan terjemah DEPAG RI tahun 1985-1986
Ismail, Nurjannah, Perempuan Dalam Pasungan Bias Laki-laki dalam
penafsiran,(Yogyakarta:LKIS,2003)
Alfiah, Nur. Israiliyat dalam Tafsir
At-Thabari dan Ibnu Katsir. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah (Skripsi),
2010.
Abu Bakar, Bahrun dkk. Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 . Bandung:
Sinar Baru Algesindo, 2000.
Khalid, M.Rusydi. Mencermati Israiliyat Dalam Kitab-Kitab Tafsir. Makasar: AL-FIKR Volume 15 no.2, 2011.
www.fiqihkontemporer.com (diakses 2 oktober 2014)
www.uin-alauddin.ac.id (diakses 2 oktober 2014)
www.konsultasisyariah.com (ditulis 22 juni 2012, diakses 10 oktober 2014)
www.aliboron.wordpress.com (diakses 10 oktober 2014)
www.asysyariah.com (ditulis 14 november 2011, diakses 10 oktober 2014)
www.replubika.co.id (diakses 10 oktober 2014)
www.kompasiana.com (ditulis 23 Desember 2012, diakses 2 Oktober 2014)
www.almuslimah.wordpress.com ( diakses 10 oktober 2014)
www.eramuslim.com ( diakses 11 oktober 2014)
[1]
Ahmad Zuhri, Risalah Tafsir: Berinteraksi dengan al-Qur’an Versi Imam
Al-Ghazali (Bandung: Cita Pustaka Media,2007), hal. 135
[2]
Shalahuddin Hamid, Study Ulumul qur’an, (Jakarta: PT Intimedia
Ciptanusantara,2002), h.353
[3]
Shalahuddin Hamid, Study Ulumul qur’an, (Jakarta: PT Intimedia
Ciptanusantara,2002), h.354
[4]
Shalahuddin Hamid, Study Ulumul qur’an, (Jakarta: PT Intimedia
Ciptanusantara,2002), h.354
[5]
Shalahuddin Hamid, Study Ulumul qur’an, (Jakarta: PT Intimedia
Ciptanusantara,2002), h.351
[6]
www.eramuslim.com diakses tgl 11
oktober 2014
[7]
www.eramuslim.com diakses tgl 11 oktober 2014
[9]
Ismail, Nurjannah, Perempuan Dalam Pasungan Bias Laki-laki dalam
,(Yogyakarta:LKIS,2003) hal 92
[10] Ahmad
Hamdani,”Jami’ul Bayan Fi Tafsiril Qur’an” (asysyariah.com 14 november 2011,
diakses 10 oktober 2014)
[11] M.Rusydi
Khalid, “Mencermati israiliyat dalam kitab-kitab tafsir” AL-FIKR volume 15 no 2 tahun 2011,162-163
[12] M.Rusydi
Khalid, “Mencermati Israiliyat dalam Kitab-Kitab
Tafsir” AL-FIKR volume 15 no 2
tahun 2011,163
[14]
Republika.co.id diakses 10 oktober 2014 ,Ensiklopedia Hukum islam
[15]
Depag RI 1985-1986, Al-Qur’an dan terjemah., 31
[16]
Muhammad bin shalih,” Kisah-Kisah israiliyat dalam pandangan islam ”
(almuslimah.wordpress.com diakses 10 oktober 2014)
[17] Nur
Alfiah Skripsi S1,”Israiliyat dalam tafsir at-Thabari dan Ibn Katsir”
(Jakarta:UIN SYARIF HIDAYATULLAH, 2010) h. 59-61
[18]
Aliboron.wordpress.com “ israiliyat “ diakses 10 oktober 2014
[19]
Muhammad bin shalih,” Kisah-Kisah israiliyat dalam pandangan islam ”
(almuslimah.wordpress.com diakses 10 oktober 2014)
[20]
Ammi Nur Baits “Apa itu israiliyat?” (konsultasisyariah.com 22 juni 2012
diakses 10 oktober 2014)
[22]
Tafsir ibnu Katsir juz 1.
Kata pengantar penerjemah
[23]
Greatquranhadis.wordpress.com diakses 10 oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar