Pages

Sabtu, 10 Oktober 2015

Makalah Israiliyat



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Banyak bangsa yang masuk Islam dengan berbagai latar belakang sosial maupun budaya. Ada yang masuk dengan iklas dan ada pula yang didorong motivasi tertentu.
Perkembangan Islam sangat pesat di zaman Nabi Muhammad dan khulafaurrasyidien. Pada saat Nabi Muhammad wafat dan pada awal Abu Bakar menjadi khalifah sudah muncul gerakan menolak ajaran Islam dan kufur dengan motif ingin melepaskan diri dari kekuasaan Islam, terjadi banyak perselisihan, munculnya sektarianisme dan perbedaan pandangan politik. Kontak-kontak tersebut telah mendorong lahirnya khurafat, abatil, dan Israiliyat.
Kemunculan Israiliyat tidak dapat dihindari karena orang-orang Yahudi sejak dahulu kala berkelana ke arah timur menuju Babilonia dan sekitarnya serta ke arah barat menuju Mesir. Setelah kembali ke negeri asal, mereka membawa bermacam-macam berita keagamaan yang dijumpai di negeri-negeri yang mereka singgahi dan juga para ahli kitab yang masuk Islam yang menceritakan berita berita lebih detail.
Maka akhirnya, Israiliyat masuk karena para sahabat kurang teliti dan kurang berhati-hati dalam meriwayatkan Hadis. Berangkat dari kesadaran itulah maka para tabiien membuat syarat-syarat yang sangat ketat untuk menerima Hadist.

B.  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian Israiliyat?
2.      Bagaimana para ulama menyikapi ayat Israiliyat

C.  Tujuan Pembahasan
Dari rumusan di atas dapat disimpulkan beberapa tujuan penulisan sebagai berikut:
1.    Memperluas khazanah pengetahuan Israiliyat.
2.    Mengetahui kebenaran Israiliyat.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Israiliyat
Kata israiliyyat adalah bentuk jama’ dari israiliyyah. Ada beberapa pengertian yang dipakai untuk menjelaskan arti israilliyat, namun secara umum pengertian  israiliyyat adalah kisah atau berita yang diriwayatkan dari sumber-sumber yang berasal dari orang Israil. Israil (bahasa Ibraniyah: isra artinya hamba dan il artinya Tuhan/Allah) itu sendiri merupakan gelar yang diberikan kepada nabi Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim. Maka  Bani Israil adalah sebutan untuk anak keturunan nabi Ya’kub  Nama ini kemudian dihubungkan dengan Yahudi, sehingga orang-orang Yahudi disebut Bani Israil.
           Para ulama menggunakan istilah israilliyat untuk riwayat yang didapat dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, baik berupa kisah-kisah atau dongengan yang umumnya berkaitan dengan fakta-fakta sejarah, keadaan umat pada masa lampau dan berbagai hal yang pernah terjadi pada para  nabi dan Rasul, serta informasi tentang penciptaan manusia dan alam[1]

B.     Perawi Israiliyat dan Obyeknya
Sebelum kajian ini menjadi kajian ilmiyah dikalangan ahli tafsir, dalam periode periwayatan Hadis dikatakan oleh Ad-Dzahabie bahwa telah masyhur adanya golongan sahabat, tabiien dan pengikut tabiien yang meriwayatkan cerita Israiliyat.
Persoalan umum yang dihadapi dalam kajian Israiliyat selalu berhadapan dengan pemahaman klasik tanpa melakukan kritik, mengambil apa adanya, sehingga pemahaman kita tentang sahabat yang meriwayatkan Israiliyat terkesan tabu dan tidak tersentuh.
Di antara golongan sahabat yang masyhur meriwayatkan cerita Israiliyat ialah:[2]
1.    Abu Hurairah, beliau banyak mengambil riwayat dari Kaab dan ahli kitab lainnya. Namun Adz-Dzahabi mengingkari  tuduhan berlebihan yang ditujukan kepada Abu Hurairah.
2.    Abdullah bin Abbas, ia sering melemparkan persoalan kepada orang yang telah masuk Islam dari kalangan Ahli Kitab.
3.    Abdullah bin Amr bin Ash, telah banyak disandarkan kepadanya cerita-cerita Israiliyat dan sebagaian besar riwayat-riwayatnya telah dinyatakan: Bahwa kemungkinan diterimanya dari dua sahabat yang didapatkannya pada waktu Perang Yarmuk.
4.    Abdullah bin Salam cerita-cerita Israiliyat diriwayatkan darinya dan diingkari oleh sebagian orang yang meragukan apa yang diriwayatkan oleh Muslim seorang Ahli Kitab. Ia berasal dari Bani Qainuqo, ia adalah tokoh Yahudi yang masuk islam sejak Nabi saw hijrah ke Madinah. Dengan jujur ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi, akhir sesuai dengan pengetauhannya dari kitab-kitab Yahudi dan Nashrani. Setelah masuk Islam ia dikenal sebagai sahabat Nabi yang melaksanakan perintah Allah.
5.    Tamim Ad-Daari berasal dari Nasrani, mengetauhi banyak ilmu Nasraniyah dan berita-beritanya. Disamping itu ia mengetauhi pula kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa umat terdahulu.
Diantara golongan tabiien yang masyhur meriwayatkan cerita Israiliyat ialah:[3]
1.    Kaab Al-Ahbar, banyak cerita-cerita Israiliyat yang dinisbahkan kepadanya.
2.    Wahab bin Munabbih, ia telah menyebarkan cerita-cerita Israiliyat dan banyak yang dinisbahkan kepadanya.


Diantara pengikut tabiien yang masyhur meriwayatkan cerita Israiliyat ialah:[4]
1.    Muhammad bin Said al-Kahbi, ia sangat masyhur dalam bidang tafsir dan disamping itu ia dikenal ahli biografi dan sejarah, maka tidak disangsikan banyak sekali periwayatan Israiliyat dalam tafsir dan hadisnya.
2.    Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, ia orang Romawi yang beragama Nasrani kemudian masuk Islam, ia mengetauhi prinsip-prinsip ajaran Masehi dan cerita-cerita Israiliyat.
3.    Muqatil bin Sulaiman, masyhur di bidang tafsir, ia dianggap memiliki cacat yang tidak dimiliki ulama lainnya di zamannya.
4.    Muhammad bin Marwan as-Su’udi, ia adalah murid Muhammad bin Said Al-Kalbi, Bukhari tidak menuliskan hadisnya dan ulama lain bersikap diam terhadapnya.

C.      Macam-macam Israiliyat
1.    Ditinjau dari riwayatnya cerita, Israiliyat dibagi dua diantaranya adalah:
a.    Cerita Shahih, contohnya: seperti cerita israiliyat yang datang membenarkan apa yang ada dalam al-Qur’an me-ngenal sifat‑sifat Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman: "Hai Nabi, sesungguhnva Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang mene-rangi”. (QS. Al-Ahzab:  45‑46) Sifat‑sifat ini telah disebutkan dalam Taurat dan para penelaah Taurat telah menyatakan secara terus terang mengenal hal itu. Al Bukhari meriwayatkan dari Atha’ bin Yasar bahwa ia telah bertemu dengan Abdullah bin Amr, lalu ia berkata kepadanya, “beritahukan kepadaku tentang sifat Nabi SAW dalam Taurat. Abdullah berkata, “baik” demi Allah, beliau tersifat dalam Taurat seperti sifatnva dalam al-Qur’an, “wahai Nabi, sesungguhnya…, bukan sebagai orang yang berperangai kasar dan bukan berwatak keras. Allah SWT tidak akan mencabut nyawanya sehingga dengannya ia meluruskan agama yang bengkok dengan menga-takan, tiada ada Ilah kecuali Allah, dengannya ia membuka hati yang tertutup, telinga yang tuli dan mati (hati) yang buta.
Atha’ berkata “saya telah bertemu Ka’ab, lalu saya menanyainya tentang hal itu, maka tidaklah ia (Ka’ab: sahabat mantan Yahudi) menyalahi satu huruf pun (dalam menyifati Nabi sebagaimana dalam Taurat dan dalam al-Qur’an.
b.    Cerita Dhaief, contohnya: atsar yang diriwayatkan oleh Al-Razi dan dinukil oleh Ibnu Katsir QS. Qaf: 50, ia berkata: “Sesungguhnya atsar tersebut adalah atsar gharib dan tidak shahih, ia menganggapnya sebagai cerita khurafat Bani Israil”.[5]
2.    Ditinjau dari syariat Islamiyah, Ibnu Katsir membagi Israiliyat menjadi tiga diantaranya adalah:
a.    Khabariyah al-shidqu, Israiliyat yang bisa dibenarkan isinya, yaitu apabila isinya sesuai dengan kandungan al-Qur’an dan sunnah Nabi, beritanya tidak bertentangan dengan dalil naqli dan aqli. Sebab al-Qur’an adalah kitab Allah yang menjadi saksi atas kitab-kitab samawi sebelumnya. QS. al-Maidah 5: 48-49.Apa yang ditetapkan oleh Islam dan dinyatakan kebenarannya maka ia benar, seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan selainnya dari Ibnu Masud ra berkata,”Telah datang seorang pendeta Yahudi kepada Rasulullah saw dan mengatakan,’Wahai Muhammad, sesungguhnya kami mendapatkan bahwa Allah menjadikan langit diatas jari-jemari dan seluruh makhluk diatas jari-jemari kemudian mengatakan,’Aku adalah Raja.’ Maka Nabi saw tertawa sehingga tampak gigi grahamnya membenarkan perkataan pendeta itu dan membaca firman Allah : “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan (QS. Az Zumar : 67)”
وَمَا قَدَرُوْا اللّٰهَ حَقَّ قَدۡرِهٖ ‌ۖ  وَالۡاَرۡضُ جَمِيۡعًا قَبۡضَتُهٗ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطۡوِيّٰتٌۢ بِيَمِيۡنِهٖ‌ ؕ سُبۡحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشۡرِكُوۡنَ‏
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya . Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan”[6]
b.    Khabar al-kidzbu, Israiliyat yang jelas isinya bertentangan dengan al-Qur’an dan sunnah atau jelas kebohongannya dan kekhurafatannya. Yang serupa ini harus dijauhi sesuai dengan anjuran Nabi dan para sahabat.seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Jabir berkata,”Dahulu orang-orang Yahudi mengatakan,’Apabila seseorang menyetubuhi isteri dari belakang maka anaknya akan juling, maka turunlah ayat,’Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam.” (QS. Al Baqoroh : 223)
نِسَآؤُكُمۡ حَرۡثٌ۬ لَّكُمۡ فَأۡتُواْ حَرۡثَكُمۡ أَنَّىٰ شِئۡتُمۡ‌ۖ وَقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُمۡ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّڪُم مُّلَـٰقُوهُ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”[7]
c.    Khabar al-Shidqu wal kidzbu, Israiliyat yang tidak diketauhi benar dan tidaknya. Yang serupa ini tidak perlu diyakini atau didustakan. Sikap ini sesuai dengan riwayat Abu Hurairah: ia berkata “Orang ahli kitab itu membaca kitab Taurat dengan bahasa Ibrani, lalu menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada orang Islam. Maka Rasulullah saw bersabda: Jangan percaya kepada ahli kitab dan jangan mendustakan mereka,tetapi katakan: Kami percaya kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kamu sekalian”(HR Shahih Bukhari).[8]surat Kahfi ayat 94 yang berbunyi,mereka berkata: Hai Dzul Qarnain! Sesungguhnya Ya;juz dan Ma’juz itu perusak besar Dwimuka bumi.Ath-thabari menyebutkan riwayat dengan isnad yang mengatakan: “telah menceritakan kepada kami Humaid,ia berkata: telah menceritakan kepada kami Salamah,ia berkata : telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq yang berkata: telah menceritakan kepada kami salah seorang ahli kitab yang telah masuk islam, yang suka menceritakan cerita-cerita asing : Dari warisan-warisan cerita yang diperoleh dikatakan bahwa Dzul Qarnain adalah seorang penduduk Mesir. Nama lengkapnya Mirzaban bin Murdhiyah, bangsa Yunani,keturunan Yunan bin Yafit bin Nuh dan seterusnya.Dengan metode demikian Ath-thabari banyak memasukkan riwayat israiliyat ke dalam kitab tafsirnya.[9]
D.  Kitab Tafsir yang Banyak Meriwayatkan Israiliyat
1.    Jami’ Al-Bayan Fit Tafsir Al-Qur’an ( Al-Thabari)
Arti judul kitab ini adalah “Keterangan lengkap tentang tafsir al-qur’an”. Tafsir ini disusun oleh Ibnu Jarir A-Thabari ( 224-310 H ) seorang yang terkenal dalam fiqih dan hadist, disamping ahli tafsir. Beliau dikenal sebagai bapak tafsir dan tarikh islam.[10] Namun, harus dicatat bahwa karya ulama ini banyak terjerumus dalam kesalahan, karena ia sering menyebutkan dalam tafsirnya riwayat-riwayat israiliyat yang sering disandarkan kepada Ka’b Al Ahbar. Kitab tafsir ini memiliki riwayat-riwayat yang lemah , terkesan tertolak dan dhaif. [11]
2.    Tafsir Muqatil ( Muqatil Bin Sulaiman )
               Tafsir ini ditulis oleh Muqatil Bin Sulaiman ( Wafat 150 H ). Tafsir ini adalah tafsir yang banyak mengemukakan cerita israiliyat namun tidak menyebutkan sanad-sanadnya sama sekali serta tanpa diberi penjelasan. Al-Dzahabi menemukan kejanggalan dalam tafsir ini, karena hanya sedikit saja yang diberikan isnad oleh Muqatil. Contohnya yang diceritakan dalam tafsir ini merupakan bagian bagian dari cerita khufarat.
3.    Al-Kasyfu ‘An Bayani Tafsir Al-Qur’an ( Al-Tsa’labi )
                          Penulis tafsir ini adalah Ibn Ibrahim al-Tsa’labi al-Naisaburi yang sering dipanggil dengan Abu Ishaq ( wafat 427 H ). Ia menafsirkan al-qur’an berdasarkan hadist yang bersumber dari ulama salaf. Akan tetapi dalam menukilkan sanad hadist, ia tidak mencantumkannya secara lengkap. Tafsir ini membahas nahwu dan fiqih. Karena beliau seorang pemberi nasehat, maka tidak salah beliau menyukai cerita-cerita. Oleh sebab itu dalam kitab ini banyak sekali yang janggal dan menjurus pada ketidakbenaran riwayat.
4.    Tafsir Ma’alim al-Tanzil
                           Tafsir ini ditulis oleh Syech Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad al-Baghawiy. Menurut Ibn Taimiyah, tafsir ini merupakan  tafsir dari ringkasan karya al-Tsa’labiy, akan tetapi ia menjaga tafsirnya dari hadist-hadist maudhu’ dan pendapat yang bid’ah. Namun menurut al-Dzahabi, tafsir ini justru banyak mengandung kebatilan.
5.    Lubab At-Ta’wil Fi Ma’ani Al-Tanzil
                           ‘Ala al-Din al-Hasan Ali ibn Muhammad ibn Ibrahim Ibn Amr ibn Khalil al-Syaibiy ( 678-741 H ) adalah penulis dari tafsir ini. Sebagai seorang sufi yang senang member nasehat, maka tidak heran ia banyak menelaah buku-buku di damaskus, sehingga bacaannya akan kitab-kitab tersebut mempengaruhi tulisannya.  Kitab tafsir ini juga menukil cerita israiliyat dari tafsir al-Tsa’labi. Dalam menukilkan israiliyat tersebut, ia tidak member komentar apa-apa dan tidak mengkritik apapun cerita-cerita yang janggal dan irrasional dari cerita itu, serta tidak mempersoalkan sanad-sanad dari hadist yang dikemukakannya
6.    Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azim ( Ibnu Katsir )
Tafsir ini populer dengan sebutan tafsir Ibn Katsir, yang merupakan nama terakhir yang dinisbahkan kepada pengarangnya, yaitu Ibn Katsir. Kitab ini dipandang kitab tafsir kedua setelah al-Thabariy. Pengarangnya selalu memperhatikan riwayat-riwayat ahli tafsir salaf. Disampinmg itu, ia juga membicarakan kerajihan hadist dan atsar serta menolak riwayat-riwayat yang munkar. Perbedaannya dengan at-Thabariy adalah bahawa tafsir Ibn Katsir ini selalu mengingatkan para pembaca akan keganjilan dan kemunkaran cerita-cerita israiliyat dalam tafsir bi al-Ma’tsur. Karena Ibn Katsir juga seorang sejarawan, maka hal itu sangat menolongnya dalam menyeleksi berita-berita, cerita-cerita serta dongeng-dongeng israiliyat. Sebagian cerita dikritik,dikomentari dan dikemukakan kebathilannya.[12]


7.    Ruh Al-Ma’ani Fi Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azim Wa Sab’il Masani (Al-Alusi )
Kitab tafsir ini adalah kitab yang ditulis oleh Abu Sana’ Syihab al-Din al-Sayyid Mahmud Afandi al-Alusi Al-Baghdadi. Beliau sangat selektif dan kritis terhadap pengambilan riwayat-riwayat israiliyat. Dikarenakan beliau menekuni disiplin ilmu hadist dan banyak bergaul dengan para ulama ahli hadist muta’akhirin. Adapun ketika beliau menuliskan riwayat yang maudhu’ itu tidak lain supaya menunjukkan kebathilan riwayat tersebut.[13]

E.  Sikap Terhadap Informasi Israiliyat
Seperti yang kita ketahui bahwa yang menjadi latar belakang adanya ayat israiliyat adalah adanya pencampuran budaya (akulturasi) orang Yahudi yang telah masuk Islam pada masa itu, sehingga menimbulkan sesuatu hal yang canggung dan berbeda. Yang memegang teguh cerita agama mereka sebelumnya dan terbawa hingga mereka masuk Islam. Selain itu pengaruh israiliyat bisa terjadi karena budaya arab pada masa itu lebih suka menghafal daripada menulis.[14]
Hukum meriwayatkan israiliyat adalah boleh-boleh saja, selama sesuai dengan agama islam. Kita tidak boleh secara cepat mengatakan riwayat itu salah sebelum kita mengobservasi kebenarannya. Sebagaimana Hadist berikut:
“ Bila dikisahkan kepadamu tentang ahli kitab janganlah dibenarkan dan jangan pula didustakan “
Maksud dari hadist di atas, kita harus mengetahui kebenaran riwayat dan kemudian dijadikan pegangan jia benar.[15] Sikap ini disebut dengan sikap tawaqquf.
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat dan tidak mengapa kalian menceritakan tentang bani israil. Barang siapa sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka” (HR.Al-Bukhori)
Dalam kebanyakan israiliyat, kisah mereka tidak bermanfaat untuk urusan agama, seperti penentuan warna anjing ashabul kahfi dan yang lainnya.[16]
Adapun alasan kenapa israiliyat dilarang dalam tafsir al-qur’an karena ada yang beranggapan bahwa kaum yahudi itu telah sesat dalam urusan agama mereka apalagi jika mengurusi agama islam, bukankah mereka akan menjadikan sesat kepada umat islam. Oleh sebab itu menanyakan urusan agama kepada ahli kitab adalah haram.
Pendapat dan sikap ulama terhadap israiliyat
1.    Ibnu Taimiyah
Beliau bertolak pada tiga klasifikasi ayat israiliyat yang antara lain :
a.    Israiliyat yang masuk dalam bagian yang sejalan dengan Islam perlu dibenarkan dan perlu diriwayatkan.
b.    Israiliyat yang tidak sejalan dengan Islam harus ditolak dan tidak boleh diriwayatkan.
c.    Israiliyat yang tidak termasuk pada poin kesatu maupun kedua tidak boleh dibenarkan akan tetapi juga tidak boleh disalahkan.
2.    Allamah Ahmad Muhammad Syakir
Beliau mengomentari israiliyat dalam bukunya yang berjudul Umdah at-Tafsir, “ Boleh mengambil berita dari mereka ( yang tidak adil atas kebenaran dan dustanya pada kita ) adalah satu hal, sedangkan mengutip hal itu dalam tafsir al-qur’an dan menjadikannya sebagai suatu pendapat atau riwayat dalam memahami makna ayat-ayat al-qur’an, atau menentukan sesuatu yang tidak ditentukan di dalamnya, adalah hal lain. Ini karena dengan mengutip hal seperti itu disamping kalam Allah SWT dapat memberi kesan bahwa berita yang tidak tahu kebenaran dan dustanya itu adalah penjelas makna firman Allah Swt dan menjadi pemerinci apa yang global di dalamnya.
3.    Ibn Khaldun
Dalam muqaddimahnya diperbolehkan merujuk kepada ahli kitab. Keterangannya tersebut diungkapkan dengan redaksi sebagai berikut,  tafsir itu terbagi menjadi dua macam. ( salah satunya adalah tafsir naqli yang disandarkan kepada riwayat-riwayat yang dinukil dari kaum salaf ). Berita yang dinukil kaum salaf biasanya adalah nasikh, mansukh, asbab an-nuzul, maksud beberapa ayat, dan segala sesuatu yang tidak bisa diketahui kecuali melalui riwayat dari generasi sahabat dan tabi’in.
4.    Muhammad Abduh
Beliau salah satu orang yang sering mengkritik mufassir generasi pertama yang menggunakan israiliyat sebagai tafsir al-qur’an. Bahkan salah satu penulisan tafsirnya adalah untuk menghindari kebiasaan ulama tafsir itu. Beliau menolak keabsahan ulama tafsir generasi pertama yang menghubungkan al-qur’an dengan israiliyat.
5.    Muhammad Rasyid Ridha dan Musthofa al-Maraghi
Mereka adalah murid dari Muhammad Abduh juga melontarkan kritik yang sama dengan gurunya tersebut yang pada intinya mengatakan bahwa riwayat israiliyat telah menyimpang dan tidak sesuai dengan islam.
6.    Ibnu Ma’sud
Beliau dalam menanggapi israiliyat mengeluarkan kritik “ Jangan tanyakan kepada ahli kitab tentang tafsir, karena mereka tidak dapat membimbing ke arah yang benar dan mereka sendiri berada dalam kesalahan. “[17]
7.    Ibnu Abbas RA
Al-Bukhori meriwayatkan dari Ibn Abbas RA, bahwa Rasulullah berkata: “ Wahai kaum muslimin! Bagaimana kalian bisa bertanya sesuatu kepada ahlul kitab sedangkan al-qur’an yang Allah Azza wa jalla turunkan kepada nabi kalian telah menceritakan sesuatu yang benar dan murni tentang Allah azza wa jalla. Allah Azza wa Jalla telah memberitahukan kepada kalian bahwa ahlul kitab telah mengganti dan merubah isi al-kitab kemudian mereka menulisnya sendiri dengan tangan-tangan mereka lalu mereka mengatakan” ini datangnya dari Allah” ….[18]
8.    Imam Ahmad.[19]
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Jabir bin Abdillah Ra Rasulullah mengatakan:
 “ jangan kalian bertanya kepada ahlul kitab karena mereka tidak akan memberi petunjuk bagi kalian dan sungguh mereka telah tersesat, karena bisa jadi kalian akan membenarkan sesuatu yang bathil atau mendustakan yang haq. Seandainya Musa As hidup diantara kalian, maka tidak halal baginya kecuali mengikutiku.”
9.    Al-Baghawi
Beliau dalam menyikapi israiliyat tentang tafsir at-Tsalabi menjelaskan bahwa, israiliyat tidak pencari kayu bakar pada malam hari, mengumpulkan semua yang di dapat dalam buku tafsir, baik shahih, dhaif, maupun maudhu’.[20]
10.     Ibnu Katsir
Beliau adalah seorang ahli fiqih, ahli hadist,sejarawan ulung dan mufasir yang sempurna. Nama lengkapnya Ismail bin ‘Amr al-Quraisy bin Kasir al-Basri ad-Dimasyqi ‘Imaduddin Abul Fida’ al-Hafiz al-Muhaddis asy-syafi’i. Wafat pada 774 H. [21]
Pandangannya mengacu pada hadist :
“berceritalah dari kaum israil, tidak ada dosa (bagi kalian)
Beliau  membolehkan riwayat yang yang rasional, adapun kisah-kisah yang tidak rasional dan diduga keras dustanya tidak diperbolehkan sesuai dengan hadist yang dijadikan acuan.[22]

F.   Pengaruh Israiliyat dalam Tafsir Al-Qur’an
Dampak negatif israiliyat dalam tafsir al-qur’an
Menurut Al-Dzahabi dampak negatif apabila israiliyat dimasukan kedalam tafsir adalah :
1.    Dalam israiliyat terdapat unsur penyerupaan pada Allah, peniadaan pada Nabi dan Rasul dari dosa,karena mengandung unsure tuduhan perbuatan buruk yang tidak pantas bagi orang yang adil,terlebih sebagai nabi.
2.    Israiliyat akan memberikan kesan bahwa islam seolah mengandung khufarat dan penuh dengan kebohongan yang tidak ada sumbernya dan ini sudah jelas akan memojokkan dan merusak citra islam.
3.    Israiliyat menghilangkan kepercayaan kepada ulama salaf, baik dari kalangan sahabat maupun kalangan tabi’in.
4.    Israiliyat dapat memalingkan manusia dari maksud dan tujuan alqur’an.[23]



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Israiliyat adalah berita-berita yang diceritakan Ahli kitab yang masuk Islam.Cerita Israiliyat ini sebagaian besar diriwayatkan dari empat orang; Abdullah bin Salam, Ka’bul Ahbar, Wahb bin Munabbih dan Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Jurraij. Cerita israiliyat ada yang benar dan ada yang tidak benar.Kita tidak boleh menyalahkan dan membenarkan juga.

Namun semuanya dikembalikan lagi kepada individu apakah membolehkan ataupun tidak membolehkan Israiliyat itu sendiri. Pada era perkembangan awal Islam memang masalah kultur agama yang campur antara Yahudi dan Islam sangat banyak.Apalagi di Madinah yang pada saat itu berhubungan langsung dengan Islam.Namun dalam era mufasir modern seperti Muhammad Abduh tidak membolehkan Israiliyat karena tidak sesuai dengan Islam.








DAFTAR PUSTAKA

Hamid, Shalahuddin. 2002. Study Ulumul qur’an. Jakarta: PT Intimedia Ciptanusantara
Khalid, M.Rusydi. 2011. mencermati israiliyat dalam kitab-kitab tafsir. AL-FIKR volume 15 nomer 2
Syihabbudin, Sayyid Mahmud al-Alusi al-Baghdadi. Ruhul Ma’ani Fi Tafsiril Qur’an al-Adhim Was-sab’il Matsani. Beirut-Lebanon: Daru Ihya’it Turots Al-Arobi, 1981.
Al-qur’an dan terjemah DEPAG RI tahun 1985-1986
Ismail, Nurjannah, Perempuan Dalam Pasungan Bias Laki-laki dalam penafsiran,(Yogyakarta:LKIS,2003)
Alfiah, Nur. Israiliyat dalam Tafsir At-Thabari dan Ibnu Katsir. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah (Skripsi), 2010.
Abu Bakar, Bahrun dkk. Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 . Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000.
Khalid, M.Rusydi. Mencermati Israiliyat Dalam Kitab-Kitab Tafsir. Makasar: AL-FIKR Volume 15 no.2, 2011.
www.fiqihkontemporer.com (diakses 2 oktober 2014)
www.uin-alauddin.ac.id (diakses 2 oktober 2014)
www.konsultasisyariah.com (ditulis 22 juni 2012, diakses 10 oktober 2014)
www.aliboron.wordpress.com (diakses 10 oktober 2014)
www.asysyariah.com (ditulis 14 november 2011, diakses 10 oktober 2014)
www.replubika.co.id (diakses 10 oktober 2014)
www.kompasiana.com (ditulis 23 Desember 2012, diakses 2 Oktober 2014)
www.almuslimah.wordpress.com ( diakses 10 oktober 2014)
www.eramuslim.com ( diakses 11 oktober 2014)


[1] Ahmad Zuhri, Risalah Tafsir: Berinteraksi dengan al-Qur’an Versi Imam Al-Ghazali (Bandung: Cita Pustaka Media,2007), hal. 135
[2] Shalahuddin Hamid, Study Ulumul qur’an, (Jakarta: PT Intimedia Ciptanusantara,2002), h.353

[3] Shalahuddin Hamid, Study Ulumul qur’an, (Jakarta: PT Intimedia Ciptanusantara,2002), h.354
[4] Shalahuddin Hamid, Study Ulumul qur’an, (Jakarta: PT Intimedia Ciptanusantara,2002), h.354
[5] Shalahuddin Hamid, Study Ulumul qur’an, (Jakarta: PT Intimedia Ciptanusantara,2002), h.351
[6] www.eramuslim.com diakses tgl 11 oktober 2014
[7] www.eramuslim.com diakses tgl 11 oktober 2014
[8] Shalahuddin Hamid, Study Ulumul qur’an, (Jakarta: PT Intimedia Ciptanusantara,2002), h.352
[9] Ismail, Nurjannah, Perempuan Dalam Pasungan Bias Laki-laki dalam ,(Yogyakarta:LKIS,2003) hal 92

[10] Ahmad Hamdani,”Jami’ul Bayan Fi Tafsiril Qur’an” (asysyariah.com 14 november 2011, diakses 10 oktober 2014)
[11] M.Rusydi Khalid, “Mencermati israiliyat dalam kitab-kitab tafsir” AL-FIKR volume 15 no 2 tahun 2011,162-163
[12] M.Rusydi Khalid, “Mencermati Israiliyat dalam Kitab-Kitab Tafsir” AL-FIKR volume 15 no 2 tahun 2011,163
[13] Zukhruf Fatul, “Tafsir Ruhul Ma’ani” (m.kompasiana.com 23 des 2012 diakses 2 oktober 2014)
[14] Republika.co.id diakses 10 oktober 2014 ,Ensiklopedia Hukum islam
[15] Depag RI 1985-1986, Al-Qur’an dan terjemah., 31
[16] Muhammad bin shalih,” Kisah-Kisah israiliyat dalam pandangan islam ” (almuslimah.wordpress.com diakses 10 oktober 2014)
[17] Nur Alfiah Skripsi S1,”Israiliyat dalam tafsir at-Thabari dan Ibn Katsir” (Jakarta:UIN SYARIF HIDAYATULLAH, 2010) h. 59-61
[18] Aliboron.wordpress.com “ israiliyat “ diakses 10 oktober 2014
[19] Muhammad bin shalih,” Kisah-Kisah israiliyat dalam pandangan islam ” (almuslimah.wordpress.com diakses 10 oktober 2014)
[20] Ammi Nur Baits “Apa itu israiliyat?” (konsultasisyariah.com 22 juni 2012 diakses 10 oktober 2014)
[21] Manna Khalil al-Qattan studi ilmu-ilmu qur’an.” 527
[22] Tafsir ibnu Katsir juz 1. Kata pengantar penerjemah
[23] Greatquranhadis.wordpress.com diakses 10 oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar