BAB II
PEMBAHASAN
- EPITIMOLOGI DAN TERMINOLOGI
Pengertian secara epitimologi
Muhkam
: sesuatu yang dikokohkan dengan perkataan dengan memisahkan berita yang benar
dari yang salah, dan urusan yang lurus dari yang sesat dengan inilah Allah
mensifati Al-Qur'an bahwa seluruhnya adalah muhkam sebagaimana dalam
Q.S
Hud : 1
"Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya
disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi
(Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,"
Q.S
Yunus : 1
"Alif laam raa. Inilah
ayat-ayat Al Qur'an yang mengandung hikmah."
Dengan demikian muhkam secara umum berarti
"Qur'an itu seluruhnya kata-katanya kokoh, fasih dan membedakan antara
yang haq dan yang batil dan yang benar dan yang dusta
Mutashabih : tashabuh, yakni bila salah satu dari
dua hal serupa dengan yang lain. Shubhat, merupakan keadaan dimana salah satu
dari dua hal itu tidak dapat dibedakan dari yang lain karena adanya kemiripan
secara konkrit maupun abstrak.
Pengertian secara Terminologi(istilah)
Muhkam
: lafaz yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat secara berdiri
sendiri tanpa ditakwilkan karena susunan tepat dan pengertiannya masuk akal
sehingga dapat dimengerti dengan mudah
Mustasyabih : lafaz
Al-Qur'an yang artinya samar sehingga tidak dapat dijangkau oleh akal karena
mengandung takwil bermacam-macam, tidak dapat berdiri sendiri karena susunannya
kurang jelas sehingga menimbulkan kesulitan sehingga cukup diyakini adanya saja
dan tidak perlu diamalkan karena hanya Allah yang mengetahui maksud dari ayat
tsb.
- SPESIFIKASI AYAT MUHKAM-MUTASYABIH
Ayat Muhkamat adalah ayat yang
maksudnya dapat diketahui dengan baik nyata maupun ta'wil. Ayat Muhkamat adalah
ayat-ayat yang hanya mengandung pokok-pokok isi Al-Qur'an. Salah satu contoh
ayat muhkamat sebagai berikut

"Dan
(ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah
kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat,
anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik
kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak
memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu
berpaling." (QS 2:83)
Sedangkan ayat mustasyabihat
adalah ayat yang hanya diketahui Allah SWT seperti masalah kiamat, kemunculan
dajjal dll. Ayat mutasyabihat lebih berbicara tentang kedalaman makna isi
Al-Qur'an. Salah satu contoh ayat mustasyabihat sebagai berikut
"(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di
atas Arasy'" (QS 20:5)
C. MUHKAM-MUSTASYABIH DAN PENDAPAT ULAMA
Pendapat ulama’ tentang kemuhkaman dan kemutasyabihatan Al-Qur'an
1. Al-Qur’an semuanya muhkam sebab
susunan lafadz Al-Quran dan keindahan nadzomnya sungguh sangat sempurna, tak
sedikitput terdapat kelemahan padanya, baik dalam segi lafadznya atau maknanya,
seperti yang di sebutkan dalam Al-Qur'an
"Alif laam raa,
(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi serta dijelaskan
secara terperinci yang diturunkan dari
sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu,"
Maksudnya Al-Qur'an diperinci
atas beberapa macam, ada yang mengenai ketauhidan, hukum, kisah, akhlak, ilmu
pengetahuan, janji dan peringatan dan lain-lain.
2. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa ayat-ayat mutasyabih bisa di ketahui
artinya dan harus mengetahuinya sebab al-qur’an adalah hudan linnas, menurut Abu Ishab
Az-Zirasi bahwa "tidak ada satu ayat Al-qur’an punya yang tidak ada
artinya." Abu Hasan Al-Asyari berpendapat bahwa yang di
maksud ayat "warrosikhuna fil ilmi" dalam
surat Al-Imron adalah orang yang masih itu bisa mengetahui ta’wil ayat-ayat
mutasyabihat. Ar-Rogib Al-Asfahani mengambil jalan tengah dalam
mengahadapi masalah ini. Beliau membagi metasyabih dari segi kemungkin mengetahui maknanya kepada tiga bagian:
1) Bagian yang tak ada jalan mengetahui, seperti waktu terjadi kiamat,
keluarnya binatang dari bumi dan lain sebagainya.
2) Bagian manusia menemukan sebab-sebab mengetahuinya, seperti lafadz-lafadz
yang ganjil sulit di fahami kemudian bisa di temukan artinya.
3) Bagian yang terletak antara dua urusan itu yang hanya di ketahui oleh
sebagian ulama’ yang tinggi ilmunya saja. Inilah yang di isyaratkan oleh Nabi
dengan sabdanya kepada Ibnu Abbas "Allahumma faqqihhum fiddini
waallamahutta’wila". "Wahai tuhanku
jadikanlah dia seorang yang fikih dalam agama dan ajarkanlah ta’wil kepadanya." Sebagaimana dalam masalah fawatikhus-suwari, kita
ketemukan berbagai takwil yang di berikan para ulama’, semua pendapat para
ulama’ berkisar sekitar hikmah wujudnya (fawatikhus-suwar), bukan sekitar
hakikat-hakikatnya, maka dalam ketidak mampuanya manusia tidak menemukan
hakikat-hakikat itu, menunjukkah akan kelemahan manusia. Dan kalau kita
berbicara masalah dzat dan sifat Allah jelas tidak ada jalan lain untuk
mengetahuinya dan masalah ini oleh jumhur ulama’ dan ahli sunnah dan bahkan
ahli ro’yu hanya sekedar mengimani adanya saja dan urusanya di serahkan kepada
Allah SWT.
- RAGAM MUTASYABIHAT
Ayat mutasyabihat ada tiga,
yang pertama adalah hakiki. Maksudnya tidak dapat dinalar oleh manusia seperti
contoh sifat-sifat Allah. Manusia mengetahui sifat-sifat Allah namun tidak
pernah tahu bentuk dan hakikatnya. Seperti pada ayat berikut
"Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami
keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka,
bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami" (QS
27:82)
Yang kedua adalah relatif,
maksudnya adalah ayat-ayat mutasyabihat tsb. mempunyai makna yang samara bago
sebagian orang tapi tidak bagi sebagian yang lain yaitu orang-orang yang
ilmunya mendalam saja.
Yang ketiga ayat mutasyabihat yang
dengan berbagai sarana manusia dapat mengetahui maknanya, seperti lafadz yang
aneh dan hukum yang tertutup.
- SOLUSI CERDAS TERKAIT MUTASYABIH
Karena kita sudah melakukan studi Al-Qur'an terkait ayat
muhkam dan mustasyabihat tentu kita akan menemukan solusi cerdas setelah
mengetahui tentang makna kedua ayat tersebut. Beberapa makna dan solusi cerdas
yang sudah dapat kita simpulkan
adalah
a) Memahami adanya ayat
mutasyabihat dalam Al-Qur'an membawa hikmah dan faidan yang banyak bahkan lebih
banyak daripada ayat muhkam. Dikarenakan rahmat Allah SWT, Allah menyamarkan
sifat dan DzatnNya kepada manusia yang lemah.
b) Memahami bahwa ayat
mustasyabihat hanya Allah yang mengetahui takwilnya dan mereka yang mencoba
untuk mencari-carin takwilnya adalah orang yang hatinya condong kepada
kesesatan seperti dalam Ali Imran ayat 7
c) Mendorong mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-macam, sebab,
adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam Al-Qur’an mendorong orang-orang yang akan
mempelajarinya harus terlebih dahulu mempelajari berbagai disiplin ilmu yang
terkait dengan berbagai isi ajaran Al-Qur'an yang bermacam-macam, seperti ilmu
bahasa, kimia fisika, biologi dan sebagainya.
BAB III
KESIMPULAN
Dengan demikian dapat
diambil kesimpulan bahwa ayat muhkamat
dapat diketahui dengan jelas dan kuat secara tanpa ditakwilkan karena
susunannya jelas dan pengertiannya masuk akal sehingga dapat dimengerti dengan serta
diamalkan arti dan maknanya.
Ayat mutasyabihat samar sehingga tidak dapat dijangkau oleh akal
karena mengandung takwil bermacam-macam, tidak dapat berdiri sendiri karena
susunannya kurang jelas sehingga menimbulkan kesulitan sehingga cukup diyakini
adanya saja dan tidak perlu diamalkan karena hanya Allah yang mengetahui maksud
dari ayat tsb.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman,
Emsoe, dan Aprianto Ranoedarsono. 2009. The Amazing Stories of Al-Qur'an
Sejarah yang Harus. Bandung:
Salamadani.
Ali
Ash-Shabuni, Muhammad. 2001. Ihitisar Ulumul Qur'an Praktis. Jakarta: Pustaka Amani.
Al-Qaththan,
Manna’. 2008. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur'an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Ash-Shiddieqy,
Hasbi. 1974. Sejaran dan Pengantar Ilmu Al-Qur'an atau Tafsir. Jakarta: Bulan Bintang.
Faizin,
Nur. 2011. Sepuluh Tema Kontraversial Ulumul Qur'an. Kediri: CV. Azhar Risalah.
Mustofa,
Agus. 2008. Memahami Al-Qur'an Dengan
Metode Puzzle. Surabaya:
PADMA Press.
Tim
Penyusun MKD UIN Sunan Ampel Surabaya.
2013. Studi Al-Qur'an. Surabaya: UIN Sunan Ampel
Anggota IKAPI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar