Pages

Sabtu, 10 Oktober 2015

Makalah Aliran Qodariyah




PEMBAHASAN
1.Pengertian Qadariyah
            Secara etimologi pengertian Qadariyah berasal dari bahasa Arab yaitu lafadz qadara yang memiliki arti kemampuan atau kekuatan. Sedangkan menurut pengertian secara terminologi Qadariyah memiliki pengertian suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh Tuhan. Manusia bebas menciptakan segala perbuatannya. Baik berbuat sesuatu maupun meninggalkan sesuatu.[1]
            Berdasarkan penjelasan singkat diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa Qadariyah adalah suatu aliran yang fahamnya digunakan bagi aliran yang memberi penekanan bahwa manusia memiliki kebebasan atau freedom untuk menentukan jalan hidup mereka masing-masing. Menurut Harun Nasution, dalam istilah inggrisnya faham ini disebut free act dan free will. Dimana manusia memiliki kekuasaan untuk bertindak sesuai keinginannya tanpa tunduk kepada qadar Tuhan. [2]
2. Latar Sejarah Terbentuknya Aliran Qadariyah
            Latar belakang sejarah terbentuknya aliran Qadariyah tidak terlepas dari pembahasan tentang faham Jabariyah, yang mewarnai bidang teologi dalam kehidupan manusia. Serta banyaknya penganut aliran tersebut pada masanya. Sehingga kapan periode munculnya sulit untuk diketahui.  Namun telah diketahui bahwa aliran ini telah mucul dan menjadi faham yang dianut pada Dinasti Bani Umayyah. Ahli teologi islam menerangkan bahwa aliran ini pertama kali dibawa atau dikenalkan oleh Ma’bad al-juhani. Dia adalah seorang Tabi’I bersama temannya Ghailan al-Dimasqi, dimana keduanya mendapatkan faham tersebut dari orang Kristen Irak yang masuk Islam. Namun  faham mereka dianggap sesat dan mendapat pertentangan dari berbagai pihak sampai mereka akhirnya harus dihukum mati karena aliran yang mereka bawa.
            Ada pendapat lain tentang diperolehnya aliran ini yaitu bukan berasal dari orang Kristen Irak melainkan dari Hasan al-Bashri. Hal ini dinyatakan karena Ma’bad pernah berguru padanya. Jadi kemungkinan besar Ma’bad al-Juhani mendapatkan aliran tersebut dari gurunya tersebut. Sehingga pendapat yang menyatakan bahwa aliran ini didapat dari Kristen Irak dianggap hanya hasil rekayasa dari orang-orang yang tidak sependapat dengan aliran ini.[3]
            Sebagaiman Khawarij dan Murji’ah, aliran Qadariyah juga memilik latar belakang politik yakni pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sofyan dari Daulah Bani Umayah. Mereka memperkuat posisi mereka dengan berbagai cara menumpas segala bentuk oposisi. Untuk menutupi kelemahannya, mereka memaparkan bahwa semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan.[4]
 3.Tokoh-Tokoh Qadariyah
Pada umumnya aliran ini memilik 2 tokoh yang menonjol dan sering dibahas yaitu Ma’bud al-Juhani dan Ghailan al-Dimasqi, selain itu ada lagi seorang pemuka qadariyah bernama An-Nazzam yang juga memiliki pendapat tentang doktrin qadariyah.
3.Doktrin-Doktrin Qadariyah
            a. Ajaran Ma’bad al-Juhani
            Ma’bad al-Juhani ialah seorang taba’I yang dapat dipercaya dan pernah berguru pada Hasan al Basri. Beliau merupakan tokoh penganut qadariyah yang hidup setelahnya. Ajaran yang dibawa oleh tokoh ini disebut dengan Ajaran Ma’bad al-Juhani. Ajaran ini memaparkan bahwa perbuatan yang dihasilkan oleh manusia itu sendiri berdasarkan dengan keinginannya sehingga dia sendiri yang bertanggungjawab atas segala perbuatannya. Tuhan dianggap tidak berperan dalam ajaran ini karena Tuhan dianggap tidak akan pernah tau hal yang akan dilakukan manusia tersebut kecuali setelah mereka melakukan hal tersebut.
b.Ajaran Ghailan al-Dimasqi
            Ghailan ialah seorang orator yang berasal dari Damaskus dan pernah belajar pada Hasan al Basri yang ayahnya menjadi seorang maula Usman bin Affan. Ajarannya disebut dengan ajaran Ghailan al-Dimasqi.ajaran ini memiliki 4 komponen. Pertama ajaran ini memaparkan bahwa manusia lah yang menentukan kemauannya dan mampu berbuat baik ataupun buruk tanpa campur tangan dari Tuhannya. Hal ini didasarkan pada pengertian iman yang berarti mengetahui dan mengakui Alloh dan Rasul-Nya. Sehingga mereka berpendapat bahwa amal perbuatan tidak mempengaruhi iman. Maka dari itu mereka menyimpulkan perbuatan manusia tidak terpengaruh oleh Tuhan.  Kedua mereka berpendapat bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Ketiga mereka berpendapat bahwa Alloh tidak memiliki sifat, sehingga tiada halangan bagi manusia untuk melakukan apapun tanpa peduli dengan Tuhannya. Keempat mereka menyatakan bahwa Iman adalah hak semua orang yang bukan dominasi dari Quraisy, asal cukup berpegang teguh pada al-Qur’an dan al-Sunnah.
Selain doktrin dari dua tokoh di atas,salah seorang pemuka qadariyah yang lain seperti An-Nazzam yang mengemukakan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mewujudkan keinginannya tanpa campur tangan Tuhan.[5]
            Manusia memilik daya pikir yang aktif dan kreatif dimana manusia dapat membuat apa saja dengan kreatifitas dan daya pikir yang tiada batasannya. Selama mereka terus berkarya dalam hal tersebut dengan menciptakan segala hal-hal baru, selama itu pula kreatifitas manusia tidak dapat ditentukan batasnya. Dengan pemahaman ini kaum qadariyah berpendapat seperti hal yang telah diuraikan di atas. Namun dengan garis bawah bahwa pemberian kebebasan tersebut juga harus disertai pertanggung jawaban berdasarkan baik-buruk hal yang dilakukan. Qadariyah memiliki banyak ayat-ayat pendukung sebagai tempat pijakan doktrinnya. Ayat-ayat tersebut ialah:
1.Surah al-Kahfi ayat 29 Allah Swt berfirman: “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (Qs. Al-Kahfi [18] : 29)
2.Surah Ali Imran ayat 165
 أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
3.Surah Ar-Ra’d ayat 11
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selainDia.” (QS: Ar-Ra'd Ayat: 11)
4.An-Nisa’ ayat 111
[6] أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ



4. Sekte-Sekte Qadariyah
            a. Seorang yang berdosa besar itu bukanlah yang kafir atau mukmin tapi fasiq dan masuk neraka.
            b. Alloh SWT tidak menciptakan amal perbuatan manusia. Sehingga manusia sendiri yang menentukan sekaligus mempertanggungjawabkannya.
            c. Dzat alloh itu jasmani dan sifatnya sama seperti makhluk lain.
            d. Akal manusia memiliki kemampuan mengetahui baik buruk walaupun Alloh tidak menurunkan agama.[7]
            e. Alloh itu Esa dan tidak memiliki sifat.[8]
5. Perkembangan Aliran Qadariyah
            Pengikut aliran ini sangatlah banyak sehingga kapan dan bagaimana asal usul kemunculan aliran ini sulit diprediksikan.. Sebutan ini diberikan lawan dari pengikut aliran ini dengan merujuk sebuah hadits yang meberi kesan negative pada aliran Qadariyah. Hadits itu berbunyi “Kaum Qadariyah adalah majusinya umat ini” . Meski mendapat banyak kecaman negative dari berbagai pihak bahkan ada tokoh-tokoh mereka yang dihukum mati karena ajaran mereka ini, namun tidak mengurangi jumlah anggotannya.[9]






DAFTAR PUSTAKA
Tim Penyusun MKD. 2012. Ilmu Kalam. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press
Rozak,Abdul dan Rosihon Anwar. 2012. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia
Tim Kreatif  Putra Nugraha. 2012. Aqidah Akhlak. Surakarta: Putra Nugraha         
Anwar, Rosihan, Ilmu Kala, 2006. Bandung: Puskata Setia.
                                                                                              



[1]  Tim Penyusun MKD,Ilmu Kalam,(Surabaya:2012), 117
[2] Anwar, Rosihan, Ilmu Kalam, (Bandung: Puskata Setia, 2006), 68
[3] Tim Penyusun MKD,Ilmu Kalam,(Surabaya:2012), 117-120
[4] Tim Kreatif Putra Nugraha,Aqidah Akhlaq,(Surakarta:2012), 40
                                                      
[5] Tim Penyusun MKD,Ilmu Kalam, 121-123
[6] Abdul Rozak, Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, (Bandung:2012) 74-76
[7] Tim Penyusun MKD, Ilmu Kalam, 123
[8] Tim Kreatif Putra Nugraha,Aqidah Akhlaq, 41
[9] Abdul Rozak, Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, 70

Tidak ada komentar:

Posting Komentar