Pages

Sabtu, 10 Oktober 2015

Makalah Sejarah Peradaban Islam



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Banyak diantara umat manusia yang mengaku agama Islam tapi tidak pernah tahu akan Islam, tidak pernah tahu bagaimana Islam, bahkan seperti apa Islam itu berkembang. Bahkan dikalangan sejarawan terdapat perbedaan tentang saat di mulainya sejarah Islam. Sehingga sungguh naif bila belum sama sekali mampu untuk menguraikan secara terperinci bagaimana Islam itu sebenarnya mulai dari awal terbentuknya hingga pada masa peradabannya dimana Islam mendapat kejayaan dan kebanggaannya sebagai agama bawaan Nabi Muhammad saw.
Selain dari itu, pentingnya pemaparan tentang peradaban Islam ini merupakan bentuk suplay pengetahuan walaupun hanya secara mendasar tentang sejarah peradaban Islam itu sendiri. Sehingga tidak merasa malu pada diri sendiri jika suatu saat nanti ada yang bertanya tentang sejarah agama kita sendiri (yang menganut agama Islam).
Pada pembahahsan pemaparan dan penulisan ini akan mengarah kepada yang lebih mendasar,  yakni tentang identitas paradaban Islam itu sendiri dan sejarah peradaban Islam. Sehingga pada akhirnya memiliki bekal mendasar tentang pradaban Islam itu sendiri dan bagaimanakah pandangan mereka (bangsa Barat) tentang kebudayaan dan peradaban Islam.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah Sejarah Peradaban Islam itu?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui Sejarah Peradaban Islam dan hal-hal yang terkait.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Identifikasi dan Ruang Lingkup Peradaban Islam
1.      Identifikasi Peradaban Islam
Peradaban islam adalah terjemah dari kata Arab al-hadarah al-islamiyah. Kata Arab ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kebudayaan islam.Kebudayaan dalam bahasa Arab adalah al-tsaqafah. Di Indonesia , sebagaimana juga di Arab dan barat, masih banyak mensinonimkan dua kata kebudayaan (Arab, Al-tsaqafah,Inggris, culture) dan peradaban (Arab: al-hadharah ; Inggris: civilization).Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam satu masyarakat. Sedangkan, manifestasi-manifestasi kemajuan manusia dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban.Kalau Kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi dan moral. Maka peradaban terefleksikan dalam politik, ekonomi, dan teknologi.
Dalam pengertian itulah peradaban yang dimaksud.Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW telah membawa bangsa Arab yang semula terbelakang, menjadi bangsa yang maju.Ia dengan cepat bergerak mengembangkan  dunia, membina satu kebudayaan, dan peradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga sekarang.Bahkan, kemajuan barat pada mulanya bersumber dari peradaban islam yang masuk ke Eropa melaui Spanyol.islam memang berbeda dari agama-agama lain.H.A.R. Gibb di dalam bukunya wither islam menyatakan,’’islam is indeed mus More than a System of theology,It is a complete civilization”(Islam sesungguhnya lebih dari sekedar agama, ia adalah suatu peradaban yang sempurna). Karena yang menjadi pokok kekuatan dan sebab timbulnya kebudayaan adalah agama islam, kebudayaan yang ditimbulkannya dinamakan kebudayaan atau peradaban islam.[1]
2.      Ruang Lingkup peradaban islam
Ruang lingkup sejarah islam dari segi periodesasinya, apa dibagi menjadi periode klasik, periode pertengahan, periode modern. Periode klasik yang berlangsung sejak tahun 650-1250 masehi ini dapat dibagi lagi menjadi masa kemajuan islam 1, yaitu dari  sejak tahun 650-1000, dan masa disintegrasi dari tahun 1000-1250. Pada masa kemajuan islam 1 itu tercatat sejarah perjuangan nabi Muhammad SAW. Dari tahun 570-632 M,Khulafaur Rasyidin dari tahun 632-661M, Bani Ummayah dari tahun 661-750M, Bani Abbas dari tahun 750-1250M.
Selanjutnya periode pertengahan yang berlangsung dari tahun 1250-1800M, dapat dibagi kelam 2 masa, yaitu masa kemunduran 1 dan masa tiga kerajaan besar. Masa berlangsung sejak tahun 1250-1500M. Dijaman ini Jengis Khan dan keturunannya datang membawa penghancura ke dunia islam. Sedangkan masa tiga kerajaan besar yang berlangsung dari tahun 1500-1800 M.
Adapun periode modern yang berlangsung dari tahun 1800 M sampai dengan sekarang ditandai dengan jaman kebangkitan islam. Selanjutnya dilihat dari segi isinya sejarah islam dapat dibagi ke dalam sejarah mengenai kemajuan dan kemundurannya dalam berbagai bidang. Seperti bidang politik, pemerintahan, ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dengan berbagai paham dan aliran yang ada didalamnya dsb.[2]
B. Islam Normatif dan Islam Historis
1.  Islam Normatif
Kata Normatif berasal dari bahasa Inggris norm yang berarti norma ajaran, acuan, ketentuan tentang masalah yang baik dan buruk yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.
Sedangkan menurut istilah, Islam Normatif adalah islam pada dimensi sakral yang di akui adanya realitas transendetal yang bersifat mutlak dan universal melampaui ruang dan waktu atau sering disebut realitas ke-Tuhan-an.
2. Islam Historis
Sejarah dalam bahasa Arab, tarikh atau history (inggris), adalah cabang ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan kronologi berbagai peristiwa. Menurut Abd. Ar-Rahman As-Sakhawi bahwa sejarah adalah seni yang berkaitan dengan serangkaian anekdot yang berbentuk kronologi peristiwa.
Sejarawan Louis Gottschalk dalam bukunya Undertanding History: a Primer of Historical Method, menjelaskan pengertian sejarah. Sejarah dalam bahasa inggris history berasal dari kata benda Yunani istoria yang berarti ilmu. Dalam penggunaanya oleh filosof Yunani, Aristoteles, istoria berarti suatu penjelasan sistematis mengenai seperangkat gejala alam, baik susunan kronologi yang merupakan faktor atau tidak di dalam penjelasan.[3]
Secara ringkas, menurut Gottschalk, pengertian sejarah tidak lebih dari sebuah rekaman peristiwa masa lampau manusia dengan segala sisinya. Sementara itu, Ibnu Kholdun berpandangan bahwa sejarah tidak hanya dipahami sebagai rekaman peristiwa masa lampau, tetapi juga penalaran kritis untuk menemukan kebenaran suatu peristiwa di masa lampau. Dengan demikian, unsur penting dalam sejarah adalah adanya peristiwa, adanya batasan waktu, adanya pelaku, dan daya kritis dari peneliti sejarah.
 Islam Historis sendiri adalah Islam yang tidak bisa dilepaskan dari kesejarahan dan kehidupan manusia yang berada dalam ruang dan waktu.
Dari pengertian demikian kita dapat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sejarah Islam adalah peristiwa atau kejadian yang sungguh-sungguh terjadi yang seluruhnya berkaitan dengan ajaran Islam diantara cakupannya itu ada yang berkaitan dengan sejarah proses pertumbuhan, perkembangan dan penyebarannya, tokoh-tokoh yang melakukan pengembangan dan penyebaran agama Islam tersebut,  sejarah kemajuan dan kemunduran yang di capai umat Islam dalam berbagai bidang,seperti dalam bidang pengetauan agama dan umum, kebudayaan, arsitektur, politik, pemerintahan, peperangan, pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya.[4]
Secara historis faktual, umat islam pernah berada di Spanyol selama 7 abad. Sejarah juga mencatat bahwa umat islam pernah pula menggeser dominasi kekuatan imperium Persi maupun Romawi. Kerajaan Turki Usmani pernah pula masuk ke pintu gerbang Wina dan dan dipukul mundur pada tahun 1683. Dalam perjalanannya yang panjang memasuki jantung Eropa, kerajaan Turki Usmani meninggalkan komunitas-komunitas muslim baik di Bulgaria, Albania maupun Bosnia-Herze govina. Hal ini yang membuat dunia Barat memendam rasa ingin tahunya. Sebelum wilayah islam merambah ke wilayah yang begitu luas, umat islam sebenarnya pernah secara intensif berhubungan dengan Barat. Bukan Barat dalam artian sekarang, tapi Barat dalam artian Peradaban Yunani. Gerakan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan Yunani dilakukan oleh umat islam secara besar-besaran.
Tetapi semua itu adalah kenangan masa lalu, setelah Baghdad jatuh ke tangan Mongol (1258), yakni 5 abad setelah islam mewarnai percaturan dunia. Perang salib selama 200 tahun cukup memberikan kesan yang mendalam terhadap barat. Barat mulai mempelajari ulang khazanah intelektual mereka melalui karya-karya ilmuwan muslim. Sementara itu, setelah jatuhnya Baghdad ada 3 kerajaan islam yang besar, yaitu kerajaan Turki Usmani, kerajaan Moghol di India dan kerajaan Safawi di Persi. Pada saat yang sama Barat menyusun kekuatan baru.
Hanya 250 tahun dari jatuhnya Baghdad, kerajaan islam di Spanyol telah diusir dari Cordova. Mulai tahun 1492, kerajaan islam di Spanyol telah musnah. Pada saat yang sama ekspedisi Columbus menemukan Benua Amerika. Bahkan rombongan Spanyol juga telah sampaai di Filipina pada tahun 1511 dan Portugal telah sampaai di Maluku. VOC Belanda memasuki Batavia tahun 1602. Dari sinilah abad kolonialisme dan imperialisme dimulai.[5]

3.    Pengelompokan Islam Normatif dan Islam Historis
Adapun Pengelompokkan Islam normatif dan Islam historis menurut Nasr Hamid Abu Zaid mengelompokkan menjadi tiga wilayah (domain)  :
1.      Wilayah teks asli Islam (the original text of Islam), yaitu Al-qur’an dan sunnah nabi Muhammad yang otentik
2.       Pemikiran Islam merupakan ragam menafsirkan terhadap teks asli Islam (Al-qur’an dan sunnah nabi Muhammad SAW). Dapat pula disebut hasil ijtihad terhadap teks asli Islam, seperti tafsir dan fikih. Secara rasional ijtihad dibenarkan, sebab ketentuan yang terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah itu tidak semua terinci, bahkan sebagian masih bersifat global yang membutuhkan penjabaran lebih lanjut. Di samping permasalahan kehidupan selalu berkembang terus, sedangkan secara tegas permasalahan yang timbul itu belum/tidak disinggung. Karena itulah diperbolehkan berijtihad, meski masih harus tetap bersandar kepada kedua sumber utamanya dan sejauh dapat memenuhi persyaratan. Dalam kelompok ini dapat di temukan empat pokok cabang : (1) hukum/fikih, (2) teologi, (3) filsafat,  (4) tasawuf.  Hasil ijtihad dalam bidang hukum muncul dalam bentuk : (1) fikih, (2) fatwa, (3) yurisprudensi (kumpulan putusan hakim), (4) kodifikasi/unifikasi, yang muncul dalam bentuk Undang-Undang dan komplikasi.
3.      Praktek yang dilakukan kaum muslim. Praktek ini muncul dalam berbagai macam dan bentuk sesuai dengan latar belakang sosial (konteks). Contohnya : praktek sholat muslim di Pakistan yang tidak meletakkan tangan di dada. Contohnya lainnya praktek duduk miring ketika tahiyat akhir bagi muslim Indonesia, sementara muslim di tempat/ negara lain tidak melakukannya.
Sementara Abdullah Saeed menyebut tiga tingkatan pula, tetapi dengan formulasi yang berbeda sebagai berikut :
1.      Nilai pokok/dasar/asas, kepercayaan, ideal dan institusi-institusi.
2.      Penafsiran terhadap nilai dasar tersebut, agar nilai-nilai dasar tersebut dapat dilaksanakan/dipraktekkan.
3.       Manifestasi atau pratek berdasarkan pada nilai-nilai dasar tersebut yang berbeda antara satu negara dengan negara lain, bahkan antara satu wilayah dengan wilayah lain. Perbedaan tejadi karena perbedaan penafsiran dan perbedaan konteks dan budaya.[6]

C. Pembabakan Sejarah Peradaban Islam
Sejarah berjalan dari masa lalu ke masa kini dan melanjutkan perjalanannya ke masa depan. Ketika sedang mempelajari suatu sejarah peradaban yang menyeluruh, kita tidak bisa lagi mengikuti mata rantai tunggal peristiwa-peristiwa dari satu titik kunci ke titik kunci lainnya, seperti yang mungkin kita lakukan ketika menelusuri asal usul dari komponen-komponen khusus suatu kebudayaan. Kita harus melihat bagaimana masyarakat tersebut berkembang secara bersama-sama dalam banyak bidang yang paralel dan saling terkait. Kita harus mengambil seluruh  bongkah waktu sekaligus, yaitu menyajikan satu peristiwa kemudian peristiwa lain dalam satu periode.[7] Saat mempelajari sejarah yang yang sudah berjalan cukup panjang, kita akan mengalami kesulitan-kesulitan jika tidak dibagi dalam babakan-babakan yang setiap babakan itu merupakan satu komponen yang memiliki ciri khusus dan merupakan satu kebulatan untuk satu jangka waktu. Rangkaian dari babakan sejarah yang termuat dalam satu kerangka inilah yang dinamakan pembabakan sejarah. Periodisasi ini berfungsi untuk mempermudah dalam menelaah dan memahami sejarah, termasuk sejarah peradaban Islam. [8]Dalam beberapa hal , semakin pendek jarak waktu yang kita pilih, maka semakin akurat pemahaman kita tentang perkembangan-perkembanganya.[9]
Ciri-ciri khusus untuk menetapkan satu babakan sejarah terpecah menjadi beberapa aliran, yaitu :
D.    Aliran yang menganggap ciri khusus tersebut adalah pada bentuk Negara atau pada system politik yang dianut oleh pemerintah Negara;
E.     Aliran yang menganggap  bahwa tingkat kemajuan ekonomilah yang menjadi ciri khususnya, dengan alasan faktor ekonomi sangat dominan dalam mendorong terjadinya proses integrasi sesuatu masyarakat, ekonomi merupakan faktor penting pula yang mempengaruhi integrasi social, politk, budaya, dan sebagainya;
F.      Aliran yang menganggap tingkat kemajuan peradaban sebagai cirri khusus;
G.    Aliran yang menganggap tingkat kemajuan kebudayaan sebagai cirri khusus;
H.    Aliran yang menganggap masuk dan berkembangnya suatu agama sebagai ciri khasnya.
Disamping terdapat perbedaan penetapan ciri khas dalam babakan sejarah yang akan menimbulkan perbedaan pembagian pembabakan sejarah Islam, para ahli sejarah juga berbea pendapat tentang kapan dimulainya sejarah Islam. Di satu pihak menyatakan bahwa sejarah Islam itu di mulai sejak Muhammad diangkat menjadi Rasul yang pada waktu itu beliau masih berada di Makkah, 13 tahun sebelum hijrah ke Madinah. Di lain pihak menyatakan bahwa sejarah Islam itu dimulai sejak lahirnya Negara Madinah, setelah Nabi hijrah ke Madinah yang sebelumnya bernama Yastrib.
Masing-masing mempunyai argumentasi sendiri-sendiri. Pihak pertama berargumentasi bahwa sejak Nabi berada di Makkah, telah lahir masyarakat muslim meskipun belum berdaulat. Dan 13 tahun periode Makkah tersebut harus dipandang sebagi masa penggemblengan dan lahirnya masyarakat pendukung Negara Madinah, baik mereka berasal dari penduduk Makkah sendiri maupun dari Madinah. Karena itulah peride Makkah dan peride Madinah tidak dapat dipisahkan. Argumentasi pihak kedua mengatakan bahwa masyarakat yang mandiri dan berdaulat baru terbentuk di Madinah, dimana beliau berperan sebagai Rasul Allah sekaligus sebagai kepala Negara berdasarkan PiagamMadinah. Pada saat itu Nabi SAW dan kaum muslim tidak lagi dikejar-kejar dan dianiaya, dan atau menjadi objek penghinaan, tetapi justru mereka menjadi orang-orang yang diharapkan mampu memberi perlindungan terhadap siapapun, baik muslim maupun non muslim, sejak itulah umat muslim  berperan sebagai pembawa perubahan dalam masyarakat dan karena itu sejarah Islam mulai terbentuk. Para ahli berbeda pendapat mengenai pembabakan sejarah peradaban Islam. Hasjmy menyatakan bahwa sejarah kebudayaan Islam dibagi menjadi sembilan periode, sesuai dengan perubahan politik, ekonomi dan social dalam masyarakat Islam. Kesembilan periodisasi tersebut adalah:
1.      Masa permulaan Islam, dimulai sejak lahirnya Islam yang ditandai dengan turunnnya wahyu pertama sampai tahun 661 M atau sepeninggal khalifah Ali bin Abi Thalib.
2.      Masa daulah Amawiyah, mulai tahu 41-32 H (651-750 M).
3.      Masa Daulah Abbasiyah I, mulai tahun 132-232 H (750-847 M).
4.      Masa Daulah Abbasiyah II, mulai tahun 232-334 H (847-946 M).
5.      Masa Daulah Abbasiyah III, mulai tahun 334-467 H (946-1075 M).
6.      Masa Daulah Abbasiyah IV, mulai tahun 467-656 H (1075-1261 M).
7.      Masa Daulah Mungoliyah, mulai tahun 656-925 H (1261-1520 M).
8.      Masa Daulah Usmaniyah, mulai tahun 925-1213 H (1520-1802 M).
9.      Masa Kebangkitan Baru, mulai tahun 1213 H (1801 M) sampai awal abad 20.
Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa periode sejarah peradaban Islam dimulai sejak Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Hal ini berarti mendukung peendapat pihak pertama  sebagaimana uraian di atas.
Nourouzzaman Shiddiqie juga sependapat dengan Hasjmy , ia menyatakan bahwa saat ini para sejarawan cenderung mengambil masyarakat sebagai unit sejarah. Sebab jika unit sejarah itu adalah negara maka ia mengandung kelemahan, yaitu bahwa batas Negara tidak selalu tetap. Dia telah membagi sejarah Islam menjadi tiga periode beserta ciri-cirinya sebagai berikut :
1.      Periode Klasik, yang dimulai sejak Rasulullah menyampaikan seruannya sampai masa runtuhnya Dinasti Abbasiyah pada tahun 656 H/1258 M. Ciri-cirinya adalah umat Islam mencapai prestasi-prestasi puncak di bidang peradaban. Bila dikaitkan dengan pendapat sebelumnya, maka periode ini dimulai sejak masa permulaan Islam sampai menjelang berakhirnya masa Daulah abbasiyah IV (nomor 1 s.d. 6).
2.      Periode pertengahan, dimulai sejak runtuhnya Dinasti Abbasiyah. Ciri-cirinya adalah kekuasaan politik terpecah-pecah dan saling memusuhi. Bila dikaitkan dengan pendapat sebelumnya, maka periode ini dimulai sejak  Daulah Mongoliyah dan Daulah Usmaniyah (nomor 7 dan 8).
3.      Periode modern, yaitu sejak abad ke 13 H/19 M sampai sekarang. Dalam periode ini umat Islam sudah tidak memilki kekuasaan politik yang disegani. Dinasti Turki Ustmani yang pernah menggedor pintu kota Wina sudah mendapat julukan  The Sick Man of Europe. Bukan saja Turki sudah tidak mampu memperluas wilayah kekuasaan politiknya, bahkan wilayah yang telah dikuasainya dibagi-bagi antara inggris, Perancis, dan Rusia. Wilayah Turki Ustmani ibarat sepotong kue yang menjadi rebutan antara kekuasaan-kekuasaan Barat.[10] 

Sejarah Perkembangan islam terbagi dalam 3 masa :
1.      Islam di Masa Awal
Terdapat dua pendapat tentang awal dimulainya sejarah islam pada masa Nabi. Pertama, mengatakan bahwa sejarah islam dimulai sejak nabi diangkat menjadi Rosul. Kedua, mengatakan bahwa sejarah islam dimulai semenjak nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah. Dan pendapat yang terkuat adalah pendapat yang kedua, karena tahun islam dimulai dengan hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M.
Pada masa Nabi, segala permasalahan tentang umat islam selalu dikembalikan kepadanya, sebagai rujukan umat islam. Setelah Nabi wafat, umat islam mulai berselisih masalah penentuan siapa yang berhak mengganti posisi kepemimpinan Nabi. Seluruh pemuka islam berkumpul di Tsaqifah Bani sa’idah untuk berunding masalah pengganti Nabi, dan akhirnya terjadi kesepakatan untuk mengangkat Abu bakar menjadi khalifah. Dalam periode kepemimpinannya, beliau berhasil menumpas kaum-kaum murtad dan kaum yang ingkar membayar zakat.
Setelah Abu Bakar wafat, Umar terpilih menjadi penerusnya. Penyebaran islam meluas ke luar jazirah Arabia bahkan dua kerajaan besar, Persia dan Romawi. Pada usia 63 tahun, beliau wafat dibunuh oleh abu Lu’luah al-Majusi dari Persia
Pengganti Umar adalah Usman bin Affan. Pada masa pemerintahan Usman telah berhasil disusun al-Qur’an dalam satu bentukbacaan yang sebelumnya memiliki banyak versi. Tujuannya agar umat islam bersatu. Akan tetapi, di kalangan umat islam terjadi perpecahan karena masalah kebijakan yang dilakukan oleh Usman dalam hal pembagian kekuasaan.
Pengganti Usman adalah ali bin abi Thalib. Perpecahan di kalangan umat islam semakin tajam dengan terbaginya umat islam karena perisiwa tahkim/arbitrase antara kelompok Ali dan kelompok mu’awwiyah.
Setelah masa Khulafa’ al-Rasyidin, pemerintaha islam dipegang Daulah Umaiyyahdengan khalifah pertama Mu’awwiyah bin abu Sufyan. Perselisishan intern yang terjadi dalam bentuk perebutan kekuasaan kemudian membawa pada keruntuhan. Maka kepemimpinan dalam islam dialnjutkan oleh Dinasti Abbasiyah yang didirikan oleh abu al-abbas. Fokus utama yng menjadi ciri khas dari kejayaan Dinasti abbasiyah adalah di bidang pengembangan keilmuan.



2.      Islam pada Periode Pertengahan
Periode ini ditandai dengan kemunduran total kekuasaan Islam di Baghdad. Muncul dinasti Umaiyyah periode kedua di Spanyol yang diproklamirkan oleh ‘Abd al-Rahman al-dakhil. Di Mesir juga muncul Dinasti Fathimiyyah yang beraliran Syi’ah, digantikan oleh Dinasti Ayyubiyah yang beraliran sunni dan berakhir tahun 1250 M, kemudian digantikan oleh Dinasti Mamlukkiyah sampai tahun 1517 M.
Dalam keadaan ini, muncullah tiga kerajaan besar islam yang mencoba untuk membangkitkan kembali kekuasaan islam, yaitu Utsmani di Turkey (1290-1924 M), Safawi di Persia (1501-1732 M) dan Mughal di India (1526-1858 M). Satu persatu ketiga kerajaan tersebut hancur dan digantikan dengan kekuatan lain. Kerajaan utsmani digantikan oleh Republik Turki, Safawi digantikan oleh Penjajah Inggris, dan kerajaan Mughal digantikan oleh penjajah Inggris, dan Mesir dikuasai Napoleon dari Prancis tahun 1798.

3.      Islam pada Periode modern
Periode modern disebut oleh Harun Nasution sebagai zaman kebangkitan islam. Ekspedisi Napoleon yang berakhir tahun 1801 membuka matra umat islam, terutama Turki dan Mesir, akan kelemahan umat islam di hadapan kekuatan Barat. Ekspedisi Napoleon di Mesir memperkenalkan ilmu pengetahuan dengan membawa 167 ahli. Dia membawa 2 set alat percetakan huruf Latin, Arab, dan Yunani. Ekspedisi ini bukan hanya membawa misi militer, tetapi juaga misi ilmiah. Napoleon membentuk lembaga ilmiah yang disebut dengan Institut d’Egypte.
Ide-ide baru yang diperkenalkan Napoleon di Mesir adalah sistem negara republik yang kepel negaranya dipilih untuk jangka waktu tertentu, persamaan (egalite) dan paham kebangsaan (nation). Para pemuka islam pun mulai berpikir dan mulai mencari jalan keluar untuk mengembalikan kejayaan umat islam. Maka muncullah gerakan pembaruan yang dilakukan di berbagai negara, seperti Turki dan Mesir.[11]

Badri Yatim membagi babak sejarah peradaban Islam ke delapan periode sebagai berikut :
1.      Masa kemajuan Islam I (650-1000 M).
a.       Khilafah Rasyidah,
b.      Khilafah Bani Umayah,
c.       Khilafah Bani Abbas.
2.      Masa disintegrasi (1000-1250 M).
a.       Dinasti-dinasti yang memerdekakan diri dari Bagdad,
b.      Perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan,
c.       Perang Salib,
d.      Sebab-sebab kemunduran pemerintahan Bani Abbas.
3.      Islam di Spanyol dan pengaruhnya terhadap Renaisans di Eropa.
a.       Masuknya Islam ke Spanyol,
b.      Perkembangan Islam di Spanyol,
c.       Kemajuan peradaban,
d.      Penyebab kemunduran dan kehancuran,
e.       Pengaruh peradaban Spanyol Islam di Eropa.
4.      Masa kemunduran (1250-1500 M).
a.       Bangsa Mongol dan Dinasti Ilkhan,
b.      Serangan-serangan Timur Lenk,
c.       Dinasti Mamluk di Mesir.
5.      Masa tiga kerajaan besar (1500-1800 M).
a.       Kerajaan Ustmani,
b.      Kerajaan Syafawi di Persia,
c.       Kerajaan Mughal di India,
d.      Perbedaan kemajuan masa ini dengan masa klasik.
6.      Masa kemunduran tiga kerajaan besar (1700-1800 M).
a.       Kemunduran dan kehancuran kerajaan Syafawi,
b.      Kemunduran dan runtuhnya kerajaan Mughal,
c.       Kemunduran kerajaan Ustman,
d.      Kemajuan Eropa (Barat).
7.      Penjajahan Barat atas dunia Islam dan perjuangan kemerdekaan Negara-negara Islam.
a.       Renaisans di Eropa,
b.      Penjajahan Barat terhadap dunia Islam di Anak Benua India dan Asia Tenggara,
c.       Kemunduran kerajaan Ustmani dan ekspansi Barat ke Timur Tengah,
d.      Bangkitnya nasionalisme di dunia Islam dan tumbuhnya gerakan partai yang memperjuangkan kemerdekaan negaranya,
e.       Kemerdekaan Negara-negara Islam dari penjajahan.
8.      Kedatangan Islam di Indonesia dan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.
Adapun Jaih Mubarok membagi periode peradaban Islam menjadi enam periode, yaitu :
1.      Peradaban Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW (610-632 M).
2.      Peradaban Islam pada zaman Al-Khlafa Ar-Rasyidin (632-661 M).
3.      Peradaban Islam pada zaman Umayah di Syiria (661-689 M) dan Andalusia (705-1031 M).
4.      Peradaban Islam pada zaman Dinasti Abbasiyah (133-656 H/750-1258 M).
a.       Periode awal Dinasti Abbasiyah,
b.      Kemajuan dan kemunduran Dinasti Abbasiyah,
c.       Berdirinya dinasti-dinasti  kecil di timur ataupun barat Baghdad.
5.      Peradaban tiga kerajaan besar Islam.
a.       Turki Ustmani (1300-1922 M) hingga Mustafa Kemal,
b.      Dinasti Syafawi (1501-1732 M) di Persia hingga Khumaini,
c.       Dinasti Mughal di India hingga terbentuknya Pakistan-Bangladesh.
6.      Peradaban Islam di Asia Tenggara.[12]

I.       Nilai Tawar Peradaban Islam
Nilai tawar adalah nilai keunggulan atau keistimewaan yang dimilki oleh sesuatu. Nilai tawar peradaban Islam adalah nilai keistimewaan yang dimiliki oleh peradaban Islam. Al-Siba’iy menjelaskan bahwa peradaban Islam memiliki beberapa keistimewaan, yaitu :
1.      Berdiri atas dasar keEsaan mutlak dalam aqidah. Ketinggian dalam memahami keEsaan ini memilki pengaruh besar dalam mengangkat martabat manusia dan membebaskan masyarakat-masyarakat dari penindasan raja-raja, para penguasa, orang-orang kuat dan para agamawan dan membetulkan hubungan antara para penguasa dan rakyat yang diperintahkan serta mengarahkan pandangan kepada Allah semata sebagai pencipta dan Tuhan pemilik seluruh alam.
2.      Memiliki risalah yang universal dan memberikan prinsip-prinsip moral dasar dalam seluruh sistem yang dipraktekkan dan telah mencapai tingkat tertinggi. Seperti masalah pemerintahan, hukum, peperangan, perdamaian, ekonomi, dan keluarga.
3.      Berpegang pada iman yang paling benar dan berdiri diatas aqidah dalam prinsipnya yang paling jernih, artinya peradaban Islam adalah satu-satunya peradaban dimana agama tidak terpisah dari dari negara dan juga tetap selamat dari percampuran antara keduanya. Kepala Negara merupakan khalifah dan pemimpin kaum mukminin, pemerintahannya adalah demi kebenaran, hukum dipegang oleh orang-orang yang ahli, setiap orang memilki kedudukan yang sama dihadapan hukum dan kelebihan seseorang atas lainnya adalah taqwa. Dengan kata lain bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang tidak memilki istilah istimewa untuk para pemimpin, agamawan, bangsawan maupun orang kaya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Kahfi : 110.
قُلْ اِنَّمَآ اَنَاْ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحَى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلهُكُمْ اِلهٌ وحِدٌ
“ Katakanlah (hai Muhammad), sesungguhnya aku adalah manusia biasa seperti kamu yang diwahyukan kepadaku : bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa.”
4.      Adanya toleransi agama yang mengagumkan.[13] Seperti





















DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, A. (1996). Studi Agama Normativitas atau Historisitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ampel, M. I. (2011). Pengantar Studi Islam. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.
Mudzar, A. (1998). Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek. Yogyakarta: pustaka Pelajar.
Nata, A. (2003). Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
S.J, F. (2008). Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah. Malang: UIN-Malang Press.
Supriyadi, D. (2008,cet X). Sejarah Peradaban Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.
Yatim, B. (2008). Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.




[1] Yatim,Badri,sejarah peradaban islam(Jakarta;PT Raja Grafindo Persada,2008),hlm.1-2
[2] Abuddin Nata,Metodologi Studi Islam(Jakarta;PT Raja Grafindo Persada,2003),hlm.314
[3] Fadil S. J, Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah (Malang: UIN-Malang Press, 2008)
[4] Supriyadi, dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.
[5] Abdullah, Amin. 1996. Studi Agama Normativititas atau Historisitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 200
[6] Mudzar, Atho. 1998. Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal1
[7] Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam Conscience and History in a World Civilization (Jakarta Selatan: Paramadina, 2002), 11-12.
[8] Fadil S. J, Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah (Malang: UIN-Malang Press, 2008), 34-35.
[9] Hodgson, The Venture…, 12.
[10] Fadil, Pasang Surut…, 35-40.
[11] MKD IAIN Sunan Ampel. 2011. Pengantar Studi Islam. Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.
[12] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008, cet X), 21-23.
[13] Fadil, Pasang Surut…, 26-31.

1 komentar: