BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Cinta adalah masuknya sifat-sifat yang
mencintainya, maksudnya orang yang mencintai itu selalu memuji-muji orang yang
dicintainya. Sehingga orang yang mencintai ituakan tenggelam dalam ingatan
sifat-sifat dirinya sendiri serta perasaan yang dimilikinya. Oleh karena itu
jika orang dilanda jatuh cinta maka ia akan selalu memuji, sama halnya kepada
Rasulullah, bagi siapa yang mencintainya maka ia akan senantiasa memuji dan
bersholawat kepadanya. Karena salah satu bukti seorang hamba itu mencintai
rasulullah ialah dengan senantiasa memuliakan Nabi.
Sebagai umat Nabi Muhammad sudah
selayaknya kita mencintai dan menjadikan beliau sebagai panutan umat. Nabiyyuna
Muhammad SAW di utus, tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia
dari kebiadaban menuju umat yang berkedaban, sebagaimana sabda beliau SAW:
“Sesungguhnya aku diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak” . Oleh
karena itu sudah selayaknya kita sebagai pengikut beliau untuk mengikuti
sunnah-sunnah beliau, salah satunya adalah berakhlak sesuai dengan akhlak Nabi
SAW. Begitu pentingnya akhlak, maka dalam makalah ini akan dibahas akhlak
terhadap Allah SWT dan rasulNya, yakni Nabi Muhammad SAW.
Sebagaimana yang kita ketahui, mencintai
Rasul sudah menjadi peringkat teratas setelah kecintaan kita kepada Allah.
Jadi, sebagai muslim sejati kita sepatutnya mencintai Rasul sang pemilik jubah
syafa’at dan memiliki pedang Rahmat, yang mana keduanya itu selalu kita
harapkan di akhirat kelak. Dan karena beliaulah yang telah membawa kita menuju
jalan Allah.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
hadist dan takhrij dalam mengikuti dan mencintai rosulullah SAW ?
2.
Bagaimana
deskripsi dari mengikuti dan mencintai rosulullah SAW ?
3.
Bagaimana
pendapat ulama’ dalam mengikuti dan mencintai rosulullah SAW ?
4.
Apa
korelasi dari mencintai dan mengikuti rosulullah SAW di dalam keimanan dan
kehidupan bermasyarakat ?
C.
Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui hadist dan takhrij dalam
mengikuti dan mencintai rosulullah SAW
2. Untuk mengetahui definisi dari mengikuti
dan mencintai rosulullah SAW
3. Untuk mengetahui pendapat ulama’ dalam
mengikuti dan mencintai rosulullah SAW
4. Untuk mengetahui korelasi dari mencintai
dan mengikuti rosulullah SAW di dalam keimanan dan bermasyarakat
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hadits mengikuti dan mencintai rasulullah SAW
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ ماجه ابن - وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Basysyar dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya berkata; telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah
berkata; Aku mendengar Qotadah dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Salah seorang dari kalian tidak
akan beriman hingga aku menjadi orang yang paling dicintainya dari pada
anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya." (IBNU MAJAH - 66).[1]
1.
Takhrij
Hadits :
a.
Sunan
Ibnu Majah No. 66
Rosulullah SAW => Anas bin Malik
=> Qatadah => Syu’bah => Muhammad bin Ja'far => Muhammad
bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar.
b.
Shahih
Bukhari No. 13
Rosulullah SAW => Abu
Hurairah => Abu Az Zanad dari Al A'raj => Syu'aib => Abu Al Yaman
c.
Shahih
Bukhari No. 14
Rosulullah SAW => Anas
=> Qotadah => Syu'bah => Adam
d.
Musnad
Ahmad No. 12349
Rosulullah SAW => Anas
bin Malik => Qotadah => Syu'bah => Hajjaj => Muhammad bin Ja'far.[3]
e.
Musnad
Ahmad No. 12676
(1.)
Rosulullah
SAW => Anas bin Malik => Qotadah => Syu'bah
=> Rauh
f.
Musnad
Ahmad No. 13402
Rosulullah SAW => Anas
bin Malik => Qotadah => Syu'bah => Hajjaj => Muhammad bin Ja'far.[5]
g.
Musnad
Ahmad No. 13449
(1.)
Rosulullah
SAW => Anas bin Malik => Qotadah => Syu'bah
=> Rauh
h.
Musnad
Ahmad No. 17355
Rosulullah SAW => Umar
bin Khattab => Kakeknya Zuhrah bin Ma'bad => Zuhrah bin Ma'bad => Ibnu
Lahi'ah => Qutaibah bin Sa'id.[7]
i.
Musnad
Ahmad No. 18193
Rosulullah SAW => Umar
bin Khattab => Kakeknya Zuhrah bin Ma'bad => Zuhrah bin Ma'bad => Ibnu
Lahi'ah => Qutaibah bin Sa'id.[8]
j.
Sunan
Ad-Darimi No. 2624
Rosulullah SAW => Abdullah => Abu
Wa`il => Al A'masy => Sufyan => Muhammad bin Yusuf.[9]
B.
Mengikuti dan mencintai Rasulullah SAW
1.
Mengikuti dan menaati Rasulullah SAW
Mengikuti
dan menaati Rasul merupakan sesuatu yang bersifat mutlak bagi orang-orang yang
beriman. Karena itu, hal ini menjadi salah satu bagian penting dari akhlak
kepada Rasul, bahkan Allah SWT akan menempatkan orang yang mentaati Allah dan
Rasul ke dalam derajat yang tinggi dan mulia, hal ini terdapat dalam firman
Allah:
Artinya : Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan
bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu:
Nabi-nabi, Para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang
saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS An-Nisaa:69).
[314] Ialah: orang-orang yang Amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran
rasul, dan Inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut
dalam surat Al Faatihah ayat 7.[10]
Demikian pula besarnya cinta Bilal
kepada nabi. Dikisahkan waktu muadzin nabi itu hendak menghembuskan nafasnya
yang terakhir, beberapa sahabat yang menyaksikan berkata : “aduh betapa pedih
hati kami”. Mendengar kata-kata itu justru Bilal menjawab “Wahai sahabat betapa
gembira hatiku, esok aku akan bertemu dengan nabi Muhammad SAW”.[11]
Demikianlah gambaran betapa cintanya
Tsauban dan Bilal kepada junjungannya nabi Muhammad SAW. Demikan pula kecintaan
para sahabat nabi yang lain kepada beliau.Disamping mencintai rosulullah SAW,
kita juga seharusnya mencintai orang-orang yang dicintai oleh beliau. Karena
rosulullah SAW melarang umatnya mencela sahaba-sahabat beliau. Sebagai mana
disebutkan dalam HR Bukhari bahwa :
“Janganlah
kamu mencela asahabt-sahabatku. Andaikata seorang diantara kamu memberi infaq
emas sebesar gunung Uhud, tidak akan sampai menyamai satu mud (infaq) salah
seorang diantara mereka, bahkan setengah mud pun tidak”.(HR. Bukhari)
Disamping
itu, manakala kita telah mengikuti dan mentaati Rasul SAW akan mencintai kita
yang membuat kita begitu mudah mendapatkan ampunan dari Allah manakala kita
melakukan kesalahan, Allah berfirman:
Artinya : Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah
Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran:31).[12]
Oleh karena itu, dengan izin Allah
Swt, Rasulullah SAW diutus memang untuk ditaati, Allah SWT berfirman:
Artinya : Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan
seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya[313] datang
kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk
mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang.(An-Nisa’:64)
[313] Ialah: berhakim kepada selain Nabi Muhammad SAW.[13]
Manakala
manusia telah menunjukkan akhlaknya yang mulia kepada Rasul dengan mentaatinya,
maka ketaatan itu berarti telah disamakan dengan ketaatan kepada Allah SWT.
Dengan demikian, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi seperti dua sisi
mata uang yang tidak boleh dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Allah berfirman:
Artinya : Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati
Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak
mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka[321]. (Qs.An-Nisa’:80)
[321] Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan
tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan.[14]
Mengikuti dan menaati Rasullulah SAW
,berarti mengikuti jalan lurus tersebut dengan mematuhi segala rambu-rambunya.
Rambu-rambu jalan lurus tersebut adalah segala aturan kehidupan yang dibawa
oleh Rasulullah SAW yang terlembagakan.
2.
Mencintai dan memuliakan Rasulullah
SAW
Keharusan
yang harus kita tunjukkan dalam akhlak yang baik kepada Rasul adalah mencintai
beliau setelah kecintaan kita kepada Allah SWT. Sebab beliau adalah orang yang
dekat dengan Allah SWT, yang mengenalkan kepada-Nya, menyampaikan syariat-Nya,
dan yang menjelaskan hukum-hukumnya. Dan tidaklah seorang masuk surga kecuali
dengan mentaati dan mengikuti rosulullah SAW. Dalam suatu hadits disebutkan :
“Ada tiga perkara yang jika
seseorang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu bila Allah dan
rosul-Nya lebih ia cintai dari pada selain keduanya, dan tidak mencintai
seseorang karena Allah serta benci kembali kepada kekufuran setelah Allah
menyelamatkan daripadanya, sebagaimana ia benci untuk dilempar ke neraka”. (HR. Muttafaq ‘alaih).[15]
Kecintaan kepada Allah SWT dan
Rosul-Nya merupakan parameter keimanan seseorang. Jika ia masih menomor
duakan kecintaan kepada beliau dibawah kecintaan selain beliau, maka
seseorang itu belum dikatakan sungguh-sungguh dalam mencintai Rasulullah SAW.
Disamping itu manakala seseorang yang telah beriman tapi lebih mencintai yang
selain Allah dan Rasul-Nya maka Rasulullah tidak mengakuinya sebagai orang yang
beriman. Sesuai dengan sabda beliau yang berbunyi :
“Tidaklah
sempurna iman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai dari pada
anaknya, orang tuanya, dan segenap manusia”.(HR. Muttafaq ‘alaih).
Sebagai
konsekuensi dari menempatkan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya sebagai cinta
yang utama dan paling utama, maka tentu saja cinta kepada orangtua,
anak-anak,suami atau isteri, sanak saudara, harta benda, dll harus ditempatkan
dibawah cinta kedua cinta tersebut (termasuk dibawah cinta kepada jihad pada
jalan selain Allah SWT ).
Penegasan
bahwa urutan kecintaan kepada Rasul setelah kecintaan kepada Allah disebutkan dalam
firman Allah :
Artinya : Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara,
isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan
yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah
lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Qs. At-Taubah : 24).[16]
Berdagang misalnyaa, termasuk
perwujudan dari cinta terhadap harta benda. Tapi bila dengan berdagang
seseorang tidak lagi memperdulikan haram dan halal, menghalalkan segala cra
untuk mencari keuntungan, atau dengan ungkapan lain tidak lagi menghiraukan
aturan Allah SWT dan rosul-Nya, maka cinta terhadap harta benda itu telah
mengalahkan cintanya kepada Allah SWT dan rosul-Nya. Orang-orang seperti inilah
yang mendapat peringatan keras diatas.
Mencintai ajaran yang di bawanya,
Nabi Muhammad SAW, bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya: Rosulullah SAW bersabda, Tidak beriman salah seorang diantaramu,
sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada dirinya sendiri, orang tuanya,
anaknya dan manusia semuanya. (H.R. Bukhari Muslim).
a.
Hukum mencintai Rasullulah SAW
1)
Wajib mencintai beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam melebihi cinta kita kepada diri sendiri
2)
Wajib mencintai beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam melebihi cinta kita kepada orang tua dan anak-anak kita
3)
Wajib mencintai beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam melebihi cinta kita kepada seluruh keluarga,harta dan manusia[17]
b.
Cara mewujudkan rasa cinta kepada
Rasulullah SAW
1)
Mencintai Allah ta’ala di
atas segala sesuatu
2)
Mengedepankan cinta Nabi di atas
segala sesuatu terkecuali cinta kepada Allah serta mendahulukan perkataan dan
perintahnya dari perkataan dan perintah selainnya
3)
Membenarkan semua apa yang dikatakan
dan dikabarkan oleh beliau dan tidak ragu untuk menerima dan mengamalkan
hadits-hadits yang shahih
4)
Mentaati apa-apa yang diperintahkan
dan menjauhi apa-apa yang dilarang olehnya
5)
Tidak beribadah kecuali dengan apa
yang Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan/bawa
6)
Mengagungkan sunnah, atsar dan
dalil-dalil syar’i
7)
Menghormati, membanggakan dan memuji
orang-orang yang mengamalkan dan menghidupkan sunnah
8)
Menghormati dan mencintai Ahlu bait
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penghormatan dan kecintaan
yang layak untuk mereka
9)
Mencintai para sahabat Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, menyebut-nyebut kebaikan dan keutamaan mereka dan
berdiam diri atas pertikaian yang terjadi di antara mereka
10)
Banyak membaca buku-buku
sejarah hidup beliau
11)
Banyak membaca hadits-hadits beliau
serta menghapal, mengamalkan dan mendakwahkannya
12)
Menentang orang-orang yang mengejek
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang menyelisihi sunnah
13)
Membersihkan hadis-hadis yang shahih
dan hasan dari hadis-hadis yang dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu)
yang dinisbatkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
mencukupkan diri beramal dengan hadis-hadis yang shahih.[18]
C.
Pendapat Ulama’ dalam Mengikuti dan Mencintai
Rasulullah SAW
1.
Imam
Abu Hanifah
Para
(ulama) sahabat atau pengikut beliau telah meriwayatkan berbagai pendapat dan
ungkapan yang semuanya menegaskan suatu hal, yaitu wajibnya berpedoman/beramal
dengan hadits dan meninggalkan sikap taklid kepada pendapat-pendapat imam yang
berbeda dengan hadits (shahih) tersebut.
2.
Imam
Malik
Saya
hanyalah seorang manusia biasa, bisa salah dan bisa benar. Karena itu lihatlah
pendapatku, maka semua yangsdengan al-kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah,
ambillah. Dan semua yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah,
tinggalkan.
Tidak
ada satupun setelah nabi SAW, melainkan boleh diambil ucapannya dan boleh
ditinggalkan, kecuali nabi SAW.
3.
Imam
Syafi’i
Semua
yang sudah saya katakan, dan dari nabi SAW dari haditsnya yang shahih ternyata
berbeda dengan pendapatku, maka hadits
nabi SAW itu lebih utama (untuk diikuti), maka janganlah kamu taklid kepadaku.
4.
Imam Ahmad
Ittiba’ (mengikuti) itu ialah
seornag mengikuti semua yang datang dari Nabi SAW dan paran sahabatnya. Semua
yang datang dari Nabi SAW dan para sahabatnya, maka peganglah/pedomanilah.
D.
Korelasi dari Mencintai dan Mengikuti Rasulullah SAW
di dalam keimanan dan Bermasyarakat
Kecintaan kepada Allah SWT dan
Rosul-Nya merupakan parameter keimanan seseorang. Jika ia masih menomor
duakan kecintaan kepada beliau dibawah kecintaan selain beliau, maka
seseorang itu belum dikatakan sungguh-sungguh dalam mencintai Rasulullah SAW.
Disamping itu manakala seseorang yang telah beriman tapi lebih mencintai yang
selain Allah dan Rasul-Nya maka Rasulullah tidak mengakuinya sebagai orang yang
beriman. Sesuai dengan sabda beliau yang berbunyi :
“Tidaklah
sempurna iman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai dari pada
anaknya, orang tuanya, dan segenap manusia”.(HR. Muttafaq ‘alaih).
Sebagai
konsekuensi dari menempatkan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya sebagai cinta
yang utama dan paling utama, maka tentu saja cinta kepada orangtua,
anak-anak,suami atau isteri, sanak saudara, harta benda, dll harus ditempatkan
dibawah cinta kedua cinta tersebut (termasuk dibawah cinta kepada jihad pada
jalan selain Allah SWT ). Dan tidaklah seorang masuk surga kecuali dengan
mentaati dan mengikuti rosulullah SAW. Lebih dari itu, manisnya iman akan
dirasakan seorang muslim jika dia menjadikan Allah dan Rasulnya lebih dia
cintai dari pada ragam kecintaannya kepada sekelilingnya.
Dalam kitab Min Muqawwimat
An-Nafsiyah Al-Islamiyah “arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya
adalah mentaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya”. Al Baidhawi
berkata : “cinta adalah keinginan untuk taat”. Al Zujaj juga berkata : “cinta
manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mentaati keduanya serta meridhai
segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah SAW.
Kecintaan kita kepada Rasulullah
SAW, mengharuskan kita untuk menyelaraskan semua hal yang terkait dengan
pribadi maupun lingkungan sosial disekitar kita. Dengan mencintai Rasulullah
secara otomatis kita akan mencontoh dan meniru sifat-sifat baik Rasulullah dan
mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat.
Jika kita mampu melakukan itu semua
maka kita akan memperoleh ketenangan jiwa atau kedamaian dalam kehidupan kita.
BAB III
KESIMPULAN
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar
dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata;
Aku mendengar Qotadah dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Salah seorang dari kalian tidak akan beriman
hingga aku menjadi orang yang paling dicintainya dari pada anaknya, orang
tuanya dan manusia semuanya." (IBNU MAJAH - 66)
Mengikuti dan mentaati Rasul merupakan sesuatu yang bersifat
mutlak bagi orang-orang yang beriman. Karena itu, hal ini menjadi salah satu
bagian penting dari akhlak kepada Rasul, bahkan Allah SWT akan menempatkan
orang yang mentaati Allah dan Rasul ke dalam derajat yang tinggi dan mulia,
keharusan yang harus kita tunjukkan dalam akhlak yang baik kepada Rasul adalah
mencintai beliau setelah kecintaan kita kepada Allah SWT. Sebab beliau adalah
orang yang dekat dengan Allah SWT, yang mengenalkan kepada-Nya, menyampaikan
syariat-Nya, dan yang menjelaskan hukum-hukumnya. Dan tidaklah seorang masuk
surga kecuali dengan mentaati dan mengikuti rosulullah SAW.
Ada empat ulama’ yang menjelaskan tentang mencintai dan
mengikuti Rasullah SAW yaitu : Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i,
Imam Ahmad, akan tetapi inti dari pendapat masing-masing ulama’ tersebut adalah
hadits
nabi SAW itu lebih utama (untuk diikuti) dari pada pendapat ulama’ tersebut.
Kecintaan kepada Allah SWT dan
Rosul-Nya merupakan parameter keimanan seseorang. Jika ia masih menomor
duakan kecintaan kepada beliau dibawah kecintaan selain beliau, maka
seseorang itu belum dikatakan sungguh-sungguh dalam mencintai Rasulullah SAW.
Disamping itu manakala seseorang yang telah beriman tapi lebih mencintai yang
selain Allah dan Rasul-Nya maka Rasulullah tidak mengakuinya sebagai orang yang
beriman. Kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, mengharuskan kita untuk
menyelaraskan semua hal yang terkait dengan pribadi maupun lingkungan sosial
disekitar kita. Dengan mencintai Rasulullah secara otomatis kita akan mencontoh
dan meniru sifat-sifat baik Rasulullah dan mengaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat.
Jika kita mampu melakukan itu semua
maka kita akan memperoleh ketenangan jiwa atau kedamaian dalam kehidupan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Ad-Darimi, Sunan. “Kitab
budak- Salah seorang diantara kalian tak dianggap beriman hingga mencintai
saudaranya”
Ahmad, Musnad. “Musnad
penduduk Kufah- Kakek Zuhrah bin Ma'bad Radliyallahu ta'ala 'anhu”
Ahmad, Musnad. “Musnad
penduduk Syam-Hadits Abdullah bin Hisyam Kakek Zahrah bin Ma'bad Radliyallahu
ta'ala”
Ahmad, Musnad. “Sisa
Musnad Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits- Musnad Anas bin Malik
Radliyallahu 'anhu
Bukhari, Shahih. “Iman-Mencintai
Rasulullah bagian dari Iman"
Departemen Agama. 2011. “Al HidayahAl-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid
Kode Angka”, Tangerang : PT. Kalim
http://alfutuchat.wordpress.com/2010/06/24/2-pengertian-akhlak-menurut-istilah/
http://hapidzcs.blogspot.com/2011/12/akhlak-kepada-Rasulullah
SAW.html
Majah, Ibnu.”Mukadimah-Iman”
Mu’adz Haqqi, Ahmad. 2003.
1421 H/ 200 M,al-arba’una Haditsan fi
Akhlaq ma’a syarhiha,dar tuwaiq,cet 3, penerjemah Abu Azka.syarah 40 hadits tentang akhlak. Jakarta:
Pustaka Azzam
Shalih. 2009. “Kitab
Tauhid 3”. Jakarta : Darul Haq
Tatapangarsa, Humaidi. 1991.
“Akhlaq yang Mulia”. Surabaya : Bina Ilmu
mantab! ittiba' rasul
BalasHapus