Pages

Sabtu, 10 Oktober 2015

Makalah Mencintai dan Mengikuti Rasulullah SAW



BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Cinta adalah masuknya sifat-sifat yang mencintainya, maksudnya orang yang mencintai itu selalu memuji-muji orang yang dicintainya. Sehingga orang yang mencintai ituakan tenggelam dalam ingatan sifat-sifat dirinya sendiri serta perasaan yang dimilikinya. Oleh karena itu jika orang dilanda jatuh cinta maka ia akan selalu memuji, sama halnya kepada Rasulullah, bagi siapa yang mencintainya maka ia akan senantiasa memuji dan bersholawat kepadanya. Karena salah satu bukti seorang hamba itu mencintai rasulullah ialah dengan senantiasa memuliakan Nabi.
Sebagai umat Nabi Muhammad sudah selayaknya kita mencintai dan menjadikan beliau sebagai panutan umat. Nabiyyuna Muhammad SAW di utus, tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia dari kebiadaban menuju umat yang berkedaban, sebagaimana sabda beliau SAW: “Sesungguhnya aku diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak” . Oleh karena itu sudah selayaknya kita sebagai pengikut beliau untuk mengikuti sunnah-sunnah beliau, salah satunya adalah berakhlak sesuai dengan akhlak Nabi SAW. Begitu pentingnya akhlak, maka dalam makalah ini akan dibahas akhlak terhadap Allah SWT dan rasulNya, yakni Nabi Muhammad SAW.
Sebagaimana yang kita ketahui, mencintai Rasul sudah menjadi peringkat teratas setelah kecintaan kita kepada Allah. Jadi, sebagai muslim sejati kita sepatutnya mencintai Rasul sang pemilik jubah syafa’at dan memiliki pedang Rahmat, yang mana keduanya itu selalu kita harapkan di akhirat kelak. Dan karena beliaulah yang telah membawa kita menuju jalan Allah.

B.            Rumusan Masalah
1.             Apa hadist dan takhrij dalam mengikuti dan mencintai rosulullah SAW ?
2.             Bagaimana deskripsi dari mengikuti dan mencintai rosulullah SAW ?
3.             Bagaimana pendapat ulama’ dalam mengikuti dan mencintai rosulullah SAW ?
4.             Apa korelasi dari mencintai dan mengikuti rosulullah SAW di dalam keimanan dan kehidupan bermasyarakat ?

C.           Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui hadist dan takhrij dalam mengikuti dan mencintai rosulullah SAW
2.      Untuk mengetahui definisi dari mengikuti dan mencintai rosulullah SAW
3.      Untuk mengetahui pendapat ulama’ dalam mengikuti dan mencintai rosulullah SAW
4.      Untuk mengetahui korelasi dari mencintai dan mengikuti rosulullah SAW di dalam keimanan dan bermasyarakat


BAB II
PEMBAHASAN

A.         Hadits mengikuti dan mencintai rasulullah SAW
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ  ماجه ابن - وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata; Aku mendengar Qotadah dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Salah seorang dari kalian tidak akan beriman hingga aku menjadi orang yang paling dicintainya dari pada anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya." (IBNU MAJAH - 66).[1]

1.             Takhrij Hadits :
a.             Sunan Ibnu Majah No. 66
Rosulullah SAW => Anas bin Malik => Qatadah => Syu’bah => Muhammad bin Ja'far => Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar.
b.             Shahih Bukhari No. 13
Rosulullah SAW => Abu Hurairah => Abu Az Zanad dari Al A'raj => Syu'aib => Abu Al Yaman
c.             Shahih Bukhari No. 14
Rosulullah SAW => Anas => Qotadah => Syu'bah => Adam
=> Abdul 'Aziz bin Shuhaib => Ibnu 'Ulayyah => Ya'qub bin Ibrahim.[2]
d.             Musnad Ahmad No. 12349
Rosulullah SAW => Anas bin Malik => Qotadah => Syu'bah => Hajjaj => Muhammad bin Ja'far.[3]
e.             Musnad Ahmad No. 12676
(1.)        Rosulullah SAW => Anas bin Malik => Qotadah => Syu'bah => Rauh
(2.)        Rosulullah SAW => Anas bin Malik => Tholq Bin Habib => Manshur => Syu'bah => Rauh.[4]
f.              Musnad Ahmad No. 13402
Rosulullah SAW => Anas bin Malik => Qotadah => Syu'bah => Hajjaj => Muhammad bin Ja'far.[5]
g.             Musnad Ahmad No. 13449
(1.)        Rosulullah SAW => Anas bin Malik => Qotadah => Syu'bah => Rauh
(2.)        Rosulullah SAW => Anas bin Malik => Tholq Bin Habib => Manshur => Syu'bah => Rauh.[6]
h.             Musnad Ahmad No. 17355
Rosulullah SAW => Umar bin Khattab => Kakeknya Zuhrah bin Ma'bad => Zuhrah bin Ma'bad => Ibnu Lahi'ah => Qutaibah bin Sa'id.[7]
i.               Musnad Ahmad No. 18193
Rosulullah SAW => Umar bin Khattab => Kakeknya Zuhrah bin Ma'bad => Zuhrah bin Ma'bad => Ibnu Lahi'ah => Qutaibah bin Sa'id.[8]
j.               Sunan Ad-Darimi No. 2624
Rosulullah SAW => Abdullah => Abu Wa`il => Al A'masy => Sufyan => Muhammad bin Yusuf.[9]


B.            Mengikuti dan mencintai Rasulullah SAW
1.             Mengikuti dan menaati Rasulullah SAW
Mengikuti dan menaati Rasul merupakan sesuatu yang bersifat mutlak bagi orang-orang yang beriman. Karena itu, hal ini menjadi salah satu bagian penting dari akhlak kepada Rasul, bahkan Allah SWT akan menempatkan orang yang mentaati Allah dan Rasul ke dalam derajat yang tinggi dan mulia, hal ini terdapat dalam firman Allah:

Artinya : Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS An-Nisaa:69).
[314] Ialah: orang-orang yang Amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan Inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.[10]
Demikian pula besarnya cinta Bilal kepada nabi. Dikisahkan waktu muadzin nabi itu hendak menghembuskan nafasnya yang terakhir, beberapa sahabat yang menyaksikan berkata : “aduh betapa pedih hati kami”. Mendengar kata-kata itu justru Bilal menjawab “Wahai sahabat betapa gembira hatiku, esok aku akan bertemu dengan nabi Muhammad SAW”.[11]
Demikianlah gambaran betapa cintanya Tsauban dan Bilal kepada junjungannya nabi Muhammad SAW. Demikan pula kecintaan para sahabat nabi yang lain kepada beliau.Disamping mencintai rosulullah SAW, kita juga seharusnya mencintai orang-orang yang dicintai oleh beliau. Karena rosulullah SAW melarang umatnya mencela sahaba-sahabat beliau. Sebagai mana disebutkan dalam HR Bukhari bahwa :
Janganlah kamu mencela asahabt-sahabatku. Andaikata seorang diantara kamu memberi infaq emas sebesar gunung Uhud, tidak akan sampai menyamai satu mud (infaq) salah seorang diantara mereka, bahkan setengah mud pun tidak”.(HR. Bukhari)
Disamping itu, manakala kita telah mengikuti dan mentaati Rasul SAW akan mencintai kita yang membuat kita begitu mudah mendapatkan ampunan dari Allah manakala kita melakukan kesalahan, Allah berfirman:
Artinya : Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran:31).[12]
Oleh karena itu, dengan izin Allah Swt, Rasulullah SAW diutus memang untuk ditaati, Allah SWT berfirman:
  
Artinya : Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya[313] datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(An-Nisa’:64)
[313] Ialah: berhakim kepada selain Nabi Muhammad SAW.[13]
Manakala manusia telah menunjukkan akhlaknya yang mulia kepada Rasul dengan mentaatinya, maka ketaatan itu berarti telah disamakan dengan ketaatan kepada Allah SWT. Dengan demikian, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi seperti dua sisi mata uang yang tidak boleh dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Allah berfirman:
Artinya : Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka[321]. (Qs.An-Nisa’:80)
[321] Rasul tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan mereka dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan.[14]
Mengikuti dan menaati Rasullulah SAW ,berarti mengikuti jalan lurus tersebut dengan mematuhi segala rambu-rambunya. Rambu-rambu jalan lurus tersebut adalah segala aturan kehidupan yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang terlembagakan.
2.             Mencintai dan memuliakan Rasulullah SAW
Keharusan yang harus kita tunjukkan dalam akhlak yang baik kepada Rasul adalah mencintai beliau setelah kecintaan kita kepada Allah SWT. Sebab beliau adalah orang yang dekat dengan Allah SWT, yang mengenalkan kepada-Nya, menyampaikan syariat-Nya, dan yang menjelaskan hukum-hukumnya. Dan tidaklah seorang masuk surga kecuali dengan mentaati dan mengikuti rosulullah SAW. Dalam suatu hadits disebutkan :
“Ada tiga perkara yang jika seseorang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu bila Allah dan rosul-Nya lebih ia cintai dari pada selain keduanya, dan tidak mencintai seseorang karena Allah serta benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan daripadanya, sebagaimana ia benci untuk dilempar ke neraka”. (HR. Muttafaq ‘alaih).[15]
Kecintaan kepada Allah SWT dan Rosul-Nya merupakan parameter keimanan seseorang. Jika ia masih menomor duakan  kecintaan kepada beliau dibawah kecintaan selain beliau, maka seseorang itu belum dikatakan sungguh-sungguh dalam mencintai Rasulullah SAW. Disamping itu manakala seseorang yang telah beriman tapi lebih mencintai yang selain Allah dan Rasul-Nya maka Rasulullah tidak mengakuinya sebagai orang yang beriman. Sesuai dengan sabda beliau yang berbunyi :
Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai dari pada anaknya, orang tuanya, dan segenap manusia”.(HR. Muttafaq ‘alaih).
        Sebagai konsekuensi dari menempatkan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya sebagai cinta yang utama dan paling utama, maka tentu saja cinta kepada orangtua, anak-anak,suami atau isteri, sanak saudara, harta benda, dll harus ditempatkan dibawah cinta kedua cinta tersebut (termasuk dibawah cinta kepada jihad pada jalan selain Allah SWT ).
Penegasan bahwa urutan kecintaan kepada Rasul setelah kecintaan kepada Allah disebutkan dalam firman Allah :
Artinya : Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Qs. At-Taubah : 24).[16]
Berdagang misalnyaa, termasuk perwujudan dari cinta terhadap harta benda. Tapi bila dengan berdagang seseorang tidak lagi memperdulikan haram dan halal, menghalalkan segala cra untuk mencari keuntungan, atau dengan ungkapan lain tidak lagi menghiraukan aturan Allah SWT dan rosul-Nya, maka cinta terhadap harta benda itu telah mengalahkan cintanya kepada Allah SWT dan rosul-Nya. Orang-orang seperti inilah yang mendapat peringatan keras diatas.
Mencintai ajaran yang di bawanya, Nabi Muhammad SAW, bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ  وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya: Rosulullah SAW bersabda, Tidak beriman salah seorang diantaramu, sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya dan manusia semuanya. (H.R. Bukhari Muslim).
a.             Hukum mencintai Rasullulah SAW
1)             Wajib mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi cinta kita kepada diri sendiri
2)             Wajib mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi cinta kita kepada orang tua dan anak-anak kita
3)             Wajib mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi cinta kita kepada seluruh keluarga,harta dan manusia[17]
b.             Cara mewujudkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW
1)             Mencintai Allah ta’ala di atas segala sesuatu
2)             Mengedepankan cinta Nabi di atas segala sesuatu terkecuali cinta kepada Allah serta mendahulukan perkataan dan perintahnya dari perkataan dan perintah selainnya
3)             Membenarkan semua apa yang dikatakan dan dikabarkan oleh beliau dan tidak ragu untuk menerima dan mengamalkan hadits-hadits yang shahih
4)             Mentaati apa-apa yang diperintahkan dan menjauhi apa-apa yang dilarang olehnya
5)             Tidak beribadah kecuali dengan apa yang Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan/bawa
6)             Mengagungkan sunnah, atsar dan dalil-dalil syar’i
7)             Menghormati, membanggakan dan memuji orang-orang yang mengamalkan dan menghidupkan sunnah
8)             Menghormati dan mencintai Ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penghormatan dan kecintaan yang layak untuk mereka
9)             Mencintai para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyebut-nyebut kebaikan dan keutamaan mereka dan berdiam diri atas pertikaian yang terjadi di antara mereka
10)         Banyak membaca buku-buku sejarah  hidup beliau
11)         Banyak membaca hadits-hadits beliau serta menghapal, mengamalkan dan mendakwahkannya
12)         Menentang orang-orang yang mengejek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang menyelisihi sunnah
13)         Membersihkan hadis-hadis yang shahih dan hasan dari hadis-hadis yang dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu) yang dinisbatkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencukupkan diri beramal dengan hadis-hadis yang shahih.[18]

C.           Pendapat Ulama’ dalam Mengikuti dan Mencintai Rasulullah SAW
1.             Imam Abu Hanifah
Para (ulama) sahabat atau pengikut beliau telah meriwayatkan berbagai pendapat dan ungkapan yang semuanya menegaskan suatu hal, yaitu wajibnya berpedoman/beramal dengan hadits dan meninggalkan sikap taklid kepada pendapat-pendapat imam yang berbeda dengan hadits (shahih) tersebut.
2.             Imam Malik
Saya hanyalah seorang manusia biasa, bisa salah dan bisa benar. Karena itu lihatlah pendapatku, maka semua yangsdengan al-kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, ambillah. Dan semua yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tinggalkan.
Tidak ada satupun setelah nabi SAW, melainkan boleh diambil ucapannya dan boleh ditinggalkan, kecuali nabi SAW.
3.             Imam Syafi’i
Semua yang sudah saya katakan, dan dari nabi SAW dari haditsnya yang shahih ternyata berbeda  dengan pendapatku, maka hadits nabi SAW itu lebih utama (untuk diikuti), maka janganlah kamu taklid kepadaku.
4.             Imam Ahmad
Ittiba’ (mengikuti) itu ialah seornag mengikuti semua yang datang dari Nabi SAW dan paran sahabatnya. Semua yang datang dari Nabi SAW dan para sahabatnya, maka peganglah/pedomanilah.


D.           Korelasi dari Mencintai dan Mengikuti Rasulullah SAW di dalam keimanan dan Bermasyarakat

Kecintaan kepada Allah SWT dan Rosul-Nya merupakan parameter keimanan seseorang. Jika ia masih menomor duakan  kecintaan kepada beliau dibawah kecintaan selain beliau, maka seseorang itu belum dikatakan sungguh-sungguh dalam mencintai Rasulullah SAW. Disamping itu manakala seseorang yang telah beriman tapi lebih mencintai yang selain Allah dan Rasul-Nya maka Rasulullah tidak mengakuinya sebagai orang yang beriman. Sesuai dengan sabda beliau yang berbunyi :
Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai dari pada anaknya, orang tuanya, dan segenap manusia”.(HR. Muttafaq ‘alaih).
     Sebagai konsekuensi dari menempatkan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya sebagai cinta yang utama dan paling utama, maka tentu saja cinta kepada orangtua, anak-anak,suami atau isteri, sanak saudara, harta benda, dll harus ditempatkan dibawah cinta kedua cinta tersebut (termasuk dibawah cinta kepada jihad pada jalan selain Allah SWT ). Dan tidaklah seorang masuk surga kecuali dengan mentaati dan mengikuti rosulullah SAW. Lebih dari itu, manisnya iman akan dirasakan seorang muslim jika dia menjadikan Allah dan Rasulnya lebih dia cintai dari pada ragam kecintaannya kepada sekelilingnya.
Dalam kitab Min Muqawwimat An-Nafsiyah Al-Islamiyah “arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mentaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya”. Al Baidhawi berkata : “cinta adalah keinginan untuk taat”. Al Zujaj juga berkata : “cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mentaati keduanya serta meridhai segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah SAW.
Kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, mengharuskan kita untuk menyelaraskan semua hal yang terkait dengan pribadi maupun lingkungan sosial disekitar kita. Dengan mencintai Rasulullah secara otomatis kita akan mencontoh dan meniru sifat-sifat baik Rasulullah dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat.
Jika kita mampu melakukan itu semua maka kita akan memperoleh ketenangan jiwa atau kedamaian dalam kehidupan kita.



BAB III
KESIMPULAN

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata; Aku mendengar Qotadah dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Salah seorang dari kalian tidak akan beriman hingga aku menjadi orang yang paling dicintainya dari pada anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya." (IBNU MAJAH - 66)
Mengikuti dan mentaati Rasul merupakan sesuatu yang bersifat mutlak bagi orang-orang yang beriman. Karena itu, hal ini menjadi salah satu bagian penting dari akhlak kepada Rasul, bahkan Allah SWT akan menempatkan orang yang mentaati Allah dan Rasul ke dalam derajat yang tinggi dan mulia, keharusan yang harus kita tunjukkan dalam akhlak yang baik kepada Rasul adalah mencintai beliau setelah kecintaan kita kepada Allah SWT. Sebab beliau adalah orang yang dekat dengan Allah SWT, yang mengenalkan kepada-Nya, menyampaikan syariat-Nya, dan yang menjelaskan hukum-hukumnya. Dan tidaklah seorang masuk surga kecuali dengan mentaati dan mengikuti rosulullah SAW.
Ada empat ulama’ yang menjelaskan tentang mencintai dan mengikuti Rasullah SAW yaitu : Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, akan tetapi inti dari pendapat masing-masing ulama’ tersebut adalah hadits nabi SAW itu lebih utama (untuk diikuti) dari pada pendapat ulama’ tersebut.
Kecintaan kepada Allah SWT dan Rosul-Nya merupakan parameter keimanan seseorang. Jika ia masih menomor duakan  kecintaan kepada beliau dibawah kecintaan selain beliau, maka seseorang itu belum dikatakan sungguh-sungguh dalam mencintai Rasulullah SAW. Disamping itu manakala seseorang yang telah beriman tapi lebih mencintai yang selain Allah dan Rasul-Nya maka Rasulullah tidak mengakuinya sebagai orang yang beriman. Kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, mengharuskan kita untuk menyelaraskan semua hal yang terkait dengan pribadi maupun lingkungan sosial disekitar kita. Dengan mencintai Rasulullah secara otomatis kita akan mencontoh dan meniru sifat-sifat baik Rasulullah dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat.
Jika kita mampu melakukan itu semua maka kita akan memperoleh ketenangan jiwa atau kedamaian dalam kehidupan kita.



DAFTAR PUSTAKA

Ad-Darimi, Sunan. “Kitab budak- Salah seorang diantara kalian tak dianggap beriman hingga mencintai saudaranya”
Ahmad, Musnad. “Musnad penduduk Kufah- Kakek Zuhrah bin Ma'bad Radliyallahu ta'ala 'anhu”
Ahmad, Musnad. “Musnad penduduk Syam-Hadits Abdullah bin Hisyam Kakek Zahrah bin Ma'bad Radliyallahu ta'ala”
Ahmad, Musnad. “Sisa Musnad Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits- Musnad Anas bin Malik Radliyallahu 'anhu
Bukhari, Shahih. “Iman-Mencintai Rasulullah bagian dari Iman"
Departemen Agama. 2011. “Al HidayahAl-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka”, Tangerang : PT. Kalim
http://alfutuchat.wordpress.com/2010/06/24/2-pengertian-akhlak-menurut-istilah/
http://hapidzcs.blogspot.com/2011/12/akhlak-kepada-Rasulullah SAW.html
Majah, Ibnu.”Mukadimah-Iman”
Mu’adz Haqqi, Ahmad. 2003. 1421 H/ 200 M,al-arba’una Haditsan fi Akhlaq ma’a syarhiha,dar tuwaiq,cet 3, penerjemah Abu Azka.syarah 40 hadits tentang akhlak. Jakarta: Pustaka Azzam
Shalih. 2009. “Kitab Tauhid 3”. Jakarta : Darul Haq
Tatapangarsa, Humaidi. 1991. “Akhlaq yang Mulia”. Surabaya : Bina Ilmu


1 komentar: