BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Tidak sejarah intelektual di dunia islam
yang begitu mendunia selain seajarah filsafat. Di satu sisi, sumbangannya terhadap
kegemilangan peradaban islam tidak bisa dipungkiri, karena filsafat melahirkan
filsuf-filsuf yang menjadi tonggak awal pemikiran ilmu-ilmu lain. Dan tidak
sedikit pula pemikiran-pemikiran yang dikeluarkan oleh mereka yang diluar rasio
manusia biasa, sehingga menimbulkan pertanyaan, pertentangan, dan kontroversi
yang lain. Karena filsafat juga dianggap sebagai unsur luar yang mengacak-acak
ajaran islam. Kalau anatar fiqih dan ilmu kalam masih bias bergandengan, maka
perseteruan ilmu kalam dengan filsafat telah melahirkan sekian klaim
pengkafiran dan sekian banyak aliran yang menimbulkan fanatisme, perbedaan
pendapat, permusuhan, dan bahkan lebih dari itu, pembunuhan.
B. Rumusan Masalah
1. Siapakah Abu-Bakar ar-Razi itu?
2. Pemikiran apa yang telah dikemukakan ar-Razi?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui siapakah Abu-Bakar
ar-Razi.
2. Untuk mengkaji pemikiran filsafat yang
dikemukakan ar-Razi.
BAB II
PEMBAHSAN
A. Biografi Ar-Rozi
Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Al-Razi
dikenal dibarat sebagai Rhazes. Dia adalah salah seorang ilmuwan iran yang
hidup pada 864-930. Al-Razi lahir di Rayy, Teheran, pada awal 865 M.[1]
Ia wafat pada usia 62 tahun, yaitu pada 25 Oktober 925.
Mengutip ahli sejarah Ibnu Khallikan, seorang
penulis biografi Barat, AJ Aberry, dalam pengantar buku Ar Razi, The Spiritual
Physic of Rhazes (Penyembuhan Ruhani), menulis, "Di masa mudanya, ia gemar
main kecapi dan menekuni musik vokal. Namun ketika beranjak dewasa, dia lebih
memilih meninggalkan hobinya ini seraya mengatakan bahwa musik yang berasal dari
antara kumis dan jenggot tidak punya daya tarik dan pesona untuk dipuji serta
dikagumi." Sejak inilah, beberapa sumber menyebutkan Ar Razi lebih banyak
memfokuskan dirinya pada tradisi intelektualisme di sekitar filsafat, logika,
eksakta, dan kedokteran. Yang terakhir ini, seperti disinggung di atas,
mendapat porsi khusus dari energinya di usia tua. Pada bidang ini, ia sampai
meluangkan waktu khusus ke Baghdad, Irak, guna memperdalam kedokteran. Kala
itu, Baghdad dikenal pada puncak keemasan intelektualisme. Baghdad yang kala
itu menjadi pusat pemerintahan imperium Bani Abbasiyah, semakin menegaskan diri
sebagai pusat ilmu pengetahuan, khususnya ketika tahta kekuasaan diperintah
oleh Khalifah Al Manshur (754-775 M), Harun Al Rasyid (wafat 809 M), hingga Khalifah
Al Makmun (813-833 M)[2]
Di Baghdad, ar-Razi belajar
matematika, filsafat, astronomi, fisika, dan kimia sebagai murid Humayun bin
Ishaq, ahli pengobatan Yunani, Persia, dan India.[3]Pada
akhirnya dia dikenal sebagai ahli pengobatan seperti Ibnu Sina, tetapi semula
ar-Razi adalah seorang ahli kimia.[4]ia
belajar kepada Ali bin Rabban ath-Thabari (808), seorang dokter sekaligus
filsuf. Guru inilah yang menumbuhkan minat ar-Razi terhadap kedua subjek
keilmuan tersebut sehingga pada akhirnya dia menjadi seorang filsuf besar
sekaligus seorang dokter yang ternama.[5]
Penguasaannya terhadap ilmu
kedokteran membuat namanya dikenal di Barat dan di Timur. Bahkan ia dipandang
sebagai dokter terbesar abad pertengahan dan seorang dokter muslim yang tiada
bandingnya.[6]karena
kelebihan itulah maka ar-Razi mendirikan rumah sakit. Beliau memilih tempat
yang baik untuk mendirikan rumah sakit dengan cara menggantungkan daging
dibeberapa tempat dalam kota. Kemudian beliau memilih tempat yang didalamnya
dapat bertahan lama daging yang digantungkan itu tidak berbau busuk. Karena hal
itu menunjukkan bahwa udara ditempat itu tidak banyak mengandung bakteri (kuman).[7]
Ar-Razi diangkat menjadi pemimpin
rumah sakit di Ray suatu daerah di Teheran karena kelebihan dan reputasinya Pada
masa pemerintahan Gubernur Al Mansyur Ibnu Ishaq ibn Ahmad. Beliau menjadi
kepala rumah sakit selama enam tahun (290-296 H / 902-908 M) pada usia 30 tahun. Kemudian ia pindah ke Baghdad dan memimpin
rumah sakit disana pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muktafi. Setelah kematian Khalifan al-Muktafi pada
tahun 907 Masehi, ar-Razi memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya di
Rayy, dimana dia mengumpulkan murid-muridnya. Dalam buku Ibnu Nadim yang
berjudul Fihrist, ar-Razi diberikan gelar Syaikh karena dia memiliki banyak
murid. Selain itu, ar-Razi dikenal sebagai dokter yang baik dan tidak membebani
biaya pada pasiennya saat berobat kepadanya.[8]
Beliau tekun sekali memberikan
pelajaran kepada muridnya dan selalu membimbing mereka dalam melakukan
percobaan. Ia membagi muridnya kepada beberapa jurusan, sesuai dengan minat dan
pengetahuan mereka. Beliau duduk di serambi masjid dan mengatur posisi muridnya
dalam bentuk halakah( duduk melingkar), sedang murid yang baru duduk di
lingkaran luar. Murid yang telah maju dalam
pelajarannya, duduk dilingkaran dalam. Apabila dating seorang pasien ia
dilayani oleh muridnya yang baru yang berada di lingkaran luar. Kalau mereka
tidak sanggup, maka pemeriksaan itu dilakukan oleh lingkaran tingkat
berikutnya. Apabila murid yang senior belum mampu juga, maka akan diperiksa
oleh yang lebih senior. Kalau mereka semua tidak mampu, maka pasien ditangani
oleh ar-Razi sendiri dan menjelaskan apa yang sulit bagi mereka dalam diagnosis
dan pengobatannya.
Abu-bakar ar-Razi merupakan dokter pertama
di dunia yang dapat membedakan antara penyakit cacar dengan penyakit campak.
Padahal kedua macam penyakit itu sama dalam keadaan perkembangannya yang
pertama. Dia pula yang pertama menulis tentang batu kerikil dalam ginjal dan
dalam kantung kemih, serta gejala-gejalanya dan pengobatannya. Beliau dianggap
sebagai dokter pertama yang menyusun buku tentang kedokteran anak-anak terpisah
dari dokter umum..[9]
B. Filsafat Ar-Rozi
1. Logika
Al-Razi adalah termasuk seorang rasionalis
murni. Ia hanya mempercayai kekuatan akal. Didalam kedokteran studi klinis yang
dilakukannya menemukan metoda yang kuat, berpijak kepada observasi dan
eksperimen. Sebagaimana yang terdapat pada kitab al faraj ba’d al Syaiddah ,
karya Al-Tanukhi (wafat 384 H). Dalam Operasi Philosophia volume 1, hlm. 17 sampai
18 juga menunjukkan metode tersebut. Bahkan pemujaan Al-Razi terhadap akal
tampak sangat jelas pada halaman pertama dari bukunya “al-Thibb”. Ia
mengatakan: “...Tuhan segala puji bagi-Nya, yang telah memberi kita akal
agar dengannya kita dapat memperoleh sebanyak-banyaknya manfaat, inilah karunia
terbaik Tuhan kepada kita. Dengan akal kita dapat melihat segala yang berguna
bagi kita dan yang membuat hidup kita baik dengan akal, kita dapat mengetahui
yang gelap, yang jauh dan yang tersembunyi dari kita, dengan alat itu pula kita
dapat memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, suatu pengetahuan tertinggi yang
dapat kita peroleh, jika akal sedemikian mulia dan penting, maka kita tidak
boleh merendahkannya, kita tidak boleh menentukannya, sebab ia adalah penentu
atau tidak boleh mengendalikan, sebab ia adalah pengendali atau memerintah,
sebab ia pemerintah tetapi kita harus kembali kepadanya dalam segala hal dan
menentukan segala masalah dengannya, kita harus susuai perintahnya. Demikian
di antara pernyataan Al-Razi yang di nilai telah menyimpang dari agama. Tuduhan
ini jelas akan membawa rusaknya reputasi Al-Razi. Bahkan Harun Nasution
mengatakan bahwa Al-Razi adalah filosof Muslim yang berani mengeluarkan
pendapat-pendapatnya sungguhpun bertentangan dengan paham yang dianut umat
Islam.[10]
2. Filsafat Kenabiaan/Theology
Ar-Razi menyangkah bahwa anggapan bentuk kehidupan manusia memerlukan nabi
sebagaimana yang dikatakannya dalam bukunya Naqd al-Adyan au fi
al-Nubuwah. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak percaya kepada wahyu
dan adanya nabi. Menurutnya para nabi tidak berhak mengklaim dirinya sebagai
orang yang memiliki keistimewaan khusus. Karena semua orang adalah sama dan
keadilan Tuhan secara hikmahnya mengharuskan tidak membedakan antara seorang
dengan yang lainnya. Ar-Razi juga mengritik kitab suci baik Injil maupun Al
Qur’an. Beliau menolak mukjizat Al Qur’an baik segi isi maupun gaya bahasanya.
Menurutnya orang mungkin saja dapat menulis kitab yang lebih baik dengan gaya,
bahasa yang lebih indah. – (Abu Hatim Ar
Razi, tokoh propagandis Syiah Ismailiah yang sezaman dengan Ar Razi tetapi
memusuhinya). Pernyataan tersebut tampaknya tidak objektif, pada tulisan
Akmad Aziz Dahlan bahwa Ar Razi seorang filsuf muslim dan tidak boleh
dikafirkan. Analisi ini dapat ditemukan dalam kitabnya Bar’u al Sa’ah dan Sirr Al Asrar, atau Ath Thibb Ar Ruhani, sebagai
berikut :
“Mengendalikan hawa nafsu adalah wajib bagi menurut semua rasio, menurut
semua orang berakal dan menurut semua agama dan wajiblah manusia yang baik,
yang utama yang sempurna menunaikan apa yang diwajibkan agama yang benar
kepadanya [Asy Syariah Al Muhiqqah], tidak takut pada kematian karena agama
yang benar itu sungguh telah menjanjinkan kepadanya kemenangan, ketentraman dan
masuk kedalam kenikmatan yang terus-menerus”
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ar Razi adalah seorang
rasionalis-religius karena Ar Razi masih mengakui dan mendasarkan logikanya
kepada agama dan kewahyuan.[11]
3. Filsafat Metafisika
Filsafat Ar-Razi dikenal dengan ajaran “Lima
Kekal” yaitu:
a.
Tuhan
Tuhan
bersifat sempurna. Kehidupan kita berasal dari nya, sebagaimana sinar datang dari
matahari. Pernyataan ini sesuai dengan teorinya al-Farabi yaitu teori emanasi.
Emanasi sendiri adalah proses terjadinya
wujud yang beraneka ragam, baik langsung atau tidak langsung, bersifat jiwa
atau materi, berasal dari wujud yang menjadi sumber dari segala sesuatu yakni
Tuhan, yang menjadi sebab dari segala yang ada, karenanya setiap wujud ini
merupakan bagian dari Tuhan.
b.
Ruh
Tuhan tidak
menciptakan dunia lewat desakan apapun, tetapi ia memutuskan penciptaannya
setelah pada mulanya tidak berkehendak menciptakan dunia ini. Siapakah yang
membuat tuhan untuk melakukan demikian itu? Disini mestinya harus ada keabadian
lain yang membuat ia memutuskan menciptakan dunia ini. siapakah dia? Demikian
menurut ar-Razi.
Dia adalah ruh yang hidup, tetapi ia bodoh. Karena kebodohan ruh
mencintai materi dan membuat bentuk dirinya untuk memperoleh kebahagiaan
materi. Tetapi materi menolak, sehingga tuhan campur tangan membantu ruh.
Dengan bantuan inilah tuhan membuat dunia dan menciptakan didalamnya
bentuk-bentuk yang kuat yang didalamnya ruh dapat memperoleh kebahagiaan
jasmani. Kemudian tuhan menciptakan manusia untuk menyadarkan ruh dan
menunjukkan kepadanya bahwa dunia ini bukanlah dunia yang sebenarnya.[12]
c.
Materi
Materi yang
dimaksud adalah materi pertama bukan materi komplek. Materi pertama adalah
kekal ( jauhar qadim ). Ia disebut juga hayula muthlaq (materi mutlak) yang
tidak lain adalah atom. Atom-atom yang terbagi itu menurut Al-Razi, mempunyai volume ( 'azhm ).
Oleh karena itu, ia dapat dibentuk. Dengan penyusunan atom-atom tersebut
terbentuklah alam dunia. Partikel-partikel materi alam menentukan kualitas-
kualitas primer dari materi tersebut. Partikel yang lebih padat menjadi unsur
tanah, partikel yang lebih renggang dari tanah adalah air, materi yang lebih
renggang lagi adalah udara, dan yang lebih renggang lagi adalah api.
Untuk
memperkuat pendapat ini, ar-Rozi memberikan dua bukti: pertama,setiap penciptaan
mesti ada penciptanya. Materi yang diciptakan oleh Pencipta yang kekal tentu
kekal pula. Kedua, ketidakmungkinan penciptaan dari creatio ex nihilo . Seperti
telah dikemukakan sebelumnya, bahwa alam diciptakan Allah dari bahan yang sudah
ada, yakni materi pertama yang telah ada sejak azali.[13]
d.
Ruang
Materi
tidak ada kalau ruang tidak. Karena materi pasti menempati ruang. Karena sudah
dijelaskan diatas bahwa meteri bersifat kekal maka yang ditempatinya juga harus
bersifat kekal, yaitu ruang. Menurut ar-Razi ruang dibedakan menjadi 2 macam
yaitu: ruang particular dan ruang universal. Ruang particular adalah ruang yang
terbatas yang ditempati oleh suatu yang maujud. sedangkan ruang universal
adalah ruang yang tidak terbatas dan tidak terikat dengan maujud.
Ar-Razi
mengatakan bahwa wujud (tubuh) memerlukan ruang dan ia tidak mungkin ada tanpa
adanya ruang, tetapi ruang bisa ada tanpa adanya wujud tresebut. Ruang
universal ini sering juga disebut al - khala (kosong) dan ruang inilah yang
dikatakan Ar-Razi ruang yang kekal[14]
e.
Waktu
Ar-Razi
membedakan antara masa absolut (ad-Dahr) dengan masa terbatas (al-Waqt). Yang
pertama kekal, sedang yang kedua tidak kekal karena yang kedua terikat dengan
gerakan falaq sehingga dapat dihitung dan disifati dengan angka. Sedangkan
waktu absolut terlepas sama sekali
dengan alam semesta dan gerak falaq. Ia tidak bermula dan tidak berakhir. Yang
pertama dibayangkan sebagai sesuatu yang tidak dapat diukur dan tak terbatas,
yang merupakan perlangsungan dunia akali, yang berbeda dengan dunia indrawi,
sedang yang kedua dapat diukur dan terbatas.[15]
C. Karya-karya Ar-Razi
Al-Razi termasuk seorang filosof yang rajin belajar
dan menulis. Ar-Razi telah menulis 229 jilid buku dalam ilmu kedokteran dan
sebagian besar sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di dunia, dan telah
ditetapkan sebagai literature ilmiah dalam ilmu kedokteran diseluruh dunia .
Karya-karya Al-Razi yang dimaksud adalah :
- Kitab Al - Asrar (bidang kimia, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Geard of Cremon) buku ini terdapat di Universitas Jerman dengan naskah aslinya yang berbahasa Arab.
- Al - Hawi (merupakan ensiklopedia kedokteran sampai abad ke-XVI diEropa, setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin tahun 1279 dengan judul Continens;
- Al - Mansuri Liber al - Mansoris (bidang kimia, 10 jilid);
- Kitab al - Judar wa al - Hasbah (tentang analisa penyakit cacar dan canpak serta pencegahannya), sedangkan dalam bidang filsafat.
- Al-Thibb al-Ruhani;
- Al-Sirah al-Falsafiyyah;
- Amarah al-Iqbal al-Dawlah;
- Kitab al-Ladzdzah;
- Kitab al-'Ilm al-Illahi;
- Makalah fi ma ba'dengan al-Thabi'iyyah; dan
- Al-Shukuk 'ala Proclus.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Abu-Bakar
Muhammad bin Zakariya ar-Razi adalah seorang filsuf Muslim. Ia dilahirkan di
Ray, propinsi Khurasan dekat Teheran pada tahun 864 M. ia wafat pada usia 62
tahun, yaitu pada 25 Oktober 925 M.
Ar-Razi
dikenal sebagai filsuf yang berani mengemukakan pendapat yang menentang arus
filsafat pada masanya. Dia dianggap sebagai kafir karena dia tidak mengakui
al-Quran sebagai mukjizat yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, dan
dia tidak mengakui adanya kenabian. Karena menurut dia semua manusia itu sama,
sedangkan nabi dianggap lebih baik dari manusia. Itulah yang membuat ar-Razi
tidak mengakui terhadap kenabian.
Pemikiran filsafat ar-Razi yang terkenal adalah
filsafat lima kekal yaitu: tuhan, ruh, materi, ruang dan waktu. Menurut ar-Razi
kelima yang kekal itu tidak berawal dan tidak berakhir (kekal). Sedangkan
karya-karya ar-Razi yaitu: Kitab Al - Asrar (bidang kimia, diterjemahkan ke
dalam bahasa Latin oleh Geard of Cremon) buku ini terdapat di Universitas
Jerman dengan naskah aslinya yang berbahasa Arab. Al - Hawi (merupakan
ensiklopedia kedokteran sampai abad ke-XVI diEropa, setelah diterjemahkan ke
dalam bahasa Latin tahun 1279 dengan judul Continens; Al - Mansuri Liber al -
Mansoris (bidang kimia, 10 jilid); Kitab al - Judar wa al - Hasbah (tentang
analisa penyakit cacar dan canpak serta pencegahannya), sedangkan dalam bidang
filsafat dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Firmansyah, Adhe . 2010.108 Ilmuwan dan Penemu
Dunia.Jogjakarta:Garasi House Of Book.
Hamdi, Ahmad Zainul.2004.Tujuh Filsuf Muslim
Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Barat Modern.Yogyakarta:Pustaka Pesantren.
Nawfal,Abdul Razak.1999.Tokoh-Tokoh Cendekiawan
Muslim sebagai Perintis ilmu Pengetahuan Modern.Jakarta:Kalam Mulia.
Mustafa.1997.Filsafat
Islam.Bandung:Pustaka Setia.
Haque,
M.Atiqul.2011.Seratus Pahlawan Muslim yang Mengubah Dunia.Jogjakarta:Al-Furqan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar