Pages

Sabtu, 10 Oktober 2015

Makalah Abu-Bakar Ar-Rozi



BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Tidak sejarah intelektual di dunia islam yang begitu mendunia selain seajarah filsafat. Di satu sisi, sumbangannya terhadap kegemilangan peradaban islam tidak bisa dipungkiri, karena filsafat melahirkan filsuf-filsuf yang menjadi tonggak awal pemikiran ilmu-ilmu lain. Dan tidak sedikit pula pemikiran-pemikiran yang dikeluarkan oleh mereka yang diluar rasio manusia biasa, sehingga menimbulkan pertanyaan, pertentangan, dan kontroversi yang lain. Karena filsafat juga dianggap sebagai unsur luar yang mengacak-acak ajaran islam. Kalau anatar fiqih dan ilmu kalam masih bias bergandengan, maka perseteruan ilmu kalam dengan filsafat telah melahirkan sekian klaim pengkafiran dan sekian banyak aliran yang menimbulkan fanatisme, perbedaan pendapat, permusuhan, dan bahkan lebih dari itu, pembunuhan. 

B.     Rumusan Masalah

1.      Siapakah Abu-Bakar ar-Razi itu?
2.      Pemikiran apa yang telah dikemukakan ar-Razi?

C.     Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui siapakah Abu-Bakar ar-Razi.
2.      Untuk mengkaji pemikiran filsafat yang dikemukakan ar-Razi.



BAB II

PEMBAHSAN

A.    Biografi Ar-Rozi

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Al-Razi dikenal dibarat sebagai Rhazes. Dia adalah salah seorang ilmuwan iran yang hidup pada 864-930. Al-Razi lahir di Rayy, Teheran, pada awal 865 M.[1] Ia wafat pada usia 62 tahun, yaitu pada 25 Oktober 925.
Mengutip ahli sejarah Ibnu Khallikan, seorang penulis biografi Barat, AJ Aberry, dalam pengantar buku Ar Razi, The Spiritual Physic of Rhazes (Penyembuhan Ruhani), menulis, "Di masa mudanya, ia gemar main kecapi dan menekuni musik vokal. Namun ketika beranjak dewasa, dia lebih memilih meninggalkan hobinya ini seraya mengatakan bahwa musik yang berasal dari antara kumis dan jenggot tidak punya daya tarik dan pesona untuk dipuji serta dikagumi." Sejak inilah, beberapa sumber menyebutkan Ar Razi lebih banyak memfokuskan dirinya pada tradisi intelektualisme di sekitar filsafat, logika, eksakta, dan kedokteran. Yang terakhir ini, seperti disinggung di atas, mendapat porsi khusus dari energinya di usia tua. Pada bidang ini, ia sampai meluangkan waktu khusus ke Baghdad, Irak, guna memperdalam kedokteran. Kala itu, Baghdad dikenal pada puncak keemasan intelektualisme. Baghdad yang kala itu menjadi pusat pemerintahan imperium Bani Abbasiyah, semakin menegaskan diri sebagai pusat ilmu pengetahuan, khususnya ketika tahta kekuasaan diperintah oleh Khalifah Al Manshur (754-775 M), Harun Al Rasyid (wafat 809 M), hingga Khalifah Al Makmun (813-833 M)[2]
Di Baghdad, ar-Razi belajar matematika, filsafat, astronomi, fisika, dan kimia sebagai murid Humayun bin Ishaq, ahli pengobatan Yunani, Persia, dan India.[3]Pada akhirnya dia dikenal sebagai ahli pengobatan seperti Ibnu Sina, tetapi semula ar-Razi adalah seorang ahli kimia.[4]ia belajar kepada Ali bin Rabban ath-Thabari (808), seorang dokter sekaligus filsuf. Guru inilah yang menumbuhkan minat ar-Razi terhadap kedua subjek keilmuan tersebut sehingga pada akhirnya dia menjadi seorang filsuf besar sekaligus seorang dokter yang ternama.[5]
Penguasaannya terhadap ilmu kedokteran membuat namanya dikenal di Barat dan di Timur. Bahkan ia dipandang sebagai dokter terbesar abad pertengahan dan seorang dokter muslim yang tiada bandingnya.[6]karena kelebihan itulah maka ar-Razi mendirikan rumah sakit. Beliau memilih tempat yang baik untuk mendirikan rumah sakit dengan cara menggantungkan daging dibeberapa tempat dalam kota. Kemudian beliau memilih tempat yang didalamnya dapat bertahan lama daging yang digantungkan itu tidak berbau busuk. Karena hal itu menunjukkan bahwa udara ditempat itu tidak banyak mengandung bakteri  (kuman).[7]
Ar-Razi diangkat menjadi pemimpin rumah sakit di Ray suatu daerah di Teheran karena kelebihan dan reputasinya Pada masa pemerintahan Gubernur Al Mansyur Ibnu Ishaq ibn Ahmad. Beliau menjadi kepala rumah sakit selama enam tahun  (290-296 H / 902-908 M) pada usia 30 tahun. Kemudian ia pindah ke Baghdad dan memimpin rumah sakit disana pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muktafi. Setelah kematian Khalifan al-Muktafi pada tahun 907 Masehi, ar-Razi memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana dia mengumpulkan murid-muridnya. Dalam buku Ibnu Nadim yang berjudul Fihrist, ar-Razi diberikan gelar Syaikh karena dia memiliki banyak murid. Selain itu, ar-Razi dikenal sebagai dokter yang baik dan tidak membebani biaya pada pasiennya saat berobat kepadanya.[8]
Beliau tekun sekali memberikan pelajaran kepada muridnya dan selalu membimbing mereka dalam melakukan percobaan. Ia membagi muridnya kepada beberapa jurusan, sesuai dengan minat dan pengetahuan mereka. Beliau duduk di serambi masjid dan mengatur posisi muridnya dalam bentuk halakah( duduk melingkar), sedang murid yang baru duduk di lingkaran luar.  Murid yang telah maju dalam pelajarannya, duduk dilingkaran dalam. Apabila dating seorang pasien ia dilayani oleh muridnya yang baru yang berada di lingkaran luar. Kalau mereka tidak sanggup, maka pemeriksaan itu dilakukan oleh lingkaran tingkat berikutnya. Apabila murid yang senior belum mampu juga, maka akan diperiksa oleh yang lebih senior. Kalau mereka semua tidak mampu, maka pasien ditangani oleh ar-Razi sendiri dan menjelaskan apa yang sulit bagi mereka dalam diagnosis dan pengobatannya.
Abu-bakar ar-Razi merupakan dokter pertama di dunia yang dapat membedakan antara penyakit cacar dengan penyakit campak. Padahal kedua macam penyakit itu sama dalam keadaan perkembangannya yang pertama. Dia pula yang pertama menulis tentang batu kerikil dalam ginjal dan dalam kantung kemih, serta gejala-gejalanya dan pengobatannya. Beliau dianggap sebagai dokter pertama yang menyusun buku tentang kedokteran anak-anak terpisah dari dokter umum..[9]




B.     Filsafat Ar-Rozi

1.      Logika

Al-Razi adalah termasuk seorang rasionalis murni. Ia hanya mempercayai kekuatan akal. Didalam kedokteran studi klinis yang dilakukannya menemukan metoda yang kuat, berpijak kepada observasi dan eksperimen. Sebagaimana yang terdapat pada kitab al faraj ba’d al Syaiddah , karya Al-Tanukhi (wafat 384 H). Dalam Operasi Philosophia volume 1, hlm. 17 sampai 18 juga menunjukkan metode tersebut. Bahkan pemujaan Al-Razi terhadap akal tampak sangat jelas pada halaman pertama dari bukunya “al-Thibb”. Ia mengatakan: “...Tuhan segala puji bagi-Nya, yang telah memberi kita akal agar dengannya kita dapat memperoleh sebanyak-banyaknya manfaat, inilah karunia terbaik Tuhan kepada kita. Dengan akal kita dapat melihat segala yang berguna bagi kita dan yang membuat hidup kita baik dengan akal, kita dapat mengetahui yang gelap, yang jauh dan yang tersembunyi dari kita, dengan alat itu pula kita dapat memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, suatu pengetahuan tertinggi yang dapat kita peroleh, jika akal sedemikian mulia dan penting, maka kita tidak boleh merendahkannya, kita tidak boleh menentukannya, sebab ia adalah penentu atau tidak boleh mengendalikan, sebab ia adalah pengendali atau memerintah, sebab ia pemerintah tetapi kita harus kembali kepadanya dalam segala hal dan menentukan segala masalah dengannya, kita harus susuai perintahnya. Demikian di antara pernyataan Al-Razi yang di nilai telah menyimpang dari agama. Tuduhan ini jelas akan membawa rusaknya reputasi Al-Razi. Bahkan Harun Nasution mengatakan bahwa Al-Razi adalah filosof Muslim yang berani mengeluarkan pendapat-pendapatnya sungguhpun bertentangan dengan paham yang dianut umat Islam.[10]

2.      Filsafat Kenabiaan/Theology

Ar-Razi menyangkah bahwa anggapan bentuk kehidupan manusia memerlukan nabi sebagaimana yang dikatakannya dalam bukunya Naqd al-Adyan au fi al-Nubuwah. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak percaya kepada wahyu dan adanya nabi. Menurutnya para nabi tidak berhak mengklaim dirinya sebagai orang yang memiliki keistimewaan khusus. Karena semua orang adalah sama dan keadilan Tuhan secara hikmahnya mengharuskan tidak membedakan antara seorang dengan yang lainnya. Ar-Razi juga mengritik kitab suci baik Injil maupun Al Qur’an. Beliau menolak mukjizat Al Qur’an baik segi isi maupun gaya bahasanya. Menurutnya orang mungkin saja dapat menulis kitab yang lebih baik dengan gaya, bahasa yang lebih indah. – (Abu Hatim Ar Razi, tokoh propagandis Syiah Ismailiah yang sezaman dengan Ar Razi tetapi memusuhinya). Pernyataan tersebut tampaknya tidak objektif, pada tulisan Akmad Aziz Dahlan bahwa Ar Razi seorang filsuf muslim dan tidak boleh dikafirkan. Analisi ini dapat ditemukan dalam kitabnya Bar’u al Sa’ah dan Sirr Al Asrar, atau Ath Thibb Ar Ruhani, sebagai berikut :
“Mengendalikan hawa nafsu adalah wajib bagi menurut semua rasio, menurut semua orang berakal dan menurut semua agama dan wajiblah manusia yang baik, yang utama yang sempurna menunaikan apa yang diwajibkan agama yang benar kepadanya [Asy Syariah Al Muhiqqah], tidak takut pada kematian karena agama yang benar itu sungguh telah menjanjinkan kepadanya kemenangan, ketentraman dan masuk kedalam kenikmatan yang terus-menerus”
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Ar Razi adalah seorang rasionalis-religius karena Ar Razi masih mengakui dan mendasarkan logikanya kepada agama dan kewahyuan.[11]

3.      Filsafat Metafisika

Filsafat Ar-Razi dikenal dengan ajaran “Lima Kekal” yaitu:
a.       Tuhan
Tuhan bersifat sempurna. Kehidupan kita berasal dari nya, sebagaimana sinar datang dari matahari. Pernyataan ini sesuai dengan teorinya al-Farabi yaitu teori emanasi. Emanasi sendiri adalah  proses terjadinya wujud yang beraneka ragam, baik langsung atau tidak langsung, bersifat jiwa atau materi, berasal dari wujud yang menjadi sumber dari segala sesuatu yakni Tuhan, yang menjadi sebab dari segala yang ada, karenanya setiap wujud ini merupakan bagian dari Tuhan.
b.      Ruh
Tuhan tidak menciptakan dunia lewat desakan apapun, tetapi ia memutuskan penciptaannya setelah pada mulanya tidak berkehendak menciptakan dunia ini. Siapakah yang membuat tuhan untuk melakukan demikian itu? Disini mestinya harus ada keabadian lain yang membuat ia memutuskan menciptakan dunia ini. siapakah dia? Demikian menurut ar-Razi.
Dia adalah ruh yang hidup, tetapi ia bodoh. Karena kebodohan ruh mencintai materi dan membuat bentuk dirinya untuk memperoleh kebahagiaan materi. Tetapi materi menolak, sehingga tuhan campur tangan membantu ruh. Dengan bantuan inilah tuhan membuat dunia dan menciptakan didalamnya bentuk-bentuk yang kuat yang didalamnya ruh dapat memperoleh kebahagiaan jasmani. Kemudian tuhan menciptakan manusia untuk menyadarkan ruh dan menunjukkan kepadanya bahwa dunia ini bukanlah dunia yang sebenarnya.[12]
c.       Materi
Materi yang dimaksud adalah materi pertama bukan materi komplek. Materi pertama adalah kekal ( jauhar qadim ). Ia disebut juga hayula muthlaq (materi mutlak) yang tidak lain adalah atom. Atom-atom yang terbagi itu  menurut Al-Razi, mempunyai volume ( 'azhm ). Oleh karena itu, ia dapat dibentuk. Dengan penyusunan atom-atom tersebut terbentuklah alam dunia. Partikel-partikel materi alam menentukan kualitas- kualitas primer dari materi tersebut. Partikel yang lebih padat menjadi unsur tanah, partikel yang lebih renggang dari tanah adalah air, materi yang lebih renggang lagi adalah udara, dan yang lebih renggang lagi adalah api.
Untuk memperkuat pendapat ini, ar-Rozi memberikan dua bukti: pertama,setiap penciptaan mesti ada penciptanya. Materi yang diciptakan oleh Pencipta yang kekal tentu kekal pula. Kedua, ketidakmungkinan penciptaan dari creatio ex nihilo . Seperti telah dikemukakan sebelumnya, bahwa alam diciptakan Allah dari bahan yang sudah ada, yakni materi pertama yang telah ada sejak azali.[13]
d.      Ruang
Materi tidak ada kalau ruang tidak. Karena materi pasti menempati ruang. Karena sudah dijelaskan diatas bahwa meteri bersifat kekal maka yang ditempatinya juga harus bersifat kekal, yaitu ruang. Menurut ar-Razi ruang dibedakan menjadi 2 macam yaitu: ruang particular dan ruang universal. Ruang particular adalah ruang yang terbatas yang ditempati oleh suatu yang maujud. sedangkan ruang universal adalah ruang yang tidak terbatas dan tidak terikat dengan maujud.
Ar-Razi mengatakan bahwa wujud (tubuh) memerlukan ruang dan ia tidak mungkin ada tanpa adanya ruang, tetapi ruang bisa ada tanpa adanya wujud tresebut. Ruang universal ini sering juga disebut al - khala (kosong) dan ruang inilah yang dikatakan Ar-Razi ruang yang kekal[14]
e.       Waktu
Ar-Razi membedakan antara masa absolut (ad-Dahr) dengan masa terbatas (al-Waqt). Yang pertama kekal, sedang yang kedua tidak kekal karena yang kedua terikat dengan gerakan falaq sehingga dapat dihitung dan disifati dengan angka. Sedangkan waktu absolut  terlepas sama sekali dengan alam semesta dan gerak falaq. Ia tidak bermula dan tidak berakhir. Yang pertama dibayangkan sebagai sesuatu yang tidak dapat diukur dan tak terbatas, yang merupakan perlangsungan dunia akali, yang berbeda dengan dunia indrawi, sedang yang kedua dapat diukur dan terbatas.[15]


C.     Karya-karya Ar-Razi

Al-Razi termasuk seorang filosof yang rajin belajar dan menulis. Ar-Razi telah menulis 229 jilid buku dalam ilmu kedokteran dan sebagian besar sudah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa di dunia, dan telah ditetapkan sebagai literature ilmiah dalam ilmu kedokteran diseluruh dunia . Karya-karya Al-Razi yang dimaksud adalah :
  1. Kitab Al - Asrar (bidang kimia, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Geard of Cremon) buku ini terdapat di Universitas Jerman dengan naskah aslinya yang berbahasa Arab.
  2. Al - Hawi (merupakan ensiklopedia kedokteran sampai abad ke-XVI diEropa, setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin tahun 1279 dengan judul Continens;
  3. Al - Mansuri Liber al - Mansoris (bidang kimia, 10 jilid);
  4. Kitab al - Judar wa al - Hasbah (tentang analisa penyakit cacar dan canpak serta pencegahannya), sedangkan dalam bidang filsafat.
  5. Al-Thibb al-Ruhani;
  6. Al-Sirah al-Falsafiyyah;
  7. Amarah al-Iqbal al-Dawlah;
  8. Kitab al-Ladzdzah;
  9. Kitab al-'Ilm al-Illahi;
  10. Makalah fi ma ba'dengan al-Thabi'iyyah; dan
  11. Al-Shukuk 'ala Proclus.






BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Abu-Bakar Muhammad bin Zakariya ar-Razi adalah seorang filsuf Muslim. Ia dilahirkan di Ray, propinsi Khurasan dekat Teheran pada tahun 864 M. ia wafat pada usia 62 tahun, yaitu pada 25 Oktober 925 M.
Ar-Razi dikenal sebagai filsuf yang berani mengemukakan pendapat yang menentang arus filsafat pada masanya. Dia dianggap sebagai kafir karena dia tidak mengakui al-Quran sebagai mukjizat yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, dan dia tidak mengakui adanya kenabian. Karena menurut dia semua manusia itu sama, sedangkan nabi dianggap lebih baik dari manusia. Itulah yang membuat ar-Razi tidak mengakui terhadap kenabian.
Pemikiran filsafat ar-Razi yang terkenal adalah filsafat lima kekal yaitu: tuhan, ruh, materi, ruang dan waktu. Menurut ar-Razi kelima yang kekal itu tidak berawal dan tidak berakhir (kekal). Sedangkan karya-karya ar-Razi yaitu: Kitab Al - Asrar (bidang kimia, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Geard of Cremon) buku ini terdapat di Universitas Jerman dengan naskah aslinya yang berbahasa Arab. Al - Hawi (merupakan ensiklopedia kedokteran sampai abad ke-XVI diEropa, setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin tahun 1279 dengan judul Continens; Al - Mansuri Liber al - Mansoris (bidang kimia, 10 jilid); Kitab al - Judar wa al - Hasbah (tentang analisa penyakit cacar dan canpak serta pencegahannya), sedangkan dalam bidang filsafat dan lain-lain.





DAFTAR PUSTAKA


Firmansyah, Adhe . 2010.108 Ilmuwan dan Penemu Dunia.Jogjakarta:Garasi House Of Book.
Hamdi, Ahmad Zainul.2004.Tujuh Filsuf Muslim Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Barat Modern.Yogyakarta:Pustaka Pesantren.
Nawfal,Abdul Razak.1999.Tokoh-Tokoh Cendekiawan Muslim sebagai Perintis ilmu Pengetahuan Modern.Jakarta:Kalam Mulia.
Mustafa.1997.Filsafat Islam.Bandung:Pustaka Setia.
Haque, M.Atiqul.2011.Seratus Pahlawan Muslim yang Mengubah Dunia.Jogjakarta:Al-Furqan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar