Pages

Sabtu, 17 Oktober 2015

Makalah tentang Kalimat Efektif



BAB I
PENDAHULUAN
Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran, keinginan, atau perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis. Bahasa yang digunakan itu hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya secara baik disebu tdengan kalima tefektif.
 Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Akan tetapi, kadang-kadang harapan itu tidak tercapai. Misalnya, ada sebagian lawan bicara atau pembaca tidak memahami apa maksud yang diucapkan atau yang dituliskan.
 Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang seharusnya tidak ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya.
Dalam karangan ilmiah sering kita jumpai kalimat-kalimat yang tidak memenuhi syarat sebagai bahasa ilmiah. Hal ini disebabkan oleh, antara lain, mungkin kalimat-kalimat yang dituliskan kabur, kacau, tidak logis, atau bertele-tele. Dengan adanya kenyataan itu, pembaca sukar mengerti maksud kalimat yang kita sampaikan karena kalimat tersebut tidak efektif. Berdasarkan kenyataan inilah penulis membahas kalimat efektif dengan segala permasalahannya.
B.  Rumusan Masalah
1.    Apa kalimat efektif itu?
2.    Bagaimana kalimat efektif itu?

C.  Tujuan
1.    Dapat memahami dengan baik tentang kalimat efektif.
2.    Menjelaskan masalah-masalah dalam penggunaan kalimat efektif.
3.    Memperhatikan penggunaan kalimat dalam kehidupan sehari-hari.
4.    Dapat mengklarifikasi mana kalimat yang efektif.
5.    Dapat memahami maksud dari kalimat efektif.














BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif merupakan kalimat yang mempunyai kemampuan untuk menciptakan gagasan-gagasan pada pikiran pembaca atau pendengar seperti apa yang ada dalam pikiran penulis atau pembicara. Ramlan (1994:12) menyatakan kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar atau pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar atau pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.
Dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis seseorang harus memerhatikan kalimat yang digunakannya. Artinya, saat berkomunikasi harus memerhatikan apakah kalimat yang digunakan itu tidak menimbulkan salah tafsir.
Penggunaan kaidah bahasa yang baik dalam berkomunikasi secara tertulis sangat penting. Artinya, dalam menulis, penulis harus memerhtikan kalimat-kalimat yang harus ditulisnya sehingga orang yang membaca tulisan tersebut dapat memahami maksud yang disampaikan penulis. Dengan kata lain, kalimat yang ditulis atau diucapkan hendaknya merupakan kalimat yang efektif. Pemakaian bahasa yang efektif terutama digunakan pada pemakaian  bahasa secara resmi (Razak, 1985:56).
Kata-kata yang dipergunakan dalam membentuk kalimat haruslah dipilih dengan tepat. Dengan demikian, kalimat menjadi jelas maknanya (Akhaidah, 2003:116). Perbincangan tentang kalimat efektif menjadi sangat penting terutama karena tidak banyak orang yang benar-benar mengerti dan memahami ciri-ciri efektivitas kalimat itu, khususnya untuk kepentingan karang-mengarang atau tulis menulis (Rahardi, 2010:92). Keefektifan sebuah kalimat diukur dari sudut pandangan sedikit banyaknya kalimat itu berhasil mencapai sasaran komunikasinya.[1]
Dalam kalimat juga tidak boleh dipahami hanya sekedarbangunan kebahasan yang minimal terdiri dari unsur subjek dan unsur predikat. Juga, kalimat tidak cukup di pahami hanya sebagai satuan kebahasan terkecil yang dapat digunakan untuk mengungkapkan ide atau gagasan yang utuh.[2]Dengan kata lain, hampir setiap kata secara tepat dapat mewakili pikiran dan keinginan penulis. Hal ini berarti, bahwa kalimat efektif haruslah secara sadar di susun oleh penulis atau penuturnya untuk mencapai informasi yang maksimal. Jadi, kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan dengan tepat ditinjau dari segi diksi, struktur, dan logikanya.[3]

B.     Ciri-Ciri Kalimat Efektif
Soedjito (1999: 1-8) mengemukakan bahwa kalimat efektif itu memiliki ciri-ciri, yaitu ciri gramatikal, pilihan kata, penalaran, dan keserasian.
1.    Ciri Gramatikal
Kalimat efektif harus mengikuti kaidah-kaidah tata bahasa. Contoh-contoh:
a)    Tidak Gramatikal
1)   Meskipun orang asing, dia pandai bicara bahasa Indonesia.
2)   Dia tidak nyuri uang saya.
3)   Persoalan itu belum semuanya disadari oleh kita.
4)   Dia tidak ambil kue adiknya.
5)   Saya telah ketemu kemarin.
b)      Gramatikal
1)   Meskipun orang asing, dia pandai berbicara bahasa Indonesia.
2)   Dia tidak mencuri uang saya.
3)   Persoalan itu belum semuanya kita sadari.
4)   Dia tidak mengambil kue adiknya.
5)   Saya telah bertemu dengan dia kemarin.
2.    Pilihan Kata
Pilihan kata (diksi) turut mendukung kalimat efektif. Untuk menyusun kalimat efektif harus dipilih kata-kata yang (a) tepat, (b) seksama (sesuai), dan (c) lazim. Perhatikan contoh-contoh berikut ini:
1)   Dalam hal ini dapat (dibilang, dikatakan) bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit.
2)   Adik sudah (dikasih, diberi) kue (sama, oleh) ibu.
3)   Saya suka (menonton, memandang) layar tancap.
4)   Idul Fitri adalah hari (raya, besar, agung) umat islam.
a.    Pemakaian kata tutur
Kata tutur adalah kata yang hanya dipakai dalam pergaulan sehari-hari, terutama dalam percakapan. Kata-kata seperti : bilang, bikin, dikasih tahu, jumpa, bicara, beli, baca, dan sebagainya. Kata-kata tutur termasuk kata-kata yang tidak baku.
b.    Pemakaian kata-kata bersinonim
Kata-kata yang bersinonim ada yang dapat saling menggantikan, ada pula yang tidak. Ada pula kata-kata yang bersinonim yang pemakainya dibatasi oleh persandingan yang dilazimkan. Contoh (melihat, menonton, memandang), (raya, besar, agung), (meniggal, wafat, mati, gugur, mangkat, tewas). Dengan bentuk-bentuk kata bersinonim ini, kita harus memilih secara cermat kata yang mana yang cocok dan tepat digunakan.
c.    Pemakaian kata-kata yang bernilai rasa 
Kata-kata yang bernilai rasa hendaknya dipilih secara cermat agar keefektifan penutur dapat dicapai dengan sebaik-baiknya. Salah pilih terhadap kata-kata yang bernilai rasa dapat mengganggu pembaca.



3.    Penalaran
Menguasai kaidah-kaidah bahasa dan pilihan kata (diksi) belum menentukan kalimat itu efektif. Keefektifan kalimat didukung pula oleh jalan pikiran yang logis.
4.    Keserasian
Keserasian turut pula menentukan keefektifan suatu kalimat, yaitu serasi dengan pembicara atau penulis dan cocok dengan pendengar atau pembaca serta serasi dengan situasi dan kondisi saat bahasa itu digunakan.[4]

C.    Syarat-Syarat Kalimat Efektif
1.       Kesepadanan Struktur
Syarat kalimat efektif yang pertama adanya kesepadanan struktur.Adapun yang dimaksud dengan kesepadanan struktur adalah keseimbangan antara gagasan atau pikiran dan struktur bahasa yang digunakan.Kesepadanan pikiran ditunjukkan oleh keutuhan dan kepaduan ide atau gagasan pada kalimat itu.
Bentuk Salah
-        Kepada para peserta diskusi dipersilahkan masuk
-        Sebab gubernur tidak menyetujui usulan
-        Mereka yang menuntut keadilan
-        Saya saling memaafkan
Bentuk Benar
-        Para peserta diskusi dipersilahkan masuk
-        Gubernur tidak menyetujui usulan
-        Mereka menuntut keadilan
-        Mereka saling memaafkan[5]

2.       Keparalelan Bentuk
Adapun yang dimaksud keparalelan bentuk adalah kesamaan atau keparalelan bentuk kata atau frasa yang digunakan dalam sebuah kalimat,Artinya jika dalam konstruksi yang beruntun pada kalimat,bentuk yang pertama menggunakan nomina,bentuk kedua dan seterusnya juga pasti menggunakan nomina.Demikian juga kalau bentuk yang pertama menggunakan ajektif,bentuk kedua,ketiga dan seterusnya juga harus menggunakan ajektif.
Bentuk Salah
-        Harga BBM minggu ini segera dibakukan dan kenaikan secara luwes
-        Penulis skripsi harus melakukan pertemuan dengan penasihat akademis,mengajukan topik,dan pembimbingan
Bentuk Benar
-        Harga BBM minggu ini segera dibakukan dan dinaikkan secara luwes
-        Penulis skripsi harus melakukan pertemuan dengan penasihat akademis,mengajukan topik,dan menjalani pembimbingan[6]

3.       Ketegasan Makna
Yang dimaksud ketegasan makna ialah bahwa perlakuan penonjolan pada gagasan pokok kalimat tersebut.Dengan perkataan lain,gagasan yang hendak ditonjolkan itu harus diletakkan di posisi depan pada sebuah kalimat.Dengan pengedepanan gagasan atau ide yang hendak ditonjolkan itu,ketegasan makna dapat diperoleh dalam kalimat itu. Berikut adalah contoh kalimat yang telah memenuhi standar penegasan makna itu:
-        Saya suka kecantikanya,saya suka kelembutanya,saya suka senyumanya.
-        Dialah pelaku pembunuhan 7 gadis di Surabaya tahun lalu.[7]

4.       Kehematan Kata
Kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata yang berlebih. Penggunaan kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud kalimat.
Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya. (salah)
Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu.Dalam kata mawar,anyelir,dan melati terkandung makna bunga.
Mawar,anyelir, dan melati sangat disukainya. (benar)
Bentuk Salah
-        Buku itu sudah saya baca
-        Dia sedang mengambili buku di mejanya
Bentuk Benar
-        Saya sudah membaca buku itu
-        Dia sedang mengambil buku di mejanya[8]


5.       Kecermatan Dan Kesantunan
Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda(ambigu).Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut:
a.       Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
b.      Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.
Kalimat (a) memiliki makna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguruan tinggi.
Kalimat (b) memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.
Perhatikan kalimat berikut:
Yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.
Kalimat ini salah pilihan katanya karena dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritakan. Kalimat itu dapat diubah menjadi
Yang diceritakan ialah putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.[9]
6.       Kepaduan Makna
Yang  dimaksud  dengan kepaduan ialah kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.[10]
a.       Kalimat  yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang  tidak simetris.Oleh karena itu, kita hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
Misalnya:
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak keluar dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab
b.       Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam  kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
Contoh:
Surat itu saya sudah baca.
Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan.
Kalimat di atas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal.Seharusnya kalimat itu berbentuk
a.surat itu sudah saya baca
b.Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
 Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.Perhatikan kalimat ini :
Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat.
Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat.
Seharusnya:
 Mereka membicarakan kehendak rakyat.
 Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.
Bentuk Salah
-        Kita harus memperhatikan daripada kehendak rakyat
-        Rapat pimpinan hari ini membicarakan tentang kenaikan upah karyawan
Bentuk Benar
-        kita harus memperhatikan kehendak rakyat.
-        Rapat pimpinan hari ini membicarakan kenaikan upah karyawan.[11]

7.       Kelogisan Makna
Yang dimaksud dengan kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
Kalimat efektif harus mudah dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh :
Waktu dan tempat saya persilakan.
Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya ;
Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.

D.    Prinsip-Prinsip Kalimat Efektif
Prinsip pertama yang harus dikuasai oleh seorang agar dapat mengonstruksi kalimat yang efektif adalah bahwa kalimat itu harus disusun dengan mempertimbangkan dan memperhitungkan kesepadanan bentuk atau kesepadanan strukturnya.Adapun yang dimaksud dengan prinsip kesepadanan struktur adalah adanya keseimbangan antara ide atau pikiran yang dimiliki oleh seseorang dengan bentuk kalimat atau struktur kalimat yang digunakan.[12]
Prinsip kesepadanan struktur itu diantaranya terlihat dari(1) adanya kejelasan subjek(2)tidak adanya subjek ganda (3) tidak adanya kesalahan dalam pemanfaatan konjungsi intrakalimat dan konjungsi antar kalimat,dan (4) adanya kejelasan predikat kalimat.Kejelasan subjek dapat dijamin dan tidak ditempatkanya preposisi atau kata di  depan subjek kalimat.Berkaitan dengan hal itu,beberapa kalimat berikut ini harus dipertimbangkan.
Adik kecil yang menangis
Sekilas tidak ada persoalan dengan kalimat ini.Akan tetapi,bukanlah kehadiran bentuk ”yang”di depan predikat ”menangis” menjadikan predikat kalimat itu tidak jelas alias kabur? Dengan demikian,konstruksi kalimat seperti diatas itu tidak benar dan tidak efektif.
Kenapa hanya minta 10 juta, 20 juta, 50 juta saja mudah baginya untuk mendapatkan.
Ketegasan makna juga dapat dilakukan diantaranya dengan model mempertentangkan bentuk kebahasaan yang sedang disampaikan itu. Misalnya saja seperti dapat dilihat pada kalimat berikut ini.
Dia itu sama sekali tisak miskin tetapi kaya raya luar biasa.
Jadi,yang dipertentangkan dalam kalimat ini adalah”kaya raya” dan “miskin”.akan tetapi dengan model pertentangan demikian itu,makna kebahasaan yang hendak disampaikan itu menjadi tegas nuansanya.[13]















BAB III
PENUTUP
Simpulan
Kalimat efektif merupakan kalimat yang mempunyai kemampuan untuk menciptakan gagasan-gagasan pada pikiran pembaca atau pendengar seperti apa yang ada dalam pikiran penulis atau pembicara. Ramlan (1994:12) menyatakan kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar atau pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar atau pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya.
Soedjito (1999: 1-8) mengemukakan bahwa kalimat efektif itu memiliki ciri-ciri, yaitu ciri gramatikal, pilihan kata, penalaran, dan keserasian.
Syarat-syarat kalimat efektif meliputi:kesepadanan struktur,keparalelan bentuk,ketegasan makna,kehematan kata,kecermatan dan kesantunan,kepaduan makna,dan kelogisan makna.









DAFTAR PUSTAKA

Drs. Satata, Sri, MM. dkk, Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2012)
Rahardi, Kunjana, Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi,(Jakarta: Erlangga, 2010)
Prof. Dr. Putrayasa, Ida Bagus, M.Pd., Kalimat Efektif, (Bandung: PT Refika Aditama, 2007)
Drs.Soedjito, Kalimat Efektif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,1986)
Rahardi, Kunjana, Penyuntingan Bahasa Indonesia, (Jakarta: erlangga, 2010)


[1] Drs. Sri Satata, MM. dkk, Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2012), 105-106.
[2]Dr. R Kunjana Rahardi, M.Hum., Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta: Erlangga, 2009), 93
[3] Prof. Dr. Ida Bagus Putrayasa, M.Pd., Kalimat Efektif, (Bandung: PT Refika Aditama, 2007), 2
[4] Drs. Sri Satata, MM. dkk, Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2012), 107-108
[5] Kunjana Rahardi,Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi,Jakarta:Erlangga,2010 hlm93
[6] Kunjana Rahardi,Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi,Jakarta:Erlangga,2010 hlm 94
[7] Kunjana Rahardi,Penyuntingan Bahasa Indonesia,Jakarta:erlangga,2010 hlm93
[8] Kunjana Rahardi,Penyuntingan Bahasa Indonesia,Jakarta:erlangga,2010 hlm95
[9] Kunjana Rahardi,Penyuntingan Bahasa Indonesia,Jakarta:erlangga,2010 hlm130
[10] Kunjana Rahardi,Penyuntingan Bahasa Indonesia,Jakarta:erlangga,2010 hlm 129
[11] Kunjana Rahardi,Penyuntingan Bahasa Indonesia,Jakarta:erlangga,2010 hlm 94
[12] Kunjana Rahardi,Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi,Jakarta:Erlangga,2010 hlm 93
[13] Drs.Soedjito,Kalimat Efektif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,1986)hlm 67

Tidak ada komentar:

Posting Komentar