BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Dalam sebuah bangunan, struktur terpenting
di dalamnya adalah sebuah pondasi, sesuatu yang menjadi pokok terbangunnya
sebuah bangunan. Adanya bangunan yang kokoh di karenakan adanya sebuah pondasi.
Begitu pula dengan berpikir ilmiyah, dalam mencari sebuah kebenaran di dalamnya
di butuhkan adanya sebuah asas atau pokok untuk menemukannya.
Tidak cukup dengan itu, di dalamnya juga
ada hal-hal penting yang harus di penuhi, agar dalam langkah-langkah pencariannya
terstruktur dan lebih mudah. Untuk lebih jelasnya, pemakalah akan membahas
lebih lanjut pada bab bab berikutnya tentang apa yg di namakan asas berpikir,
metode berpikir dan fungsi ilmu.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa pijakan
dasar keilmuan dalam filsafat?
b. Bagaimana
metode berpikir ilmiah?
c. Apa fungsi
ilmu?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Mengetahui
pijakan dasar keilmuan dalam filsafat
b. Mengetahui
metode berpikir ilmiah
c. Memahami
fungsi ilmu
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pijakan dasar keilmuan dalam filsafat
Ilmu
meliputi pengetahuan maupun cara yang di kembangkan manusia dalam mencapai
tujuan tersebut. Baik berupa pengetahuan (yang merupakan produk ilmu) maupun
cara (proses dari ilmu) terdiri dari berbagai jalan dam langkah. Dalam
aktifitas keilmuan tentu ada pijakan-pijakan dasar untuk menghasilkan ilmu itu
sendiri.
Dalam
aktivitas berpikir kita tidak boleh melalaikan patokan pokok yang oleh logika
disebut asas berpikir.
Asas
sebagaimana kita ketahui adalah pangkal atau asal darimana sesuatu itu muncul
dan dimengerti. Maka asas pemikiran adalah pengetahuan dimana pengetahuan itu
muncul dan dimengerti. Kapasitas asas ini bagi kelurusan berpikir adalah
mutlak., dan salah benarnya suatu pemikiran tergantung terlaksana tidaknya
asas-asas ini. Ia adalah dasar daripada
pengetahuan dan ilmu. Asas pemikiran ini dapat dibedakan menjadi:
1.
Asas identitas (princium identitas = qanun zatiyah).
Ia adalah dasar dari semua pemikiran dan
bahkan asas pemikiran yang lain. Kita tidak mungkin dapat berpikir tanpa asas
ini. Prinsip ini mengatakan bahwa sesuatu itu adalah sendiri bukan yang
lainnya. Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu Z maka ia adalah Z dan bukan A, B
atau C. Bila kita beri perumusan akan berbunyi: “Bila proposisi itu benar maka
benarlah ia”.
2.
Asas kontradiksi (principium contradictoris = qanun tanaqud).
Prinsip in mengatakan bahwa pengingkaran
sesuatu tidak mungkin sama dengan pengakuannya.Jika kita mengakui bahwa sesuatu
itu bukan A maka tidak mungkin pada saat itu ia adalah A, sebab realitas ini
hanya satu segi bagaimana disebut oleh asas identitas. Dengan kata lain: Dua
kenyataan yang kontradiktif tidak mungkin bersama-sama secara simultan. Jika
hendak kita rumuskan, akan berbunyi: “Tidak ada proposisi yang sekaligus benar
dan salah”.
3.
Asas penolakan kemungkinan ketiga (principium exclusitertii = qanun imtina)
Asas ini mengatakan bahwa antara pengakuan
dan pengingkaran kebenaranya terletak pada salah satunya. Pengakuan dan
pengingkaran merupakan pertentangan mutlak, karena itu disamping idak mugki
benar keduanya juga tidak mungkin salah keduanya. Mengapa tidak mungkin salah
kedua-duanya? bila pertanyaan dalam bentuk positivnya salah berarti ia
mengingkari realitasnya, atau dengan kata lain realitas ini bertentangan dengan
pernyataannya. Dengan begitu maka pernyataan berbentuk ingkarlah yang benar,
karena inilah yang sesuai dengan realitas. juga sebaliknya, jika pernyataan
ingkarlah salah, berarti ia mengingkari realitasnya maka pernyataan postivnya
yang benar, karena ia sesuai dengan realitasnya. Pernyataan kontradiktoris
kebenarannya terdapat pada salah satunya (tidak memerlukan kemungkinan ketiga).
Jika kita rumuskan , akan berbunyi “suatu propoisi selalu dalam keadaan benar
atau salah”.[1]
2.2 Metode Berfikir Ilmiah
1. Pengertia Metode Berpikir Ilmiah
Berpikir adalah adalah suatu
aktivitas untuk menemukan pengetahuan yang benar atau kebenaran.[2]
Berpikir ilmiah adalah metode berfikir yang di dasarkan pada
logika deduktif dan induktif (Mumuh mulyana Mubarak, SE). Berfikir ilmiah
adalah berfikir yang logis dan empiris. Logis: masuk akal, empiris, dibahas
secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. (Hilway,1956)
Berpikir ilmiah adalah
kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan deduksi. Induksi adalah cara
berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik dari
pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus yang bersifat khusus, sedangkan, deduksi
ialah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat khusus ditarik
dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum.[3]
Berfikir ilmiah merupakan proses berfikir/pengembangan pikiran
yang tersusun secara sistematis yang berdasarkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah
yang sudah ada (Eman Sulaeman)
Berpikir
imiah bukanlah berpikir biasa. Berpikir ilmiah adalah berpikir yang
sungguh-sungguh. Artinya, suatu cara yang berdisiplin, di mana seseorang yang
tidak akan membiarkan ide dan konsep yang sedang dipikirkannya berkelana tanpa
arah namun semuanya itu diarahkan pada satu tujuan tertentu. Tujuan tertentu
dalam hal ini adalah pengetahuan. Berpikir keilmuan, atau berpikir
sungguh-sungguh adalah cara berpikir yang didisiplinkan dan diarahkan kepada
pengetahuan.
Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia disebutkan, bahwa metode adalah cara yang teratur dan
terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan) atau cara
kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai
tujuan yang ditentukan.
Terhadap
cara untuk mengetahui dan memahami sesuatu, Babbie (1992) berpendapat: “science is method of inquiry-away of
learning and knowing things about the world around us”. Dengan demikian
untuk memahami dan mempelajari sesuatu yang terjadi di sekeliling kita terdapat
banyak cara. Walaupun demikian ilmu tetap memiliki ciri tertentu, yang
sesungguhnya ciri tersebut berada dalam
berbagai aktivitas yang dilakukan sehari-hari.[4]
1. Sarana
berpikir ilmiah
Manusia disebut sebagai homo faber
yaitu makhluk yang membuat alat; dan kemampuan membuat alat dimungkinkan oleh
pengetahuan. Berkembangnya pengetahuan juga memerlukan alat-alat.[5]
Sarana merupakan alat yang membantu kita dalam mencapai suatu tujuan
tertentu, sedangkan sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi metode ilmiah
dalam melakukan fungsinya secara baik, dengan demikian fungsi sarana ilmiah
adalah membantu proses metode ilmiah, bukan merupakan ilmu itu sendiri.[6]
Dalam proses penelitian harus memperhatikan dua hal, pertama sarana
berpikir ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, tetapi merupakan kumpulan
pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Kedua tujuan mempelajari
sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan menelaah ilmu secara baik ( Suwardi Endraswara : 2012 : 228 ).
Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sarana berpikir
ilmiah adalah alat berpikir dalam membantu metode ilmiah sehingga memungkinkan
penelitian dapat dilakukan secara baik dan benar.
Untuk dapat
melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka di perlukan sarana yang
berupa bahasa, logika, matematika dan statistika. Bahasa merupakan alat
komunikasi ferbal yang di pakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah . Sarana
berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah
dalam mendapatkan pengetahuannya, sebab fungsi sarana ilmiah adalah membantu
proses metode ilmiah, bukan merupakan ilmu itu sendiri.
2. Model dan
Kriteria Metode Berpikir Ilmiah
Ditinjau dari sejarah berpikir manusia,
terdapat dua pola berpikir ilmiah. Yang pertama adalah berpikir secara
rasional, di mana berdasrkan paham rasionalisme ini, ide tentang kebenaran
sebenarnya sudah ada. Dengan kata lain, ide tentang kebenaran, yang menjadi
dasar bagi pengetahuan, diperoleh lewat berpikir rasional, terlepas dari
pengalaman manusia.
Cara
berpikir ilmiah yang kedua adalah empirisme. Berbeda dengan orang-orang yang
berpikir secara rasional. Menurut orang-orang yang berpaham empirisme ini,
pengetahuan ini tidak ada secara apriori di benak kita, melainkan harus diperoleh
lewat pengalaman.
Adapun kriteria metode berpikir ilmiah
antara lain:
a. Berdasarkan
fakta
b. Bebas dari
prasangka
c. Menggunakan prinsip-prinsip
analisis
d. Menggunakan hipotesis
e. Menggunakan ukuran
objektif
f.
Menggunakan teknik kuantifikasi.[7]
3.2 Fungsi Ilmu
Ilmu sebagai
aktivitas ilmiah dapat berwujud penelaanhan, penyelidikan, usaha menemukan atau
pencarian. Oleh karena itu, pencarian biasanya di lakukan berulang kali, maka
dalam dunia ilmu kini digunakan istilah penelitian untuk aktivitas ilmiah yang
paling berbobot guna menemukan pengetahuan baru.[8]
Ilmu merupakan salah satu hasil dari usaha manusia untuk memperadab
dirinya. Lebih dari seribu tahun, lewat berbagai kurun zaman dan kebudayaan,
ketika manusia merenung dalam-dalam tentang apa artinya menjadi seorang
manusia, secara lambat laun mereka sampai pada kesimpulan bahwa mengetahui
kebenaran adalah tujuan yang paling utama dari manusia. Perkembangan ilmu pada
waktu lampau dan sekarang merupakan jawaban dari rasa keinginan manusia untuk
mengetahui kebenaran.[9]
Pengertian tentang salah satu dari cirri utama ilmu yakni bahwa ilmu mempunyai
sifat mengoreksi diri sendiri.
Fungsi ilmu dalam kehidupan memang sangat penting karena dengan
ilmu pengetahuan maka hidup menjadi mudah, contoh nyatanya adalah seringkali
kita mendengar cerita tentang seseorang yang mendapatkan harta banyak secara
mendadak namun karena tidak mempunyai ilmu yang cukup dalam mengelolalanya maka
secara cepat harta tersebut habis entah kemana, sebaliknya seseorang dari
keluarga miskin dengan semangat mencari ilmu tinggi maka besar kemungkinan
dikemudian hari akan mendapatkan harta berlimpah ketika sudah mempraktekan
ilmunya. begitulah gambaran tentang arti pentingnya sebuah ilmu sehingga kita
diwajibkan untuk mencari ilmu sejak lahir sampai masuk ke liang kubur, namun
tujuan akhir hidup kita sebenarnya tentu bukanlah untuk mencari ilmu maupun
harta tapi bagaimana mempergunakan segala fasiltas kehidupan yang ada untuk
kelancaran ibadah sehingga dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi diri
sendiri maupun sesama. berikut ini beberapa hal tentang arti penting sebuah
ilmu.
1.
Ilmu merupakan sesuatu yang sangat berharga, tidak berat dalam
membawanya serta akan terus bertambah apabila diajarkan atau diamalkan.
2.
Dalam berkata-kata dan beramal harus menggunakan ilmu yang cukup
tentang tindakan tersebut sehingga tidak menimbulkan kesalahan. orang yang
beramal tanpa menggunakan ilmu bisa diibaratkan sedang berjalan pada arah yang
tidak jelas sehingga kemungkinan besar akan tersesat entah kemana.
3.
Ilmu adalah alat untuk menuju hidup bahagia, sudah kita ketahui
sebelumnya bahwa tubuh manusia selain terdiri dari jasmani juga ada rohani,
jika jasmani membutuhkan makan minum maka rohani kita juga membutuhkan ilmu.
4.
Ilmu ibarat sebuah cahaya yang rmenerangi kita dari kegelapan, bisa
dibayangkan apabila cahaya itu padam maka pandangan kita menjadi gelap tanpa
penerangan dalam melakukan aktifitas.
5.
Untuk menjadi bahan pengetahuan dalam menciptakan suatu barang atau
produk yang dapat memudahkan aktifitas kehidupan manusia.
6.
Untuk menganalisa dan memperkirakan hubungan sebab akibat pada
setiap kejadian sehingga bisa memutuskan untuk dapat menempuh langkah terbaik.
7.
Ilmu juga digunakan oleh seorang guru sebagai pedoman dan bahan
dalam mengajarkan ilmunya kepada orang lain.
8.
Sebagai pedoman dalam membedakan mana yang baik dan jelek.
9.
Untuk memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan
10.
Memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari
hasrat manusia (obyektif), akan pengetahuan yang lebih mendasar.[10]
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Ilmu meliputi pengetahuan maupun cara yang di kembangkan manusia
dalam mencapai tujuan tersebut. Baik berupa pengetahuan (yang merupakan produk
ilmu) maupun cara (proses dari ilmu) terdiri dari berbagai jalan dam langkah.
Dalam aktifitas keilmuan tentu ada pijakan-pijakan dasar untuk menghasilkan
ilmu itu sendiri.sedangkan asas pemikiran adalah pengetahuan dimana pengetahuan
itu muncul dan dimengerti.
Asas pemikiran
ini dapat dibedakan menjadi tiga,yaitu:
1.
Asas identitas (princium identitas = qanun zatiyah).
Ia adalah dasar
dari semua pemikiran dan bahkan asas pemikiran yang lain.
2.
Asas kontradiksi (principium contradictoris = qanun tanaqud).
Prinsip in
mengatakan bahwa pengingkaran sesuatu tidak mungkin sama dengan pengakuannya.
3.
Asas penolakan kemungkinan ketiga (principium exclusitertii = qanun
imtina)
Asas ini mengatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran
kebenaranya terletak pada salah satunya. Pengakuan dan pengingkaran merupakan
pertentangan mutlak, karena itu disamping tidak mugkin benar keduanya juga
tidak mungkin salah keduanya.
Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang
menggabungkan induksi dan deduksi. Induksi adalah cara berpikir yang di
dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik dari pernyataan-pernyataan atau
kasus-kasus yang bersifat khusus, sedangkan, deduksi ialah cara berpikir yang
di dalamnya kesimpulan yang bersifat khusus ditarik dari pernyataan-pernyataan
yang bersifat umum.Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik
maka di perlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika.
Adapun kriteria
metode berpikir ilmiah antara lain:
1.
Berdasarkan fakta
2.
Bebas dari prasangka
3.
Menggunakan prinsip-prinsip analisis
4.
Menggunakan hipotesis
5.
Menggunakan ukuran objektif
6.
Menggunakan teknik kuantifikasi.
Fugsi ilmu
diantarnya merupakan salah satu hasil
dari usaha manusia untuk memperadab dirinya. Fungsi ilmu dalam kehidupan memang
sangat penting karena dengan ilmu pengetahuan maka hidup menjadi mudah.
Berikut ini
adalah arti penting sebuah ilmu :
1.
Ilmu merupakan sesuatu yang sangat berharga, tidak berat dalam
membawanya serta akan terus bertambah apabila diajarkan atau diamalkan.
2.
Dalam berkata-kata dan beramal harus menggunakan ilmu yang cukup
tentang tindakan tersebut sehingga tidak menimbulkan kesalahan. orang yang
beramal tanpa menggunakan ilmu bisa diibaratkan sedang berjalan pada arah yang
tidak jelas sehingga kemungkinan besar akan tersesat entah kemana.
3.
Ilmu adalah alat untuk menuju hidup bahagia, sudah kita ketahui
sebelumnya bahwa tubuh manusia selain terdiri dari jasmani juga ada rohani,
jika jasmani membutuhkan makan minum maka rohani kita juga membutuhkan ilmu.
4.
Ilmu ibarat sebuah cahaya yang rmenerangi kita dari kegelapan, bisa
dibayangkan apabila cahaya itu padam maka pandangan kita menjadi gelap tanpa
penerangan dalam melakukan aktifitas.
5.
Untuk menjadi bahan pengetahuan dalam menciptakan suatu barang atau
produk yang dapat memudahkan aktifitas kehidupan manusia.
6.
Untuk menganalisa dan memperkirakan hubungan sebab akibat pada
setiap kejadian sehingga bisa memutuskan untuk dapat menempuh langkah terbaik.
7.
Ilmu juga digunakan oleh seorang guru sebagai pedoman dan bahan
dalam mengajarkan ilmunya kepada orang lain.
8.
Sebagai pedoman dalam membedakan mana yang baik dan jelek.
9.
Untuk memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan
10.
Memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari
hasrat manusia (obyektif), akan pengetahuan yang lebih mendasar
3.2
Analisis kritis
Sebagaimana yang sudah dijelaskan diatas bahwa ilmu adalah sesuatu
yang dikembangkan sesorang untuk mencapai tujuannya,baik itu berupa pengetahuan
ataupun cara.
Untuk menghasilkan suatu ilmu itu
tidak lepas dari pijakan pijakan dasar atau juga bisa dikatakan sebagai
asas pemikiran,yang mana itu merupakan dimana suatu pengetahuan tersebut muncul
dan dimengerti.
Sedangkan Asas pemikiran itu sendiri dapat dibedakan menjadi tiga
macam,yaitu:
1.
Asas identitas (princium identitas = qanun zatiyah).
Yang dimaksud dengan
asas identitas adalah asas/dasar dari berbagai macam pemikiran ,bisa juga
disebut sebagai asas pokok.
2.
Asas kontradiksi (principium contradictoris = qanun tanaqud).
Yang dimaksud
dengan asas kontradiksi adalah yang mana bahwa suatu pengingkaran itu tidak
akan sama dengan pengakuannya.
3.
Asas penolakan kemungkinan ketiga (principium exclusitertii = qanun
imtina).
Yang dimaksud
dengan asas yang satu ini adalah dimana bahawa diantara suatu pengakuan dan
pengingkaran itu pasti kebenarannya terletak pada salah satunya,baik itu di
pengakuan ataupun pengingkaran,karena yang dinamakan pengakuan dan pengingaran
merupakan suatu pertentanngan yang sangat muthlaq.jadi tidak mungkin jika benar ataupun salah kedua duanya.
Berpikir ilmiah merupakan suatu proses aktifitas akal yang
memadukan antara sesutau yang berbalik,yakni gabungan antara deduksi dan
induksi.deduksi itu sendiri artinya adalah metode berfikir yang mana mengunakan
kesimpulan yang sifatnya khusus yang ditarik atas pernnyataan –pernyatan yang
sifatnya umum.
sedangkan induksi itu sendiri adalah kebalikan daripada deduksi,
maksudnya adalah kesimpulan yang sifatnya umum kemudian ditarik atas pernyataan
atau problem – problem yang bersifat khusus .
Agar berfikir ilmiah itu bisa dilakukan dengan sempurna maka
diperlukan suatu sarana,dan sarana tersebut adalah berupa :
1.
Bahasa
2.
logika
3.
Matematika
4.
Statistika.
Untuk metode berpikir ilmiah dibedakan menjadi berbagai
kriteria,antara lain :
1.
Berdasarkan fakta/nyata
2.
Bebas dari prasangka
3.
Menggunakan prinsip-prinsip analisis
4.
Menggunakan hipotesis
5.
Menggunakan ukuran objektif
6.
Menggunakan teknik kuantifikasi.
Ilmu sangat berperan penting bagi kehidupan manusia,karena ilmu merupakan
suatu sarana diamana seseorang mampu mencapai titik puncak budi pekerti yang
luhur,dan dengan ilmu pula kehidupan itu semakin mudah,karena sesuatu itu tak
lepas dari ilmu.
Mengingat begitu pentingnya ilmu berarti begitu banyak pula manfaat
/fungsi daripada ilmu itu sendiri ,Diantaranya fungsi adalah :
1.
Ilmu merupakan suatu yang sangat tidak merugikan kita,karena ilmu
itu tidak berat dalam membawanya serta manfaat/trus bertambah jika dimalkan.
2.
Disetiap langkah kita tidak lepas dari yang namannya ilmu,karena
disetiap ucapan dan perbuatan kita harus menggunakan ilmu yang sangat cukup
tentang hal itu,agar disetiap ucapan atau perbuatan yang telah kita lakukan
tidak menimbulkan kesalahan,karena ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa
orang yang beramal tanpa menggunakan ilmu itu ibarat sedang berjalan pada arah
yang tidak jelas,sehingga tidak sedikit kemungkinan akan tersesat.
3.
Sudah kita ketahui sebelumnya bahwa manusia itu terdiri bukan hanya
terdiri dari komponen jasmani saja,namun juga tidak lepas dari rohaninya,jika
jasmani membutuhkan makan dan minum,maka rohanipun juga butuh ilmu.
4.
Ilmu ibarat sebuah cahaya yang rmenerangi kita dari kegelapan, bisa
dibayangkan apabila cahaya itu padam maka pandangan kita menjadi gelap tanpa
penerangan dalam melakukan aktifitas.
5.
Untuk menjadi bahan pengetahuan dalam menciptakan suatu barang atau
produk yang dapat memudahkan aktifitas kehidupan manusia.
6.
Untuk menganalisa dan memperkirakan hubungan sebab akibat pada
setiap kejadian sehingga bisa memutuskan untuk dapat menempuh langkah terbaik.
7.
Ilmu juga digunakan oleh seorang guru sebagai pedoman dan bahan
dalam mengajarkan ilmunya kepada orang lain.
8.
Sebagai pedoman dalam membedakan mana yang baik dan jelek.
9.
Untuk memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan
10.
Memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari
hasrat manusia (obyektif), akan pengetahuan yang lebih mendasar
.
[1] Mundiri, Logika (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 1998) hal. 10
[2] Salam, Burhanuddin, Logika Materiil, (Jakarta: PT Rineka Cipta 2003)
hal. 139
[3] Ibid, hal 134
[4] Adib, D. H., Filsafat Ilmu,(
Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2011) hal.130
[5] Jujun S. Suriassumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta
:Pustaka Sinar Harapan 2009) hal. 165
[6] Suwardi Endraswara, Filsafat Ilmu,( Yogyakarta : CAPS 2012)
hal 228
[7] Adib M, D. M., Filsafat Ilmu,
(Yogyakarta: Kanisius 2011) hal. 137
[8] A. Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu, ( Jakarta : PT Rineka Cipta 2010) hal.
109
[9] Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, ( Jakarta : Pustaka
Obor 2012) 146
[10] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada
2004) 18
Harrah's Philadelphia Casino & Racetrack - JetBlue
BalasHapusHarrah's Philadelphia Casino 제주도 출장마사지 & Racetrack locations, rates, amenities: 김제 출장마사지 expert Philly research, only at Hotel 강원도 출장안마 and 김제 출장마사지 Travel Index. 충청남도 출장샵