BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Alquran merupakan kitab suci yang menempati posisi
sentral, bukan hanya dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu ke-islaman
namun juga merupakan inspirator, pemandu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang
sejarah.[1]
Kitab suci ini diturunkan Allah kepada nabi pamungkas, Muhammad saw lengkap
dengan lafal dan maknanya, diriwayatkan secara mutawatir, memberi faedah untuk
kepastian dan keyakinan, ditulis dalam kitab suci mulai awal surat al-fatihah
sampai akhir surat an-nas (Mushaf Usmany),
diperintahkan untuk disampaikan kepada umatnya, sebagai pedoman dan tuntunan
hidup bagi umat manusia. Dasar dari ajaran islam yang mengandung serangkaian
pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan perbuatan dapat dijumpai
dalam sumbernya yang asli di dalam ayat-ayat Alquran. Quraish Shihab
menyebutkan bahwa agama Ialam mempunyai satu sendi utama yang esensial, yaitu
alquran yang berfungsi memberikan petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya.
Studi Alquran adalah ilmu yang membahas tentang segala
sesuatu yang ada kaitannya dengan Alquran. Alquran sebagai kitab suci umat
islam yang berlaku sepanjang zaman tidak akan pernah habis dan selesai untuk
dibahas. Inilah yang membuktikan kemukjizatan Alquran sekaligus perbedaan
Alquran dengan kitab suci lainnya. Pengkajian studi ini sangatlah penting bagi
umat islam khususnya, agar dapat mengetahui berbagai hal yang terkandung di
dalam kitab suci tersebut. Untuk memudahkan dalam membahas kajian ini, penulis
akan memberikan batasan-batasan pada makalah ini. Adapun yang menjadi objek
pembahasan makalah ini meliput, definisi Alquran, wahyu dan ilham, kajian
Alquran di kalangan muslim generasi awal, pendekatan dalam studi Alquran,
perkembangan mutakhir, dan kontribusi para ilmuan barat dalam studi Alquran
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana Arti Studi qur’an dan
keilmuannya?
2. Bagaimana Karakteristik Studi qur’an dan
keilmnnya?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui arti studi al-qur’an
menurut episimologi dan terminologi.
2. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan
antara wahyu dan al-Qur’an.
3. Untuk mengetahui manfaat studi
al-Qur’an.
4. Untuk mengetahui kronologi belajar/studi
al-Qur’an.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Studi Al-Qur’an
Studi
al-qur’an biasa diartikan dengan kajian-kajian yang berkaitan dengan al-Qur’an.
Dalam istilah arab, kegiatan demikian itu biasa disebut dengan ulum al-Qur’an.
Kata “ulum al-Qu’an ” adalah bentuk idafi. Ulum Qur’an terdiri dari dua kata, ulum bentuk jamak dari kata ‘ilm. Ilmu berarti faham dan mengetahui
(menguasai). Ia juga mengandung makna persoalan yang beraneka ragam yang
disusun secara ilmiah.[2]
Untuk
mengungkap pengertian ulum al-Quran pemakalah akan terlebih dahulu membahas
pengertian dua kata tersebut secara terpisah, baik dari sisi etimologi dan
terminologinya, kemudian dilanjutkan dengan pengertian ulum Alquran secara
utuh.
1.
Pengertian
‘Ulum Secara Etimologi
Kata ‘ulum’ dalam bahasa arab
adalah bentuk jamak dari kata عِلْمُ (‘ilm),
ia merupakan bentuk masdar dari kata [3](
( عَلِمَ- يَعْلَمُ – عِلْمٌ جمعه : عُلُوْمٌ Secara etimologi arti kata
عِلْمُ (ilmu) adalah
semakna dengan kata المعرفة و الفهم(pemahaman dan pengetahuan), dan pada pendapat yang lain kata
ilmu juga diartikan dengan kata الجزم (yang pasti),
artinya suatu kepastian yang dapat diterima akal penjelasannya.[4]
Di dalam Ensiklopedi Islam dijelaskan bahwa kata ilmu adalah merupakan lawan
kata dari jahl yang berati ketidak tahuan, atau kebodohan. Kata ilmu
juga biasa disepadankan dengan kata bahasa arab lainnya, yaitu ma’rifah
(pengetahuan), fiqh (pemahaman), hikmah (kebijaksanaan), dan syu’ur
(perasaan). Ma’rifah adalah padanan kata yang paling sering
digunakan.[5]
Selanjutnya M. Quraish Shihab
menjelaskan bahwa setiap kosa kata bahasa Arab yang menggunakan kata yang
tersusun dari huruf-huruf ain, lam, dan mim dalam berbagai
bentuknya adalah berarti sesuatu yang sedemikian jelas sehingga tidak
menimbulkan keraguan.[6]
Berdasarkan pengertian ilmu tersebut
maka dapat ditarik sebuah pengertian bahwa arti kata ‘ulum (sebagai jamak dari
kata ilmu) secara etimologi adalah berarti kumpulan dari beberapa ilmu.
2.
Pengertian
Ilmu Secara Terminologi
Pengertian ilmu secara terminologi
cukup beragam sekali, sebab pengertian tersebut selalu diwarnai oleh pendekatan
masing-masing tokoh, yaitu sebagai berikut:
a. M. Quraishy Shihab selaku ulama
tafsir mendefenisikan ilmu dengan اِدْرَاكُ الشَّيْءِ
بِحَقِيْقَتِهِ (mengetahui yang sebenarnya).
b. Menurut para
hukama’ ilmu
adalah:
“Suatu yang dengannya memberikan gambaran terhadap
sesuatu yang dihasilkan akal atau ketergantungan diri dengan sesuatu
berdasarkan ungkapan yang jelas.”
c. Para ahli kalam memberi pengertian ilmu dengan:
"Suatu yang dengannya (ilmu) seseorang menjadi memiliki
sifat yang jelas dalam menghadapi suatu perkara”.
Ketika ilmu diartikan dengan
pengetahuan, maka pengetahuan memiliki dua jenis, yaitu pengetahuan biasa dan
pengetahuan ilmiah. Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya
kemanusiaan, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, panca indra, dan intuisi
untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara, dan kegunaannya.
Dalam bahasa inggris jenis pengetahuan ini disebut knowledge.
Selanjutnya Pengetahuan ilmiah adalah keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan
untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan objek yang ditelaah, cara
yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut. Dengan kata lain,
pengetahuan ilmiah harus memperhatikan objek ontologis, landasan epistomologis,
dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Jenis pengetahuan ini
dalam bahasa inggris disebut science.[9]
Maka adapun ilmu yang masuk dalam kategori pengetahuan ini adalah pengetahuan
ilmiah. Berdasarkan beberapa pengertian ilmu tersebut pemakalah memahami bahwa
eksistensi ilmu adalah pengetahuan utuh terhadap suatu objek yang dapat
dibuktikan kebenarannya.
Selanjutnya pengertian ilmu juga
dapat ditinjau dari penjelasan ayat Alquran, misalnya sebagaimana penjelasan firman Allah Swt. dalam Surah An-Naml: 15-16.
“Dan Sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud
dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang
melebihkan Kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman". Dan Sulaiman
telah mewarisi Daud, dan Dia berkata: "Hai manusia, Kami telah diberi
pengertian tentang suara burung dan Kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya
(semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata".
Berdasarkan penjelasan
ayat di atas, pemakalah memahami bahwa arti ilmu yang diwariskan Allah kepada
nabi Daud dan Sulaiman ada dua bagian. Yaitu ilmu tentang pengelolaan Alam (sunnatullah)
sebagai investasi untuk menjalankan kenabian dan roda pemerintahan yang
dipimpinnya, dan pengetahuan tentang kalamullah, yaitu pengetahuan
tentang kitab Zabur.
Dengan demikian sebuah
ilmu dalam Islam harus dapat dibuktikan kebenarannya melalui standarisasi
Islam, sehingga proses melahirkan dan menerapkan ilmu tersebut sarat dengan
nilai-nilai keIslaman. Oleh karena hakikat ilmu dalam konsep Islam adalah
berasal dari Allah Swt. maka proses penelusuran dan penggunaan ilmu tersebut
wajib mematuhi nilai-nilai Islam atau ketetapan yang telah diatur Allah Swt.
Dalam konteks sebagai disiplin ilmu, Abu Syahbah menjelaskan bahwa suatu ilmu
juga berarti sejumlah materi pembahasan yang dibatasi kesatuan tema atau
tujuan. Maksudnya sebuah ilmu itu juga harus memiliki kesatuan kawasan garapan
pembahasan yang jelas dan tujuan tertentu.[10]
Dengan demikian,
pemakalah menyimpulkan bahwa pengertian kata ulum sebagai jamak
dari kata ilmu adalah berarti kumpulan dari sejumlah pengetahuan ilmiah yang
membahas sejumlah materi yang dibatasi kesatuan tema
atau tujuan.
3. Pengertian Kata Al-quran Secara Etimologi
Alquran secara etimologi mengeandung
makna yang berbeda-beda di kalangan para ulama, yaitu sebagai berikut :
a.
Al-Lihyani dan kawan-kawan mengatakan Alquran
berasal dari kata qara-a (membaca) adalah merujuk kepada firman
Allah Swt. Pada surat al-Qiyamah (75) ayat 17-18:
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
(١٧) فَإِذَا
قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (١٨)
“Sesungguhnya atas tanggungan
kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila
Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu”
b.
Al-Zujaj
menjelaskan bahwa kata Alquran merupakan kata sifat yang berasal dari kata القرأ (‘al-qar’) yang artinya menghimpun. Kata sifat ini kemudian dijadikan nama bagi firman Allah
yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw. Makna tersebut menunjukkan bahwa
kitab Alquran menghimpun surat, ayat, kisah, perintah, larangan dan
intisari kitab-kitab suci sebelumnya.
c.
Al-Asy’ari
mengatakan bahwa Alquran diambil dari kata kerja ‘qarana’ (menyertakan)
karena Alquran menyertakan surat, ayat, dan huruf-huruf.
d.
Al-farra’
menjelaskan bahwa kata Alquran diambil dari kata dasar ‘qara’in’
(penguat) karena Alquran terdiri dari ayat-ayat yang saling menguatkan, dan
terdapat kemiripan antara satu ayat dengan ayat-ayat lainnya. [11]
Berdasarkan
pendekatan etimologi tersebut pemakalah menyimpulkan bahwa Alquran memiliki
beberapa kriteria yang beragam, seperti kitab yang menjadi bacaan, kitab yang
menghimpun berbagai hal, kitab yang mengandung berbagai kebaikan, dan kitab
yang menguatkan kebenaran. Artinya semua makna nama-nama di atas adalah
memberikan pesan positif terhadap eksistensi dan peran Alquran di tengah-tengah
kehidupan manusia.
Dalam teori yang lain, istilah
Alquran dinyatakan sebagai nama khusus yang ditujukan kepada kumpulan wahyu
Allah SWT. yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. Istilah Alquran ini bukan
berasal dari pecahan kata dalam bahasa Arab ialah nama kitab-kitab seperti
Taurat, Zabur, dan Injil. Semua istilah ini adalah khusus untuk nama kumpulan
waahyu Allah SWT yang diturunkan kepada nabinya masing-masing.[12]
4.
Pengertian
Kata Al-Quran Secara terminologi
Secara
terminologi, para ulama’ memberi rumusan definisi yang beragam, diantaranya:
a. Menurut as-Subani adalah:
هو
كلام الله المترل على خا تم الاء نبياء والمرسلين بواسطة
الاء مين جير يل عليه السلا م المكتوب فى المصاحف المنقول الينا با
لتواتر المتعبد بتلاوته المبدوء بسورة الفاتحة والمختتم بسورة الناس
“Al-qur’an adalah kalam Allah swt yang diturunkan kepada Nabi
dan Rasul terakhir melalui malaikat jibril yang tertulis dalam mushaf dan
sampai kepada kita dengan jalan tawatur (mutawatir), membacanya merupakan ibadah
yang diawali dengan surat al-fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas”.
b. Menurut az-Zarqani adalah :
هو
الكلام العجز المترل علي النبى المكتوب فى المصاحف المنقول الينا با لتواتر
المتعبد بتلاوته
“Al-Qur’an adalah kalam
Allah yang mengandung mu’jizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw,
tertulis dalam mushaf, dinukil dengan cara mutawatir, dan membacanya adalah
ibadah”.[13]
Dua
rumusan defiisi al-Qur’an diatas menunjukkan sifat-sifat dari al-Qur’an, yaitu
: a) kalam Allah b) mengandung mukjizat, c) diturunkan kepada Nabi Muhammad
saw, d) melalui malaikat jibril, e) tertulis dalam mushaf, f) disampaikan
dengan jalan mutawatir, g) membacnya bernilai ibadah, dan h) diawali dengan
surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas.
5.
Pengertian
Ulum Alquran Secara Etimologi
Sebagaimana dijelaskan di atas
ungkapan Ulum Alquran telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu dalam kajian Islam.
Secara bahasa ungkapan ini berarti ilmu-ilmu Alquran. Oleh karena itu di
Indonesia disiplin ilmu ini kadang-kadang disebut Ulum Alquran atau ulumul
Qur’an dan kadang-kadang disebut ilmu-ilmu Alquran. Dengan demikian kata ulum
yang disandarkan kepada kata Alquran tersebut telah memberikan pengertian bahwa
Ulum Alquran adalah kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Alquran,
baik dari segi keberadaannya sebagai Alquran maupun dari segi pemahamannya
terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya.[14]
Dari sisi
gramatikalnya, pengertian ulum al-Quran dapat dipahami melalui dua pendekatan,
yaitu pendekatan idhafi dan maknawi. Pengertian Ulum Alquran
secara idhafi yakni dalam bentuk idhofi ghoiru mahdhah maka makna
lafadh “Ulum” yang disandarkan kepada lafadzh “Alquran” adalah berarti
semua Ilmu yang berhubungan dengan Alquran karena lafadh “Ulum” adalah
jamak yang berarti banyak, sehingga mencakup semua ilmu yang membahas Alquran
dari berbagai macam segi. Antara lain, ilmu tafsir, ilmu qira’at, ilmu rasm ustmany,
ilmu gharib lafadzh, majaz qur’an, dan lain-lain. Selanjutnya definisi Ulum
Alquran secara maknawi adalah segala sesuatu yang di bahas di dalamnya
berkaitan dengan al-Quran, seperti menurut Abu Bakar al-‘Arabi ilmu-ilmu yang
berkaitan dengan Alquran mencapai 77.450 bagian.[15]
Hitungan ini diperoleh dari hasil perkalian jumlah kalimat Alquran
dengan empat, karena masing-masing kalimat Alquran mempunyai makna zhahir,
batin, hadd, dan mathla’. Jumlah tersebut akan semakin bertambah jika melihat
urutan kalimat di dalam Alquran serta hubungan urutan itu. Jika sisi itu yang
dilihat maka ruang lingkup/kawasan pembahasan ‘Ulum Alquran tidak akan dapat terhitung lagi.
6.
Pengertian
Ulum Alquran Secara Terminologi
Secara
istilah (terminologi), para ulama’ telah merumukan definisi ‘ulum al-Qur’an
dengan redaksi yang berbeda-beda, diantaranya :
1. Az-Zarqani merumuskan definisi ‘ulum
al-Qur’an sebagai berikut: beberapa pembahasan yang
berhubungan dengan Al-Qur’an dari segi turunnya, urut-urutannya,
pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, penafsirannya, kemukjizatannya, nasikh
dan mansukh, penolakan terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan
terhadapnya, dan sebagainya.[16]
2. Manna al-Qattan mendefinisikannya sebagai
berikut: ilmu yang mmbahas hal-hal yang berhubungan dengan al-Qur’an dari segi
pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya, pengumpulan dan urutan-urutannya,
pengetahuan tentang makki dan madani, nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih
dan hal-hal lain yang ada hubungannya dengan Al-Qur’an.[17]
Kedua definisi di atas
pada dasarnya sama, keduanya menunjukkan bahwa ‘ulum Al-Qur’an (studi
al-Qur’an) adalah kumpulan sejumlah pembahasan yang ada hubungannya dengan
al-Qur’an baik yang ada di sekitar al-Qur’an (ma fi al-Qur’an) maupun yang ada
di sekitar al-Qur’an.
B.
Persamaan dan Perbedaan antara Wahyu dan Al-Qur’an
Al-Qur’an
dan wahyu adalah sama-sama perkataan Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW melalui malaikat jibril secara beransur-ansur.
1. Pengertian Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kalam
Allah yang mengandung mu’jizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw,
tertulis dalam mushaf, dinukil dengan cara mutawatir, dan membacanya adalah
ibadah. [18]
dengan demikian, maka ungkapan ‘ulum al-Qur’an dapat berarti
pengetahuan-pengetahuan (segala ilmu) yang disajiakan secara ilmiah yan
berhubungan dengan al-Qur’an. Ia juga bermakna segala ilmu pengetahuan yang
berkaitan dengan hal-ihwal-al-Qur’an, baik yang berkaitan dengan segala yang
ada dalam al-Qur’an(ma fi al-Qur’an), maupun segala hal yang berada di seputar
al-Qur’an (ma hawla al-Qr’an).[19]
Sifat-sifat
al-Qur’an yang tercantum dalam definisi tersebut dimaksud untuk membedakan
antara wahyu Allah (secara umum/wahyu lain yang diberikan kepada Nabi Muhammad
saw) dan wahyu al-Qur’an. Unsur pokok yang dapat membedakan wahyu al-Qur’an
dengan wahyu lain adalah :
a. Kalam Allah : kata kalam merupakan kata
yang bermakna umum. Ia dapat bermakna kalam manusia, kalam malaikat ataupun
lainnya, namun dengan mengidhofakan kata kalam pada kata Allahmemberi
pembatasan bahwa kalam itu bersumber dari Allah. Kalam Allah itu diturunkan
kepada para Nabi-Nya, misalnya Nabi Musa dengan kitabnya Taurot, Nabi Dawud
dengan Zaburnya, dan Nabi Isa dengan Injilnya. Untuk membedakan Al-Qur’an
dengan kitabkitab para Nabi tersebut, maka dibutuhkan unsur lainnya.
b. Diturunkan kepada Nabi Muhammad. Unsur
kedua ini mengecualikan kitab-kiatb nabi yang lain, namun kalam allah (wahyu)
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad tidak hanya al-Qur’an, tetapi ada hadith
qudsi dan hadith nabawi. Dengan
demikian, masih butuhkan unsur lain untuk membedakan hal tersebut.
c. Dengan melalui pelantara malaikat
jibril. Unsur ini memberikan batasan bahwa al-Qur’an yang diterima Nabi
Muhammad saw itu tidak langsung dari Allah melainkakn malaikat jibril. Hal ini
berbeda dengan hadith-hadith nabawi dan hadith qudsi yang diilhamkan langsung
oleh Allah tanpa melalui Jibril. Unsur ini merupakan pembeda yang prinsip
antara al-Qur’an dan hadith.
2. Pengertian Wahyu
Wahyu
mengandung makna isyarat yang cepat. Itu terjadi biasanya melalui pembicaraan
yang merupakan simbol, terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula
melalui isyarat dengan sebagian anngota badan.[20]
Al-Wahyu adalah kata mashdar (infinitif). Dia menunjuk pada pengertian dasar
yaitu, tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu dikatakan wahyu, karena informasi
secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang tertentu tanpa
diketahui orang lain. Tetapi terkadang juga bermaksud al-Yuha yaitu pengertian
isin maf’ul, maknanya yang diwahyukan.
Wahyu berasal dari kata wahy, dari kata kerja bahasa
arab waha, yang berarti meletakkan dalam pikiran , kadang-kadang dipahami
sebagai “inspirasi”. Alquran menggunakan istilah ini tidak hanya untuk
inspirasi ilahiyah yang diberikan kepada manusia, tetapi juga untuk komunikasi
spiritual di antara makhluk-makhluk yang lain. Namun, wahyu merujuk secara
spesifik kepada wahy, yakni inpirasi ilahiyah yang diberikan kepada manusia
terpilih, yang dikenal sebagai nabi-nabi, dengan maksud sebagai petunjuk.[21]
Wahyu secara bahasa bermakna:[22]
a.
Ilham secara
bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa, sebagaimana dalam
Q.S al-Qassas ayat 7;
“dan kami
ilhamkan kepada ibu Musa; “ susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya
maka jauhkanlah Dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangalah
(pula) bersedih hati, karena sesungguhya kami akan mengembalikannya kepadamu,
dan menjadikannya (salah seorang) dari pada rasul.”
b.
Ilham yang
berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah. Sebagaimana dalam Q.S
an-Nahl: 68
4ym÷rr&ur y7/u n<Î) È@øtª[$# Èbr& ÉϪB$# z`ÏB ÉA$t6Ågø:$# $Y?qãç/ z`ÏBur Ìyf¤±9$# $£JÏBur tbqä©Ì÷èt ÇÏÑÈ
“ Dan Tuhanmu
mewahyukan kepada lebah: “ buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, di pohon-pohon
kayu, dan di tempat-tmpat yang dibikin manusia”.
c.
Isyarat yang
cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang tercantum dalam Q.S
Maryam: 11:4
yltsmú 4n?tã ¾ÏmÏBöqs% z`ÏB É>#tósÏJø9$# #Óyr÷rr'sù öNÍkös9Î) br& (#qßsÎm7y Zotõ3ç/ $|ϱtãur ÇÊÊÈ
“ Maka ia keluar dari dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia
memberi isyarat kepada mereka, hendaklah
kamu bertasbih di waktu pagi dan petang”.
d.
Bisikan dan
tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk kelihatan indah dalam diri manusia,
sebagaimana Q.S al-An’am:121 :
wur (#qè=à2ù's? $£JÏB óOs9 Ìx.õã ÞOó$# «!$# Ïmøn=tã ¼çm¯RÎ)ur ×,ó¡Ïÿs9 3 ¨bÎ)ur úüÏÜ»u¤±9$# tbqãmqãs9 #n<Î) óOÎgͬ!$uÏ9÷rr& öNä.qä9Ï»yfãÏ9 ( ÷bÎ)ur öNèdqßJçG÷èsÛr& öNä3¯RÎ) tbqä.Îô³çRmQ ÇÊËÊÈ
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang
yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan
yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan
kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti
mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”.
e. Apa yang disampaikan Allah kepada para
malaikat berupa suatu perintah untuk dikerjakan, sebagaimana dalam surat
al-Anfal: 12 :
øÎ) ÓÇrqã y7/u n<Î) Ïps3Í´¯»n=yJø9$# ÎoTr& öNä3yètB (#qçGÎm;sWsù úïÏ%©!$# (#qãZtB#uä 4 Å+ø9é'y Îû É>qè=è% úïÏ%©!$# (#rãxÿx. |=ôã9$# (#qç/ÎôÑ$$sù s-öqsù É-$oYôãF{$# (#qç/ÎôÑ$#ur öNåk÷]ÏB ¨@à2 5b$uZt/ ÇÊËÈ
“(ingatlah),
ketika Tuhanmu mewahyukan kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku bersama
kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman". kelak
akan aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, Maka
penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.”
Sebagai mana telah disebutkan bahwa makna sentral wahyu adalah
pemberian informasi secara rahasia. Hal itu berarti bahwa wahyu adalah sebuah
komunikasi antara dua pihak yang mengandung pemberian informasi secara cepat
dan rahasia. Pengertian wahyu secara bahasa tersebut memberikan informasi
kepada kita bahwa ada proses komunikasi antara dua pihak (pengirim dan
penerima) baik sesama manusia, maupun manusia dengan makhluk lain, ataupun
makhluk dengan Tuhannya. Di dalam melakukan komunikasi, kedua bela pihak
memiliki kesepakatan tentang kode yang dipakai dalam komunikasi, sehingga bisa
saja pihak ketiga mengetahui ada proses komunikasi namun dia tidak mengetahui
isi komunikasi itu karena sifatnya yang rahasia dan cepat.[23]
Untuk memudahkan pemahaman penjeasan di atas dapat diskemakan sebagai berikut:
|
Pemberian informasi
|
|
kode
|
|
Bersama
antara
|
|
Pengirim dan peneriama
|
|
Pihak ke 3
|
|
1.
Sama
eksistensi
2.
Berbeda
eksistensi: wahyu dan al-Qur’an
|
|
Tahu ada proses komunikasi tetapi tidak
tahu isinya
|
Wahyu secara istilah dapat bermakna komunikasi pesab
Ilahi (Kalam Allah) kepada para Nabi termasuk Muhammad saw, ia kadang berupa
perintah, atau berupa doktrin disampaikan secara cepat dan rahasia.
Muhammad
Abduh mendefinisikan wahyu didalam Risalat al-Tauhidnya adalah pengetahuan yang
didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa itu
dating dari Allah melalui perantara atau tidak. Yang pertama melalui suara yang
menjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali.[24]
Menurut
az-Zarqani, wahyu adalah Allah mengajarkan kepada hamba-Nya yang terpilih
segala macam hidayah dan ilmu yang Dia (Allah) kehendaki untuk memperlihatkan
kepada hambaNya dengan jalan rahasia dan samar.
Berkaitan
denag pewahyuan al-Qur’an yaitu terjadinya komunikasi pesan Allah swt kepada
Rasulullah Muhammad saw melelui Jibril baik berupa perintah, maupun doktrin
memberi informasi kepada kita bahwa objek utama wahyu didalam al-Qur’an adalah
Muhammad saw sebagaimana tercermin dalam ayat-ayat berikut: [25]
Q.S. ar-Ra’ad: 30, Q.S.al-An’am:50.
Sedang sumber wahyu adalah Allah SWT sebagaimana
ayat-ayat berikut : Q.S.an-Najm: 4
÷bÎ) uqèd wÎ) ÖÓórur 4Óyrqã ÇÍÈ
“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan (kepadanya)”.
Q.S. al-An’am: 50
@è% Hw ãAqè%r& óOä3s9 ÏZÏã ßûÉî!#tyz «!$# Iwur ãNn=ôãr& |=øtóø9$# Iwur ãAqè%r& öNä3s9 ÎoTÎ) î7n=tB ( ÷bÎ) ßìÎ7¨?r& wÎ) $tB #Óyrqã ¥n<Î) 4 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o 4yJôãF{$# çÅÁt7ø9$#ur 4 xsùr& tbrã©3xÿtGs? ÇÎÉÈ
“Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu,
bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang
ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. aku
tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah
sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka Apakah kamu tidak
memikirkan(nya)?"
Lawh mahfuz (Luh yang terpelihara)
yang hanya dapat disentuh oleh hamba-hamba Allah yang disucikan Luh ini juga
disebut juga kitab Maknun (tersembunyi) atau umm al-Kitab (Induk Segala Kitab).
Jadi al-Qur’an adalah benar-benar bacaan yang sempurna dan sangat mulia, ia
termaktub dalam kitab yang terpelihara, sehingga ia tidak akan hilang atau
mengalami pergantian dan perubahan.[26]
C.
Manfaat Studi Al-Qur’an
Manfaat
Studi Al-Qur’an ialah untuk mencapai hal-hal, sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui seala ihwal kitab
Al-Qur’an sejak dari turunnya wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW,
sampai keadaan kitab itu hingga sekarang. Sebab, dengan Ulumul Qur’an itu akan bisa
diketahui bagaimana wahyu Al-Qur’an itu turun dan diterima oleh Nabi Muhammad
SAW, dan bagaimana beliau menerima dan membacanya, serta bagaimana beliau
mengajarkannya kepada para sahabat serta menerangkan tafsiran ayat-ayatnya
kepada mereka. Dan dengan ilmu itu dapat diketahui pula perhatian umat islam
terhadap kitab sucinya pada tiap-tiap adab serta usaha-usaha mereka dalam
memelihara, menghafalkan, menafsirkan dan mengistimbatkan hukum-hukum ajaran
Al-Qur’an dan sebagainya.
b. Untuk dijadikan alat bantu dalam membaca
lafal ayat-ayatnya, memahamai isi kandungannya, menghayati dari mengamalkan
aturan-aturan/ hukum ajarannya serta untuk menyelami rahasia dan hikmah
disyariatkannya sesuatu peraturan/ hukum dalam kitab itu. Sebab, hanya dengan
mengetahui dan menguasai pembahasan-pebahasan Ulumul Qur’an inilah, orang baru
akan bisa membaca lafal ayat-ayatnya dengan baik, sesuai dengan aturan. Dan
dengan Ulumul Qur’an itu pula, orang akan bisa mengerti isi kandungan
Al-Qur’an, baik yang berupa segi-segi kemukjizatannya, atau segi hukum-hukum
petunjuk ajarannya, sesuai dengan keterangan-keterangan dari Ilmu I’jazil
Qur’an, Ilmu Tafsiril Qur’an, dan Ilmu Ushulil Fiqh, yang juga berupa
bidang-bidang pembahasan dari Ulumul Qur’an itu.
c. Untuk dijadikan senjata pamungkas guna
melawan orang-orang non muslim yang mengingkari kewahyuan Al-Qur’an dan
membantah tuduhan orang-orang tertentu, yang tiap-tiap ada raja orang yang
melamparkan tuduhan tuduhan kaji terhadap kesucian kitab Al-Qur’an. Kalau umat
Islam berkewajiban membela agamanya, jelaslah kewajiban pertama yang harus
dibelanya ialah membela eksistensi dan fungsi kitab suci ini, dengan
mempertahankan kesucian, kemuliaan dan kegunaannya.[27]
D.
Kronologi Belajar/ Studi Al-Qur’an
Tahapan turunnya wahyu Al-Qur’an,
berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang diperkuat dengan hadist-hadist Nabi SAW di
atas, maka dapat dinyatakan bahwa turunnya Al-Qur’an dimalam yang penuh berkah
pada bulan Ramadhan adalah turun dari Lauh Mahfush ke Baitul ‘Izzah.
Nabi SAW pertama kali menerima wahyu saat
melakukan kesendirian di Goa Hira’, Dalam kesendiriannya, Nabi SAW memikirkan
tingkah laku manusia yang jauh dari budi pekerti yang luhur. Nabi SAW
melakukannya berbulan-bulan. Nabi SAW terus berdiam di goa itu dan pulang hanya
untuk membawa perbekalan.
Pengalaman Nabi SAW di Goa Hira’ diatas
terjadi pada tanggal 17 Ramadhan (Abu Syahbah, 1992:53) atau bertepatan dengan
tanggal 6 Agustus 610 Masehi (Abdul Djalal, 2000:63; Toha Yahya Omar,
1992:169).Jarak antara turunnya Al-Qur’an dari Lauh Mahfush ke Baitul ‘Izzah
dan turunnya Al-Qur’an dari Baitul
‘Izzah ke Nabi SAW di bumi adalah sangat dekat. Kedua berada dalam Bulan
Ramadhan. Hanya saja, belum ditemukan penjelasan: apakah turunnya al-Qur’an
dari Lauh Mahfush ke Baitul ‘Izzah beberapa jam sebelum turun kepada Nabi SAW,
sehungga tanggal 17 Ramadhan tepat menjad malam kemuliaan, ataukah turun dengan
jarak beberapa hari sebelum tanggal 17 Ramadhan. Sejak tanggal itu, al-Qur’an
mulai turun secara bertahap saat Nabi SAW berusia 41 tahun.[28]
Ayat yang pertama turun adalah surat
Al-Alaq ayat 1-5, sedangkan surat Al-Mudatsir ayat 1-5 merupakan ayat dakwah
yang pertama turun. Srat Al-Alaq sebagai tonggak awal kenabian, sedangkan
Al-Mudatsir sebagai awal kerosulan. Surat yang pertama turun adalah surat
Al-Fatihah (Manna’ al-Qaththan)[29]
Tidak seperti ayat yang pertama turun,
ayat yang terakhir turun justru mengalami ketidakjelasan. Nabi SAW bisa
bercerita tentang awal permulaan wahyu. Akan tetapi, Nabi SAW tidak bisa
bercerita wahyu yang turun paling akhir, karena turunnya wahyu merupakan
Kehendak Allah SWT yang tidak diketahui Nabi SAW.
Dari beberapa perbedaan pendapat
mengenai ayat yang turun paling akhir, terdapat dua pendapat yang memiliki
alasan yang sama kuat. Pertama, pendapat
yang menyatakan bahwa ayat yang turun paling akhir ayat 3 dari surat Al-Maidah.
Kandungan ayat ini menunjukkan suatu kesempurnaan agama dan nikmat Allah SWT
serta kerelaan Allah SWT atas agama Islam.Berdasarkan tempat dan waktu, ayat
ini turun d Arafah saat Nabi SAW berada diatas unta dalam rangka menjalankan
haji poerpisahan (Hajjatul Waddah) tepat pada hari Jumat tanggal 9 Dhulhijjah
tahun 10 Hijriah atau 27 Oktober 632 Masehi jara antara turunnya ayat ini
dengan wafatnya Nabi SAW adalah 81 hari.Kedua,
pendapat yang menyatakan bahwa ayat yang turun paling akhir adalah surat
al-Baqarah ayat 281. Ayat memberikan peringatan tentang kembalinya segala
sesuatu kepada Allah SWT pada Hari Akhir. Selain itu, sebagai mana pendapat
pertama diatas ayat ini juga didukung leh banyak ulama. Jangka waktu antara
turunnya ayat ini dan wafatnya Nabi SAW adalah 9 hari, sehinga ayat ini turun
pada hari Sabtu (Ibnu Katsir, 1997; 1; 367). Sebelum wafat, Nabi SAW mengalami
sakit keras. Karenanya ayat ini turun di Madinah saat Nabi SAW terbaring sakit.
Dibanding yang pertama (Surat Al-Maidah ayat 3), pendapat kedua ini (Surat
Al-Baqarah ayat 281) lebih akhir turunnya. Karenanya Abu syahbah (1992:
108-109) berpegang pada pendapat kedua ini.[30]
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Studi
Alquran adalah ilmu yang membahas tentang segala sesuatu yang ada kaitannya
dengan Alquran. Alquran sebagai kitab suci umat islam yang berlaku sepanjang zaman tidak akan pernah habis dan selesai untuk
dibahas.
Persamaan
Al-Qur’an dan wahyu adalah sama-sama perkataan Allah yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril secara beransur-ansur.
Perbedaan
Al-qur’an dan wahyu. Wahyu adalah
potongan-potongan Al-Qur’an yang belum disatukan yang sedikit demi sedikit
disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril secara
berangsur-angsur yang disampaikannya secara rahasia tanpa diketahui oleh orang
lain.
Al-Qur’an
adalah kalam Allah dengan lafadz-Nya bukan kalam Jibril ataupun Muhammad.
Al-Qur’an bisa juga disebut dengan
potongan-potongan wahyu Allah yang telah dijadikan satu oleh Nabi
Muhammad dan sekertaris Nabi Muhammad (sahabatNya) yang sebelumnya dituliskan
secara terpisah-pisah dalam berbagai pelepah tamar, daun-daun kering dan
tulang-tulang suci.
Manfaat
al-Qur’an ialah untuk mengetahui ihwal kitab Al-Qur’an sejak dari turunnya
wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW, sampai keadaan kitab itu hingga
sekarang.Untuk memahamai isi kandungannya. Untuk dijadikan senjata pamungkas
DAFTAR PUSTAKA
Al-Zarqany, Muhammad Adzhim, Manahilu
al-‘Irfan fi ‘Ulum Alquran, Beirut: Dar-Kutubul ‘Ilmiah, tt
Aziz, Moh.Ali dan
Bambang Subandi, Pengeahuan Tentang
Al-Qur’an, Surabaya, Fakultas Dakwah
IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2009
Baharuddin & Buyung Ali. Metode Studi Islam, Bandung: Cita
Pustaka, 2005
Djalal, Abdul, Ulumul Qur’an, Surabaya, Dunia ilmu,
2013
Harahap,
Hakim Muda, Rahasia Al-Qur’an, Darul Hikam: Cimanggis, 2007
Manna’ al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, Ttp.:
Manshurat al-‘Asri al-Hadith, 1973
Rohiminm Metode
Ilmu Tafsir ,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007
Rosihon, Anwar, Ulum
Alquran, Bandung: CV. Pustaka, 2008
Syadali, Ahmad dan Ahmad Rofi’I, Ulum Alquran I, Bandung:
Pustaka Setia, 2000 cet.II
Syahbah Abu, Muhammad bin Muhammad, Al-Madkhal
li Dirasat Alquran al-Karim, Kairo: Maktabah Al-Sunnah, 1992
Syaikh Manna Khlil
al-Qattan, Mahabits fi Ulum Al-Qur’an, Terjemah Ainur Mazni , Rafiq M..
pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, Jakarta:
Pustaka Al-Kautsar, 2006
Tim Penyusun MKD IAIN
Sunan Ampel Surabaya, Studi Al-Qur’an, Surabaya:
IAIN Sunan Ampel Surabaya Press, 2012
Tim penyusun, Nina M. Armando (ed.), Ensiklopedi
Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005
Yunus, Mahmud, Kamus
Arab-Indonesia, Jakarta: PT. Mahmud Yunus Wadzuryah, tt
[1]
Rohiminm Metode Ilmu Tafsir ,(Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2007), hal.84.
[2]
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi
Al-Qur’an, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Surabaya Press, 2012), 14
[3]Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Mahmud Yunus
Wadzuryah, tt), 278
[4] Muhammad
Adzhim al-Zarqany, Manahilu al-‘Irfan fi ‘Ulum Alquran, (Beirut:
Dar-Kutubul ‘Ilmiah, tt.), 14.
[5] Tim penyusun,
Nina M. Armando (ed.), Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van
Hoeve, 2005), 161.
[10] Muhammad bin
Muhammad Abu Syahbah, Al-Madkhal li Dirasat Alquran al-Karim, (Kairo:
Maktabah Al-Sunnah, 1992), 18.
[13]
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi
Al-Qur’an, 15
[15]
Ibid
[16]
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi
Al-Qur’an. 15
[17]
Manna’ al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum
al-Qur’an, 15-16
[18]
Manna’ al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum
al-Qur’an, (Ttp.: Manshurat al-‘Asri al-Hadith, 1973), 15
[19]
Ibid, 16
[20]
Syaikh Manna Khlil al-Qattan, Mahabits fi Ulum Al-Qur’an, Terjemah Ainur Rafiq
M.Mazni. pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an,
(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), 34
[21]
Hakim Muda Harahap, Rahasia Al-Qur’an, (Darul Hikam: Cimanggis, 2007), 28
[22]
Manna’ al-Qattan, Mabahit fi ‘Ulum
al-Qur’an, (Ttp,: Manshurat al- ‘Asri al-Hadits, 1973), 32
[23]
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi
Al-Qur’an, 8
[24]
Syaikh Manna Khlil al-Qattan, Mahabits fi Ulum Al-Qur’an, Terjemah Ainur Rafiq
M.Mazni. pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an,
(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), 33
[25]
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi
Al-Qur’an, 9
[26]
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi
Al-Qur’an, 10
[27] H.
Abdul Djalal, Ulumul Qur’an,
(Surabaya, Dunia ilmu, 2013), 21
[28]Moh.Ali
Aziz dan Bambang Subandi, Pengeahuan
Tentang Al-Qur’an, ( Surabaya, Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya,
2009), 16
[29]Ibid,
.18
[30]Moh.Ali
Aziz dan Bambang Subandi, Pengeahuan
Tentang Al-Qur’an, .19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar