BAB I
PENDAHULUAN
Perkembangan adalah perubahan yang teratur, sistematis, dan
terorganisir yang mempunyai tujuan tertentu. Perkembangan memiliki beberapa
ciri, yaitu : berkesinambungan, kumulatif, bergerak ke arah yang lebih kompleks
dan holistik. Perkembangan psikososial berarti perkembangan sosial seorang
individu ditinjau dari sudut pandang psikologi.1 Perkembangan masa anak-anak
merupakan hal yang menarik untuk dipelajari. Hubungan antara anak dan keluarga,
teman sebaya dan sekolah mempengaruhi perkembangan psikososial seorang anak. Perkembangan
sosial seorang anak meningkat ditandai dengan adanya perubahan pengetahuan dan
pemahaman mereka tentang kebutuhan dan peraturan-peraturan yang berlaku.
Sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana perkembangan psikososial
dari seorang anak terutama di zaman seperti sekarang. Dengan mempelajari
perkembangan psikososial anak, kita dapat membimbing dan membantu
mengoptimalkan proses perkembangan yang akan dialami sang anak dengan cara yang
tepat. Pengetahuan tentang perkembangan psikososial akan membantu para orang
tua dan guru dalam menghadapi tantangan saat membesarkan dan mendidik anak-
anak/siswa.
BAB
II
ISI
A.
TEORI
PSIKOSOSIAL ANAK
Banyak teori mengenai perkembangan
psikososial, yang paling banyak dianut adalah teori psikosisal dari Erik
Erikson. Teori psikososial dari Erik Erikson meliputi delapan tahap yang saling
berurutan sepanjang hidup. Hasil dari tiap tahap tergantung dari hasil tahapan
sebelumnya, dan resolusi yang sukses dari tiap krisis ego adalah penting bagi
individu untuk dapat tumbuh secara optimal. Ego harus mengembangkan kesanggupan
3 yang berbeda untuk mengatasi tiap tuntutan penyesuaian dari masyarakat.2,3
Berikut adalah delapan tahapan perkembangan psikososial menurut Erik Erikson :
1.
Tahap
I : Trust versus Mistrust (0-1 tahun) Dalam tahap ini, bayi berusaha keras
untuk mendapatkan pengasuhan dan kehangatan, jika ibu berhasil memenuhi
kebutuhan anaknya, sang anak akan mengembangkan kemampuan untuk dapat
mempercayai dan mengembangkan asa (hope). Jika krisis ego ini tidak pernah
terselesaikan, individu tersebut akan mengalami kesulitan dalam membentuk rasa
percaya dengan orang lain sepanjang hidupnya, selalu meyakinkan dirinya bahwa
orang lain berusaha mengambil keuntungan dari dirinya.
2.
Tahap
II: Autonomy versus Shame and Doubt (l-3 tahun) Dalam tahap ini, anak akan
belajar bahwa dirinya memiliki kontrol atas tubuhnya. Orang tua seharusnya
menuntun anaknya, mengajarkannya untuk mengontrol keinginan atau
impuls-impulsnya, namun tidak dengan perlakuan yang kasar. Mereka melatih
kehendak mereka, tepatnya otonomi. Harapan idealnya, anak bisa belajar menyesuaikan
diri dengan aturan-aturan sosial tanpa banyak kehilangan pemahaman awal mereka
mengenai otonomi, inilah resolusi yang diharapkan
3.
Tahap
III : Initiative versus Guilt (3-6 tahun) Pada periode inilah anak belajar
bagaimana merencanakan dan melaksanakan tindakannya. Resolusi yang tidak
berhasil dari tahapan ini akan membuat sang anak takut mengambil inisiatif atau
membuat keputusan karena takut berbuat salah. Anak memiliki rasa percaya diri
yang rendah dan tidak mau mengembangkan harapan- harapan ketika ia dewasa. Bila
anak berhasil melewati masa ini dengan baik, maka keterampilan ego yang
diperoleh adalah memiliki tujuan dalam hidupnya.
4.
Tahap
IV: Industry versus Inferiority (6-12 tahun) Pada saat ini, anak-anak belajar
untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan dari menyelesaikan tugas khususnya
tugas-tugas akademik. Penyelesaian yang sukses pada tahapan ini akan
menciptakan anak yang dapat memecahkan masalah dan bangga akan prestasi yang
diperoleh. Ketrampilan ego yang diperoleh adalah kompetensi. Di sisi lain, anak
yang tidak mampu untuk menemukan solusi positif dan tidak mampu mencapai apa
yang diraih teman-teman sebaya akan merasa inferior.
5.
Tahap
V : Identity versus Role Confusion (12-18 tahun) Pada tahap ini, terjadi
perubahan pada fisik dan jiwa di masa biologis seperti orang dewasa sehingga
tampak adanya kontraindikasi bahwa di lain pihak ia dianggap dewasa tetapi di
sisi lain ia dianggap belum dewasa. Tahap ini merupakan masa stansarisasi diri yaitu
anak mencari identitas dalam bidang seksual, umur dan kegiatan. Peran orang tua
sebagai sumber perlindungan dan nilai utama mulai menurun. Adapun peran
kelompok atau teman sebaya tinggi.
6.
Tahap
VI : Intimacy versus Isolation (masa dewasa muda) Dalam tahap ini, orang dewasa
muda mempelajari cara berinteraksi dengan orang lain secara lebih mendalam.
Ketidakmampuan untuk membentuk ikatan sosial yang kuat akan menciptakan rasa
kesepian. Bila individu berhasil mengatasi krisis ini, maka keterampilan ego
yang diperoleh adalah cinta.
7.
Tahap
VII : Generativity versus Stagnation (masa dewasa menengah) Pada tahap ini,
individu memberikan sesuatu kepada dunia sebagai balasan dari apa yang telah
dunia berikan untuk dirinya, juga melakukan sesuatu yang dapat memastikan
kelangsungan generasi penerus di masa depan. Ketidakmampuan untuk memiliki
pandangan generatif akan menciptakan perasaan bahwa hidup ini tidak 5 berharga
dan membosankan. Bila individu berhasil mengatasi krisis pada masa ini maka
ketrampilan ego yang dimiliki adalah perhatian.
8.
Tahap
VIII : Ego Integrity versus Despair (masa dewasa akhir) Pada tahap usia lanjut
ini, mereka juga dapat mengingat kembali masa lalu dan melihat makna,
ketentraman dan integritas. Refleksi ke masa lalu itu terasa menyenangkan dan
pencarian saat ini adalah untuk mengintegrasikan tujuan hidup yang telah
dikejar selama bertahun-tahun. Kegagalan dalam melewati tahapan ini akan
menyebabkan munculnya rasa putus asa.
B.
PERAN
KELUARGA DALAM PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK
Hubungan dengan orang tua atau
pengasuhnya merupakan dasar bagi perkembangan emosional dan sosial anak.
Sejumlah ahli memercayai bahwa kasih sayang orang tua atau pengasuh selama
beberapa tahun pertama kehidupan merupakan kunci utama perkembangan sosial
anak, meningkatkan kemungkinan anak memiliki kompetensi secara sosial dan
penyesuaian diri yang baik pada tahun prasekolah dan setelahnya.
1.
Pola
Asuh Orang Tua Salah satu aspek penting dalam hubungan orang tua dan anak
adalah pola asuh. Pola asuh bertujuan untuk mempertahankan kehidupan fisik anak
dan meningkatkan kesehatannya, memfasilitasi anak untuk mengembangkan kemampuan
sejalan dengan tahapan perkembangan dan mendorong peningkatan kemampuan
berperilaku sesuai dengan nilai agama dan budaya yang diyakini. Ada 3 bentuk
pola asuh orang tua:
a.
Pola
asuh otoriter Pola asuh otoriter adalah suatu gaya pengasuhan yang membatasi
dan menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua. Orang tua yang
menerapkan pola asuh otoriter mempunyai ciri-ciri bersifat kaku, tegas, suka
menghukum dan kurang 6 kasih sayang. Orang tua memaksa anak-anak untuk patuh
terhadap nilai-nilai dan peraturan mereka. Dalam memberikan peraturan itu tidak
ada usaha untuk menjelaskan kepada anak mengapa ia harus patuh pada peraturan
itu. Anak dari orang tua yang otoriter cenderung bersifat curiga pada orang
lain dan merasa tidak bahagia dengan dirinya sendiri merasa canggung
berhubungan dengan teman sebaya, canggung menyesuaikan diri pada awal masuk
sekolah dan memiliki prestasi belajar yang rendah dibandingkan dengan anak-anak
lain. Anak cenderung agresif, impulsive, pemurung dan kurang mampu konsentrasi.
b.
Pola
asuh demokratis Pola asuh demokratis adalah salah satu gaya pengasuhan yang
memperlihatkan pengawasan ekstra ketat terhadap tingkah laku anak-anak, tetapi
mereka juga bersikap responsif. Orang tua yang demokratis memandang sama
kewajiban dan hak antara anak dan orang tua. Secara bertahap orang tua
memberikan tanggung jawab bagi anak- anaknya terhadap segala sesuatu yang
diperbuatnya sampai mereka dewasa. Orang tua yang demokratis memperlakukan anak
sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangan anak dan dapat memperhatikan serta
mempertimbangkan keinginan anak. Pola asuh yang ideal atau pola asuh yang baik
adalah pola asuh demokratis dimana anak mempunyai hak untuk mengetahui mengapa
peraturan-peraturan dibuat dan memperoleh kesempatan mengemukakan pendapatnya
sendiri bila ia menganggap bahwa peraturan itu tidak adil. Dampak perkembangan
psikologi anak dengan pola asuh demokratis yaitu rasa harga diri yang tinggi, memiliki
moral yang standar, kematangan psikologisosial, kemandirian dan mampu bergaul
dengan teman sebayanya
c.
Pola
asuh permisif Pola asuh yang permisif, anak dituntut sedikit sekali tanggung
jawab tetapi mempunyai hak yang sama seperti orang dewasa. Anak diberi
kebebasan untuk 7 mengatur dirinya sendiri dan orang tua tidak banyak mengatur
anaknya. Dalam pola asuh ini diasosiasikan dengan kurangnya kemampuan
pengendalian diri anak karena orang tua yang cenderung membiarkan anak mereka
melakukan apa saja yang mereka inginkan dan akibatnya anak selalu mengharap
semua keinginannya dituruti. Dalam pola asuh permisif, bimbingan terhadap anak
kurang dan semua keputusan lebih banyak dibuat oleh anak daripada orang tuanya.
Dalam pola asuh ini, sikap acceptance orang tua tinggi namun tingkat kontrolnya
rendah.
2.
Perkembangan
Moral Anak
Anak memperoleh nilai-nilai moral
dari lingkungan dan orang tuanya. Melalui pengalamannya berinteraksi dengan
orang lain, anak belajar memahami tentang perilaku yang buruk yang tidak boleh
dikerjakan.1,6 Berikut beberapa sikap orang tua sehubungan dengan perkembangan
moral anak :
a.
Konsistensi
dalam mendidik anak. Kedua orang tua harus memiliki sikap dan perlakuan yang
sama dalam melarang atau memperbolehkan tingkah laku tertentu kepada anak.
Suatu tingkah laku anak yang dilarang oleh orang tua pada suatu waktu, harus
juga dilarang apabila dilakukan kembali pada waktu lain
b.
Sikap
orang tua dalam keluarga. Secara tidak langsung sikap orang tua terhadap anak
dapat mempengaruhi perkembangan moral anak yaitu melalui proses peniruan. Sikap
orang tua yang keras cenderung melahirkan sikap disiplin semu pada anak. Adapun
sikap acuh tak acuh atau sikap masa bodoh cenderung mengembangkan sikap kurang bertanggung
jawab dan kurang memperdulikan norma pada diri anak. Sikap yang sebaiknya
dimiliki oleh orang tua yaitu sikap kasih saying, keterbukaan, musyawarah dan
konsisten.
c.
Penghayatan
dan pengalaman agama yang dianut. Orang tua merupakan teladan bagi anak,
termasuk dalam mengamalkan ajaran agama. Orang tua yang menciptakan iklim yang
religious (agamais) dengan cara memberikan ajaran atau bimbingan tentang
nilai-nilai agama kepada anak, maka anak akan mengalami perkembangan moral yang
baik.
d.
Sikap
orang tua dalam menerapkan norma. Orang tua yang tidak menghendaki anaknya
berbohong atau berlaku tidak jujur, maka mereka harus menjauhkan dirinya dari
perilaku berbohong.
Perkembangan moral dapat berlangsung
melalui beberapa cara yaitu pendidikan langsung, identifikasi dan proses
coba-coba. Perkembangan moral dengan cara pendidikan langsung yaitu melalui
penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah atau yang baik
dan buruk oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya. Hal yang terpenting
dalam pendidikan moral adalah keteladanan dari orang tua, guru atau orang
dewasa lainnya dalam melakukan nilai-nilai moral. Perkembangan moral dengan
cara identifikasi yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan
atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi panutannya. Perkembangan moral
dengan proses coba-coba yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral
secara coba-coba. Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan
terus dikembangkan sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan
akan dihentikannya.
C.
PERAN
PERTEMANAN DALAM PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK
Berikut adalah fase pertemanan dalam perkembangan psikososial anak
:
1.
Fase
Pertama (Teman untuk Bermain) Fase ini terjadi pada usia anak antara 5 sampai 7
tahun. Bagi mereka, teman adalah seseorang yang mempunyai mainan yang menarik
dan tempat tinggalnya dekat di sekitar mereka dan mereka mempunyai
ketertarikkan yang sama. Kepribadian dari teman tersebut tidak menjadi masalah,
yang terpenting bagi mereka adalah kegiatan dan mainan apa yang mereka miliki.
Persahabatan mereka akan secepat mungkin terputus dan terbina kembali begitu
saja.
2.
Fase
Kedua (Teman untuk Bersama) Pada fase ini, selain arti teman untuk bermain,
pertemanan juga didasari kepercayaan satu sama lain, terjadi pada usia anak
antara 8 sampai 10 tahun. Dalam usia ini, arti teman sudah melangkah ke
perasaan saling percaya, saling membutuhkan dan saling mengunjungi. Dalam fase
ini, seorang anak untuk mendapatkan teman tidak segampang anak pada fase
pertama, karena mereka harus ada kemauan berteman dari kedua belah pihak. Mereka
tidak akan mau berteman lagi setelah diantara mereka timbul masalah.
3.
Fase
Ketiga Fase ketiga adalah persahabatan yang penuh dengan saling pengertian.
Fase ini terjadi pada usia anak 11 sampai 15 tahun, bagi mereka arti teman
tidak hanya sekedar untuk bermain saja, di sini seorang teman harus juga bisa
berfungsi sebagai tempat berbagi pikiran, perasaan dan pengertian. Pada fase ini,
persahabatan menjadi sangat pribadi karena pada umumnya mereka sedang mengalami
masa puber dengan permasalahan psikologis, biasanya sahabatnya lebih tahu
dibandingkan orang tua mereka sendiri. Persahabatan tersebut biasanya terputus
karena salah seorang dari mereka pindah rumah atau melanjutkan sekolah di kota
lain.
BAB III
Kesimpulan
Perkembangan psikologi manusia dipengaruhi salah satunya oleh
interaksi sosial. Keluarga sangat berperan penting dalam perkembangan
psikososial anak. Hubungan dengan orang tua atau pengasuhnya merupakan dasar
bagi perkembangan emosional dan sosial anak. Salah satu aspek penting dalam
hubungan orang tua dan anak adalah pola asuh. Perkembangan moral seorang anak
juga dipengaruhi oleh lingkungan. Pertemanan mempunyai arti penting dalam
perkembangan sosial anak-anak. Jika anak tidak dapat beradaptasi dengan baik
dengan lingkungannya, anak akan membentuk perilaku yang bermasalah dan proses
belajarnya akan terganggu. Bimbingan konseling merupakan salah satu penuntun
bagi seseorang yang memiliki tekanan psikis.
DAFTAR PUSTAKA
Jahja, Yudrik. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Kencana Media
Group; 2011.
Crain, William. Teori Perkembangan, Konsep dan Aplikasi. Jakarta :
Pustaka Pelajar; 2007.
L, Zulkifli. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Karya CV;
2008.
Byod, Denise. Lifespan Development. Berlin : Pearson Education,
Inc.; 2006.
Berk, Laura. Child Development. Berlin : Pearson Education, Inc.;
2003.
Duvall, Evelyn. Marriage and Family Development. New York : J.B.
Lippincott Company; 2003.
Hetherington, E. Child Psychology, A Comtemporary Viewpoint. New
York: McGraw-Hill, Inc.; 2006.
Papalia, Diane. Human Developmen. New York : McGraw-Hill Inc.;
2003.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar