Pages

Sabtu, 10 Oktober 2015

Teori Psikososial Anak



BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan adalah perubahan yang teratur, sistematis, dan terorganisir yang mempunyai tujuan tertentu. Perkembangan memiliki beberapa ciri, yaitu : berkesinambungan, kumulatif, bergerak ke arah yang lebih kompleks dan holistik. Perkembangan psikososial berarti perkembangan sosial seorang individu ditinjau dari sudut pandang psikologi.1 Perkembangan masa anak-anak merupakan hal yang menarik untuk dipelajari. Hubungan antara anak dan keluarga, teman sebaya dan sekolah mempengaruhi perkembangan psikososial seorang anak. Perkembangan sosial seorang anak meningkat ditandai dengan adanya perubahan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang kebutuhan dan peraturan-peraturan yang berlaku. Sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana perkembangan psikososial dari seorang anak terutama di zaman seperti sekarang. Dengan mempelajari perkembangan psikososial anak, kita dapat membimbing dan membantu mengoptimalkan proses perkembangan yang akan dialami sang anak dengan cara yang tepat. Pengetahuan tentang perkembangan psikososial akan membantu para orang tua dan guru dalam menghadapi tantangan saat membesarkan dan mendidik anak- anak/siswa.












BAB II
ISI
A.    TEORI PSIKOSOSIAL ANAK
Banyak teori mengenai perkembangan psikososial, yang paling banyak dianut adalah teori psikosisal dari Erik Erikson. Teori psikososial dari Erik Erikson meliputi delapan tahap yang saling berurutan sepanjang hidup. Hasil dari tiap tahap tergantung dari hasil tahapan sebelumnya, dan resolusi yang sukses dari tiap krisis ego adalah penting bagi individu untuk dapat tumbuh secara optimal. Ego harus mengembangkan kesanggupan 3 yang berbeda untuk mengatasi tiap tuntutan penyesuaian dari masyarakat.2,3 Berikut adalah delapan tahapan perkembangan psikososial menurut Erik Erikson :
1.      Tahap I : Trust versus Mistrust (0-1 tahun) Dalam tahap ini, bayi berusaha keras untuk mendapatkan pengasuhan dan kehangatan, jika ibu berhasil memenuhi kebutuhan anaknya, sang anak akan mengembangkan kemampuan untuk dapat mempercayai dan mengembangkan asa (hope). Jika krisis ego ini tidak pernah terselesaikan, individu tersebut akan mengalami kesulitan dalam membentuk rasa percaya dengan orang lain sepanjang hidupnya, selalu meyakinkan dirinya bahwa orang lain berusaha mengambil keuntungan dari dirinya.
2.      Tahap II: Autonomy versus Shame and Doubt (l-3 tahun) Dalam tahap ini, anak akan belajar bahwa dirinya memiliki kontrol atas tubuhnya. Orang tua seharusnya menuntun anaknya, mengajarkannya untuk mengontrol keinginan atau impuls-impulsnya, namun tidak dengan perlakuan yang kasar. Mereka melatih kehendak mereka, tepatnya otonomi. Harapan idealnya, anak bisa belajar menyesuaikan diri dengan aturan-aturan sosial tanpa banyak kehilangan pemahaman awal mereka mengenai otonomi, inilah resolusi yang diharapkan
3.      Tahap III : Initiative versus Guilt (3-6 tahun) Pada periode inilah anak belajar bagaimana merencanakan dan melaksanakan tindakannya. Resolusi yang tidak berhasil dari tahapan ini akan membuat sang anak takut mengambil inisiatif atau membuat keputusan karena takut berbuat salah. Anak memiliki rasa percaya diri yang rendah dan tidak mau mengembangkan harapan- harapan ketika ia dewasa. Bila anak berhasil melewati masa ini dengan baik, maka keterampilan ego yang diperoleh adalah memiliki tujuan dalam hidupnya.
4.      Tahap IV: Industry versus Inferiority (6-12 tahun) Pada saat ini, anak-anak belajar untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan dari menyelesaikan tugas khususnya tugas-tugas akademik. Penyelesaian yang sukses pada tahapan ini akan menciptakan anak yang dapat memecahkan masalah dan bangga akan prestasi yang diperoleh. Ketrampilan ego yang diperoleh adalah kompetensi. Di sisi lain, anak yang tidak mampu untuk menemukan solusi positif dan tidak mampu mencapai apa yang diraih teman-teman sebaya akan merasa inferior.
5.      Tahap V : Identity versus Role Confusion (12-18 tahun) Pada tahap ini, terjadi perubahan pada fisik dan jiwa di masa biologis seperti orang dewasa sehingga tampak adanya kontraindikasi bahwa di lain pihak ia dianggap dewasa tetapi di sisi lain ia dianggap belum dewasa. Tahap ini merupakan masa stansarisasi diri yaitu anak mencari identitas dalam bidang seksual, umur dan kegiatan. Peran orang tua sebagai sumber perlindungan dan nilai utama mulai menurun. Adapun peran kelompok atau teman sebaya tinggi.
6.      Tahap VI : Intimacy versus Isolation (masa dewasa muda) Dalam tahap ini, orang dewasa muda mempelajari cara berinteraksi dengan orang lain secara lebih mendalam. Ketidakmampuan untuk membentuk ikatan sosial yang kuat akan menciptakan rasa kesepian. Bila individu berhasil mengatasi krisis ini, maka keterampilan ego yang diperoleh adalah cinta.
7.      Tahap VII : Generativity versus Stagnation (masa dewasa menengah) Pada tahap ini, individu memberikan sesuatu kepada dunia sebagai balasan dari apa yang telah dunia berikan untuk dirinya, juga melakukan sesuatu yang dapat memastikan kelangsungan generasi penerus di masa depan. Ketidakmampuan untuk memiliki pandangan generatif akan menciptakan perasaan bahwa hidup ini tidak 5 berharga dan membosankan. Bila individu berhasil mengatasi krisis pada masa ini maka ketrampilan ego yang dimiliki adalah perhatian.
8.      Tahap VIII : Ego Integrity versus Despair (masa dewasa akhir) Pada tahap usia lanjut ini, mereka juga dapat mengingat kembali masa lalu dan melihat makna, ketentraman dan integritas. Refleksi ke masa lalu itu terasa menyenangkan dan pencarian saat ini adalah untuk mengintegrasikan tujuan hidup yang telah dikejar selama bertahun-tahun. Kegagalan dalam melewati tahapan ini akan menyebabkan munculnya rasa putus asa.





B.     PERAN KELUARGA DALAM PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK
Hubungan dengan orang tua atau pengasuhnya merupakan dasar bagi perkembangan emosional dan sosial anak. Sejumlah ahli memercayai bahwa kasih sayang orang tua atau pengasuh selama beberapa tahun pertama kehidupan merupakan kunci utama perkembangan sosial anak, meningkatkan kemungkinan anak memiliki kompetensi secara sosial dan penyesuaian diri yang baik pada tahun prasekolah dan setelahnya.
1.      Pola Asuh Orang Tua Salah satu aspek penting dalam hubungan orang tua dan anak adalah pola asuh. Pola asuh bertujuan untuk mempertahankan kehidupan fisik anak dan meningkatkan kesehatannya, memfasilitasi anak untuk mengembangkan kemampuan sejalan dengan tahapan perkembangan dan mendorong peningkatan kemampuan berperilaku sesuai dengan nilai agama dan budaya yang diyakini. Ada 3 bentuk pola asuh orang tua:
a.       Pola asuh otoriter Pola asuh otoriter adalah suatu gaya pengasuhan yang membatasi dan menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua. Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai ciri-ciri bersifat kaku, tegas, suka menghukum dan kurang 6 kasih sayang. Orang tua memaksa anak-anak untuk patuh terhadap nilai-nilai dan peraturan mereka. Dalam memberikan peraturan itu tidak ada usaha untuk menjelaskan kepada anak mengapa ia harus patuh pada peraturan itu. Anak dari orang tua yang otoriter cenderung bersifat curiga pada orang lain dan merasa tidak bahagia dengan dirinya sendiri merasa canggung berhubungan dengan teman sebaya, canggung menyesuaikan diri pada awal masuk sekolah dan memiliki prestasi belajar yang rendah dibandingkan dengan anak-anak lain. Anak cenderung agresif, impulsive, pemurung dan kurang mampu konsentrasi.
b.      Pola asuh demokratis Pola asuh demokratis adalah salah satu gaya pengasuhan yang memperlihatkan pengawasan ekstra ketat terhadap tingkah laku anak-anak, tetapi mereka juga bersikap responsif. Orang tua yang demokratis memandang sama kewajiban dan hak antara anak dan orang tua. Secara bertahap orang tua memberikan tanggung jawab bagi anak- anaknya terhadap segala sesuatu yang diperbuatnya sampai mereka dewasa. Orang tua yang demokratis memperlakukan anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangan anak dan dapat memperhatikan serta mempertimbangkan keinginan anak. Pola asuh yang ideal atau pola asuh yang baik adalah pola asuh demokratis dimana anak mempunyai hak untuk mengetahui mengapa peraturan-peraturan dibuat dan memperoleh kesempatan mengemukakan pendapatnya sendiri bila ia menganggap bahwa peraturan itu tidak adil. Dampak perkembangan psikologi anak dengan pola asuh demokratis yaitu rasa harga diri yang tinggi, memiliki moral yang standar, kematangan psikologisosial, kemandirian dan mampu bergaul dengan teman sebayanya
c.       Pola asuh permisif Pola asuh yang permisif, anak dituntut sedikit sekali tanggung jawab tetapi mempunyai hak yang sama seperti orang dewasa. Anak diberi kebebasan untuk 7 mengatur dirinya sendiri dan orang tua tidak banyak mengatur anaknya. Dalam pola asuh ini diasosiasikan dengan kurangnya kemampuan pengendalian diri anak karena orang tua yang cenderung membiarkan anak mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan dan akibatnya anak selalu mengharap semua keinginannya dituruti. Dalam pola asuh permisif, bimbingan terhadap anak kurang dan semua keputusan lebih banyak dibuat oleh anak daripada orang tuanya. Dalam pola asuh ini, sikap acceptance orang tua tinggi namun tingkat kontrolnya rendah.
2.      Perkembangan Moral Anak
Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungan dan orang tuanya. Melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain, anak belajar memahami tentang perilaku yang buruk yang tidak boleh dikerjakan.1,6 Berikut beberapa sikap orang tua sehubungan dengan perkembangan moral anak :
a.       Konsistensi dalam mendidik anak. Kedua orang tua harus memiliki sikap dan perlakuan yang sama dalam melarang atau memperbolehkan tingkah laku tertentu kepada anak. Suatu tingkah laku anak yang dilarang oleh orang tua pada suatu waktu, harus juga dilarang apabila dilakukan kembali pada waktu lain
b.      Sikap orang tua dalam keluarga. Secara tidak langsung sikap orang tua terhadap anak dapat mempengaruhi perkembangan moral anak yaitu melalui proses peniruan. Sikap orang tua yang keras cenderung melahirkan sikap disiplin semu pada anak. Adapun sikap acuh tak acuh atau sikap masa bodoh cenderung mengembangkan sikap kurang bertanggung jawab dan kurang memperdulikan norma pada diri anak. Sikap yang sebaiknya dimiliki oleh orang tua yaitu sikap kasih saying, keterbukaan, musyawarah dan konsisten.
c.       Penghayatan dan pengalaman agama yang dianut. Orang tua merupakan teladan bagi anak, termasuk dalam mengamalkan ajaran agama. Orang tua yang menciptakan iklim yang religious (agamais) dengan cara memberikan ajaran atau bimbingan tentang nilai-nilai agama kepada anak, maka anak akan mengalami perkembangan moral yang baik.
d.      Sikap orang tua dalam menerapkan norma. Orang tua yang tidak menghendaki anaknya berbohong atau berlaku tidak jujur, maka mereka harus menjauhkan dirinya dari perilaku berbohong.
Perkembangan moral dapat berlangsung melalui beberapa cara yaitu pendidikan langsung, identifikasi dan proses coba-coba. Perkembangan moral dengan cara pendidikan langsung yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah atau yang baik dan buruk oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya. Hal yang terpenting dalam pendidikan moral adalah keteladanan dari orang tua, guru atau orang dewasa lainnya dalam melakukan nilai-nilai moral. Perkembangan moral dengan cara identifikasi yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi panutannya. Perkembangan moral dengan proses coba-coba yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikannya.
C.     PERAN PERTEMANAN DALAM PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK
Berikut adalah fase pertemanan dalam perkembangan psikososial anak :
1.      Fase Pertama (Teman untuk Bermain) Fase ini terjadi pada usia anak antara 5 sampai 7 tahun. Bagi mereka, teman adalah seseorang yang mempunyai mainan yang menarik dan tempat tinggalnya dekat di sekitar mereka dan mereka mempunyai ketertarikkan yang sama. Kepribadian dari teman tersebut tidak menjadi masalah, yang terpenting bagi mereka adalah kegiatan dan mainan apa yang mereka miliki. Persahabatan mereka akan secepat mungkin terputus dan terbina kembali begitu saja.
2.      Fase Kedua (Teman untuk Bersama) Pada fase ini, selain arti teman untuk bermain, pertemanan juga didasari kepercayaan satu sama lain, terjadi pada usia anak antara 8 sampai 10 tahun. Dalam usia ini, arti teman sudah melangkah ke perasaan saling percaya, saling membutuhkan dan saling mengunjungi. Dalam fase ini, seorang anak untuk mendapatkan teman tidak segampang anak pada fase pertama, karena mereka harus ada kemauan berteman dari kedua belah pihak. Mereka tidak akan mau berteman lagi setelah diantara mereka timbul masalah.
3.      Fase Ketiga Fase ketiga adalah persahabatan yang penuh dengan saling pengertian. Fase ini terjadi pada usia anak 11 sampai 15 tahun, bagi mereka arti teman tidak hanya sekedar untuk bermain saja, di sini seorang teman harus juga bisa berfungsi sebagai tempat berbagi pikiran, perasaan dan pengertian. Pada fase ini, persahabatan menjadi sangat pribadi karena pada umumnya mereka sedang mengalami masa puber dengan permasalahan psikologis, biasanya sahabatnya lebih tahu dibandingkan orang tua mereka sendiri. Persahabatan tersebut biasanya terputus karena salah seorang dari mereka pindah rumah atau melanjutkan sekolah di kota lain.

















BAB III

Kesimpulan
Perkembangan psikologi manusia dipengaruhi salah satunya oleh interaksi sosial. Keluarga sangat berperan penting dalam perkembangan psikososial anak. Hubungan dengan orang tua atau pengasuhnya merupakan dasar bagi perkembangan emosional dan sosial anak. Salah satu aspek penting dalam hubungan orang tua dan anak adalah pola asuh. Perkembangan moral seorang anak juga dipengaruhi oleh lingkungan. Pertemanan mempunyai arti penting dalam perkembangan sosial anak-anak. Jika anak tidak dapat beradaptasi dengan baik dengan lingkungannya, anak akan membentuk perilaku yang bermasalah dan proses belajarnya akan terganggu. Bimbingan konseling merupakan salah satu penuntun bagi seseorang yang memiliki tekanan psikis.














DAFTAR PUSTAKA

Jahja, Yudrik. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Kencana Media Group; 2011.

Crain, William. Teori Perkembangan, Konsep dan Aplikasi. Jakarta : Pustaka Pelajar; 2007.

L, Zulkifli. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Karya CV; 2008.

Byod, Denise. Lifespan Development. Berlin : Pearson Education, Inc.; 2006.

Berk, Laura. Child Development. Berlin : Pearson Education, Inc.; 2003.

Duvall, Evelyn. Marriage and Family Development. New York : J.B. Lippincott Company; 2003.

Hetherington, E. Child Psychology, A Comtemporary Viewpoint. New York: McGraw-Hill, Inc.; 2006.

Papalia, Diane. Human Developmen. New York : McGraw-Hill Inc.; 2003.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar