BAB
1
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Manusia
hidup berdampingan dengan segala aspek kehidupan.Baik aspek konkrit seperti
makhluk hidup lainnya, maupun aspek yang tidak konkrit seperti aspek sosial,
budaya, kerohanian dan nilai-nilai moral lainnya.
Lebih
spesifiknya yang akan dibahas dalam makalah ini adalah tentang hubungan manusia
dengan beberapa contoh aspek penting dalam kehidupan, yaitu cinta kasih,
penderitaan dan keadilan. Sepanjang kehidupan manusia tak akan lepas dari 3 hal
tersebut. Hubungan manusia akan semakin erat apabila terkandung rasa cinta
kasih sayang diantara sesama. Mereka yang hidup dalam suatu lingkungan
memerlukan sebuah peraturan untuk mencapai kesejahteraan dan ketentraman, Oleh
karena itu dibutuhkan keadilan dalam mengatur setiap kebijaksanaan yang
diambil.Demikian pula dengan aspek penderitaan.Setiap manusia pasti pernah
mengalami penderitaan dalam hidupnya, entah penderitaan kecil seperti rasa
sakit maupun merasa kecewa.Ataupun penderitaan besar, seperti siksaan berat,
fobia kekalutan mental dll.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa
pengertian dari cinta kasih, penderitaan dan keadilan?
2. Bagaimana
hubungan manusia dengan cinta kasih, penderitaan dan keadilan?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Memberikan
pemahaman spesifik tentang segala contoh dan pengertian cinta kasih,
penderitaan dan keadilan
2. Menjelaskan
hubungan manusia dengan cinta kasih, penderitaan dan keadilan
BAB
2
PEMBAHASAN
A. MANUSIA DAN CINTA KASIH
1.
Definisi Cinta Kasih
Cinta merupakan sebuah nama yang sangat simple dan mudah untuk diucapkan.
Cinta bisa berasal dari obsesi untuk mendapatkan sesuatu. Cinta kasih bersumber
pada ungkapan perasaan yang didukung oleh unsur karsa, yang dapat berupa
tingkah laku dan pertimbangan dengan akal yang menimbulkan tanggung jawab[1].
Cinta adalah sebuah ungkapan rasa sayang dan simpati kita kepada seseorang.
Kata cinta juga diberikan dari kita kepada Sang Pencipta, sebagai tanda kalau
kita amat membutuhkan dan menyanjungnya.
Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah
perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap
seseorang. Apabila dirumuskan secara sederhana, cinta kasih adalah perasaan
kasih sayang, kemesraan, belas kasihan dan pengabdian yang diungkapkan dengan
tingkah laku yang bertanggung jawab. Tanggung jawab artinya akibat yang
baik,positif,berguna,saling menguntungkan, menciptakan keserasian, dan
kebahagiaan.
2.
Macam cinta kasih
a.
cinta kasih kepada sesama
manusia
Cinta kasih kepada sesama adalah perasaan yang melibatkan emosi yang mendalam.
Menurut Erich Fromm ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih yaitu, 1)
pengenalan, 2) tanggung jawab, 3)perhatian, 4)saling menghormati[2].
Beberapa macam cinta kasih kepada sesama manusia dan yang terkait
dengannya yakni:
·
Cinta terhadap keluarga
·
Cinta terhadap teman-teman
·
Cinta yang romantis atau asmara
·
Cinta diri sendiri atau
narsisme
·
Cinta akan bangsa atau
nasionalisme
Cinta akan pribadi manusia
manusia mempunyai beberapa unsur yang sering ada dalam cinta antar pribadi
tersebut yaitu:
1)
Afeksi
2)
Ikatan
3)
Altruisme :perhatian non egois
kepada orang lain
4)
Reciprocation: cinta yang
saling menguntungkan
5)
Commitment: keinginan untuk
mengabadikan cinta
6)
Kindship : ikatan keluarga
7)
Physical intimacy:berbagi
kehidupan erat satu sama lain
8)
Service : keinginan untuk
membantu.
b.
Cinta kasih dalam ajaran agama
Dalam islam cinta seseorang haruslah berlandaskan kepengikutan (ittibaa)
dan ketaatan. Sebagaimana firman Nya: “Jika kamu benar-benar mencintai Allah
ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.
(QS.3:31-32)
Salah satu cinta yang diajarkan Rasulullah diantaranya adalah mencintai
dan mengasihi sesama. Kecintaan ini, sebagaimana pernah dicontohkan beliau, yang
tak pernah membeda-bedakan antara muslim dan non-muslim. Bahkan, tidak
dibenarkan jika kita tidak berbuat adil kepada suatu kaum, misalnya hanya
karena benci kepada mereka.
B.
MANUSIA
DAN PENDERITAAN
1.
Definisi
Penderitaan
Secara etimologis, kata penderitaan
berasal dari kata derita.Kata derita berasal dari bahasa sansekerta yaitu “dhra” artinya menahan atau menanggung.Sedangkan
secara terminologis, yang berasal dari Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
menahan atau menanggung sesuatu yang tidak menyenagkan.Dengan demikian
penderitaan merupakan lawan kata dari kesenangan.
Penderitaan dapat berupa
penderitaan lahir atau batin, maupun gabungan dari keduanya.Suatu penderitaan
dapat mempunyai makna yang berbeda. Penderitaan kita belum tentu penderitaan
bagi orang lain. Penderitaan juga bisa bermakna awal dari seseorang untuk
bangkit dan menjadi lebih baik lagi.
Manusia selalu mempunyai cara untuk
menghadapi penderitaan dalam kehidupannya. Misalnya penderitaan fisik, dapat
diatasi dengan penanganan medis.Sedangkan penderitaan psikis dapat diatasi
dengan penangan psikis yang khusus seperti berkonsultasi dengan psikiater.
2. Bentuk-bentuk
Penderitaan
Beberapa bentuk atau
wujud dari penderitaan antara lain adalah sebagai berikut:
a.
Kesedihan
Setiap
kesedihan membawa tantangan tersendiri untuk dihadapi. Beberapa contoh
musibahyang dapat menghasilkan reaksi yang berbeda-beda adalah:
1)
Kehilangan orang
tua
Kehilangan
secara umum berarti tidak lagi mamiliki sesuatu dalam hidupnya.Kehilangan orang
tua dapat bermakna tidak memilii orang tua karena kematian.Namun bisa juga
berarti kehilangan secara psikis, contohnya perceraian maupun kesibukan orang
tua yang menyita waktu mereka dengan anak-anak mereka.
2)
Keguguran
Kehamilan
merupakan hal yang dinanti-nantikan oleh banyak pasangan.Karena hadirnya buah
hati mampu menambah kelengkapan hidup mereka.Namun terkadang semua tak sejalan
mulus sesuai rencana. Keluarnya janin atau persalinan premature sebelum mampu
untuk hidup, membuat sang calon ibu merasa sangat kehilangan.
3)
Kehilangan anak
Kehilangan
anak merupakan tragedi besar bagi orang tua.Karena anak adalah harta paling
berharga dalam hidup mereka.Ada beberapa bentuk kehilangan anak, seperti
kehilangan calon bayi atau keguguran, kehilangan anak karena penculikan maupun
terpisah dari anak karena kematian.
4)
Siksaan
Ketika bicara
tentang siksaan, yang terbesit dalam benak kita adalah luka dan sesuatu yang
mengerikan.Entah tentang seseorang yang bertinggi besar dan kokoh yang membawa
cemeti dan siap untuk mencambuk seseorang.Maupun penganiayaan fisik yang sudah
banyak terjadi di masyarakat kita.
Siksaan dapat
berupa siksaan jasmani maupun siksaan rohani. Berikut beberapa contoh siksaan,
antara lain:
1.
Siksa Neraka
Semua umat
muslim pasti mengimani adanya dua tempat pembalasan abadi atas amalan-amalan
merka selama di dunia, yaitu surge dan neraka. Neraka yang merupakan tempat
bagi orang-orang kafir dan berdosa besar adalah tempat dengan siksaan yang
paling mengerikan yang tiada pernah tertandingi.Manusia diberi balasan setimpal
atas dosa-dosa yang mereka lakukan.Tiada satupun yang dapat menolong
mereka.Oleh karena itu, penting bagi kita untuk sesekali merenung tentang
kematian dan neraka agar kita senantiasa memperbaiki diri dan menghindari dosa.
2.
Kebimbangan
Kebimbangan atau
yang juga sering disebut dengan dilema pasti pernah dialami oleh seseorang yang
dihadapkan pada dua pilihan. Keadaan ini berpengaruh tidak baik bagi orang yang
lemah pikirannya karena masalah kebimbangan akan lama dialami olehnya sehingga
siksaan yang dirasakan olehnya sehingga siksaan batin yang ia alami menjadi
berkepanjangan. Namun bagi orang yang kuat berfikir, ia akan cepat mengambil
keputusan dengan berdasarkan pertimbangan prioritas.
3.
Kesepian
Kesepian dialami
seseorang berupa rasa sepi dalam jiwanya, hal ini dapat terus ia rasakan
walaupun ia dalam lingkungan yang ramai sekalipun. Ini yang perlu dianalisis
pertama kali.Perbedaan antara kesepian dan kesendirian.Kesendirian adalah
keadaan atau situasi dimana seseorang tersebut benar-benar sendirian saja namun
belum tentu merasa sepi. Sedangkan kesepian adalah rasa kehilangan atau sepi
dalam hidupnya walupun ia berada dalam keramaian maupun ditemani oleh beberapa
orang disekitarnya.Kesepian juga harus diatasi agar siksaan batin tidak terus
dialami secara berkepanjangan. Slusi yang ditawarkan adalah:
a.
Berfikir positif
Selalu yakin
semua yang terjadi adalah ketentuan Allah.Allah tidak pernah memberikan cobaan
diluar batas kemampuan manusia.Itu berarti kita pasti mampu melaluinya dan
selalu ada jalan keluar dalam setiap masalah. Berdoa dan mendekatkan diri
kepadaNya dapat membuat batin tenang, karena Allah senantiasa bersama hambanya
dikala susah, senang atau duka.
b.
Mencari kawan
Kita perlu
mencari kawan untuk bisa membunuh kesepian yang kita rasakan.Seorang kawan yang
mampu untuk diajak berkomunikasi dan memahami masalah yang kita punya.
c.
Mencari
kesibukan
Selain mencari
kawan, kita harus mencari kegiatan untuk mengisi waktu-waktu kosong kita agar
terlupa dengan kesedihan yang kita rasakan.Tentunya dengan kegiatan-kegiatan
yang bermanfaat. Setelah itu kita akan terbiasa untuk membunuh kesepian dengan
hal-hal yang baik.
4.
Rasa takut
Seseorang yang
hidup dalam keadaan normal, akan mampu untuk mengendalikan rasa takut dalam
dirinya. Namun, apabila seseorang terus-menerus memiliki subjek fobia(rasa
kecemasan luar biasa terhadap keadaan eksternal tertentu), maka orang tersebut
berpotensi mengalami fiksasi. Fiksasi adalah keadaan dimana mental seseorang
menjadi terkunci karena seseorang tidak mengendalikan rasa takutnya. Kecemasan
yang tidak diatasi akan menimbukan akumulasi emosi negatif yang secara terus
menerus ditekan kembali kea lam bawah sadar. Berikut beberapa jenis penyakit
fobia:
a.
Agorafobia
Agorafobia
adalah takut akan keramaian atau tempat terbuka. Keadaan-keadaan yang sulit
bagi penderita Agorafobia adalah antri di bank atau pasar swalayan, duduk
ditengah-tengah bioskop atau ruang kelas dan mengendarai bis atau pesawat
terbang. Pengobatan terbaik untuk penderita Agorafobia adalah terapi pemaparan
dengan bantuan seorang ahli, penderita mencari, mengendalikan dan tetap
berhubungan dengan apa yang ditakutinya sampai kecemasannya secara perlahan
berkurang karena sudah terbiasa dengan keadaan tersebut. Psikoterapi dilakukan
agar penderita lebih memahami pertentangan psikis yang melatarbalakangi
terjadinya kecemasan.
b.
Fobia Spesifik
Fobia spesifik
merupakan penyakit kecemasan terhadap satu objek tertentu, misalnya takut
binatang, kegelapan, ketinggian, ruang sempit dll.Fobia ini biasanya dialami
pada masa kanak-kanak dan banyak diantaranya yang menghilang setelah dewasa.
c.
Fobia Sosial
Penderita fobia
sosial mengalami kecemasan berlebihan terhadap situasi sosial sehingga mereka
cenderung menghindarinya atau bahkan menghadapinya dengan tekanan. Keadaan yang
memicu terjadinya kecemasan pada penderita fobia sosial adalah:
1.
Berbicara atau
tampil didepan umum
2.
Makan didepan
orang lain
3.
Menandatangani
dokumen sebelum bersaksi
Penderita fobia
sosial menyeluruh biasanya merasa bahwa penampilannya tidak sesuai dengan yang
diharapkan, mereka akan merasa terhina atau dipermalukan.
b.
Kekalutan mental
Secara
sederhana kekalutan mental dapat dirumuskan sebagai gangguan kejiwaan akibat
ketidakmampuan seseorang mengatasi persoalan hidup yang harus dijalaninya
sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar.
Sebab-sebab
timbulnya kekalutan mental yaitu:
1.
Kepribadian yang
lemah atau kurang percaya diri sehingga menyebabkan yang bersangkutan merasa
rendah diri
2.
Terjadinya
konflik sosial budaya akibat dari adanya norma yang berbeda antara dirinya
dengan lingkungan masyarakat.
3.
Pemahaman yang
salah sehingga memberikan reaksi berlebihan terhadap kehidupan sosial dan juga
sebaliknya terlalu rendah diri.
Proses-proses
yang diambil oleh seseorang dalam menghadapi kekalutan mental, akan
mendorongnya kearah:
1.
Positif, bila
trauma (luka jiwa) yang dialami seseorang, akan disikapi untuk mengambil hikmah
dari kesulitan yang dihadapinya. Setelah mencari jalan keluar maksimal tetapi belum mendapatkannya
tetapi dikembalikan kepada sang pencipta dan bertekad untuk tidak mengulanginya
di lain waktu.
2.
Negatif, bila
trauma yang dialami tidak dapat dihilangkan, sehingga yang bersangkutan
mengalami frustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang
dicita-citakannya.
c.
Rasa sakit
Rasa
sakit adalah rasa yang tidak yang enak bagi penderita akibat menderita suatu
penyakit.Rasa sakit dapat berupa lahiriyah dan batiniyah.Rasa sakit lahiriyah
seperti sakit mata, sakit perut, sakit tenggorokan, sakit gigi dan lain
sebagainya.Sedangkan sakit yang bersifat batiniyah itu adalah seperti penyakit
yang ada didalam hati manusia.Seperti iri, dengki, hasud, takabur, riya dan
sebagainya.
1.
Keadilan
yang Hakiki
Keadilan adalah pengakuan dan
perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Jika kita mengakui hak
seseorang berarti kita juga harus menghormati hak orang lain. Jadi keadilan
pada dasarnya terletak pada keseimbangan atau keharmonisan antara menuntut hak
dan menjalankan kewajiban.[3]
Menuntut hak tetapi tidak
mengerjakan kewajiban sama dengan pemerasan. Sebaliknya, menjalankan hak tetapi
tidak meminta hak sama dengan diperbudak orang lain.
Keadilan yang hakiki adalah keadilan
dengan sebenar-benarnya keadilan. Keadilan tanpa kesalahan dan keluputan
sedikitpun di dalamnya. Manusia tidak akan mencapai keadilan yang hakiki karena
manusia adalah individu yang selalu rawan akan perbuatan yang tidak sesuai
dengan peraturan. Meskipun manusia itu adil namun pasti tetap terdapat
kesalahan dalam proses pengadilannya. Entah itu kesalahan yang besar atau
kecil. Dan manusia tidak akan selamaya bisa berbuat adil karena manusia pasti
menemui ajal. Maka dari itu keadilan
yang hakiki hanya bisa dikaitkan dengan unsur religi. Karena hanya Tuhan Yang
Maha Kuasa yang bisa memiliki keadilan yang hakiki. Tuhan yang Maha Adil yang
dapat melakukan segalanya dengan perhitungan yang tepat dan Tuhan Yang Maha
Kekal yang bisa mempertahankan keadilan itu selamanya.
Macam-macam keadilan :
a. Keadilan Moral
Plato
berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari
masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang
adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling
cocok baginya. Pendapat Plato itu disebut keadilan moral.
Keadilan
timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk memberi tempat yang selaras
kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat. Keadilan terwujud dalam
masyarakat bilamana setiap anggota masyarakat melakukan fungsinya secara baik
menurut kemampuannya. Fungsi penguasa ialah membagi-bagikan fungsi-fungsi dalam
negara kepada masing-masing orang sesuai dengan keserasian itu. Setiap orang
tidak mencampuri tugas dan urusan yang tidak cocok baginya.
Ketidak
adilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak lain yang melaksanakan
tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan menciptakan pertentangan dan
ketidak serasian.
b. Keadilan Distributif
Aristoles
berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama
diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (justice is done when equals are treated
equally)
c.
Keadilan Komutatif
Keadilan
ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan
umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan
ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim
menjadikan ketidak adilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian
dalam masyarakat.
2.
Hubungan
keadilan dengan kejujuran
Jujur atau kejujuran berarti apa
yang dikatakan sesuai dengan hati nurani dan perilaku. Jujur berarti menepati
janji atau kesanggupan untuk menepati karena jika janji tidak ditepati berarti
mendustai diri sendiri. Kejujuran dapat mendatangkan ketentraman hati ,
menghilangkan rasa takut, membuat orang
tegas, dan yang paling penting kejujuran dapat mendatangkan keadilan. Hal ini
penting karena keadilan mendatangkan kemuliaan. Itu semua akan menjadikan manusia
bertulus budi , yang pada hakekatnya menjadikan manusia lebih bermanusiawi.
3.
Hubungan keadilan dengan kecurangan
Kecurangan dapat diartikan sebagai ketidak jujuran, licik, apa yang tidak
sesuai dengan hati nurani, memperoleh keuntungan materi tanpa tenaga, usaha
dengan jalan tidak wajar. Kecurangan
menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak dan ingin menimbun kekayaan yang
berlebihan. Kecurangan dan sifat-sifat yang serupa seperti penipuan, pencurian,
pemalsuan dan lain-lain merupakan bagian dari hidup manusia. Setiap hari
manusia mengalami kecurangan tersebut dalam bentuk yang berbeda entah itu
melakukan kecurangan atau menjadi korban kecurangan.
Kecurangan dapat menimbulkan
keresahan dalam kehidupan sosial sehingga hal ini menjauhkan masyarakat dengan
keadilan. Maka pada intinya adalah apabila kecurangan masih terjadi maka tidak
akan pernah tercipata keadilan.
4.
Hubungan
antara keadilan dengan pembalasan
Pembalasan adalah suatu reaksi atas
perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa atau
perbuatan yang seimbang. Pembalasan bisa berupa sesuatu yang bersifat positif
atau negatif. Pembalasan yang bersifat positif adalah pembalasan atas dasar
menghargai atau saling menjaga hak dan kewajiban masing-masing. Sedangkan
pembalasan yang bersifat negatif adalah pembalasan atas dasar merusak dan
merugikan. Masyarakat mengadakan pembalasan melalui sikap yang diwujudkan dalam
perbuatan. Namun secara kodrati manusia adalah makhluk moral yang berkelakuan
baik. Apabila manusia berbuat jahat, hal ini merupakan pengaruh dari ligkungan.
Pembalasan merupakan tindakan yang tidak pasti tujuannya karena tergantung pada
sifat dan dasarnya. Oleh karena itu pembalasan dapat menimbulkan keadilan
apabila sifatnya positif dan menjauhkan dari keadilan apabila sifatnya negatif.
BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan
Cinta kasih adalah ungkapan perasaan yang didorong oleh
suatu kehendak dan diwujudkan dalam bentuk tingkah laku disertai rasa tanggung
jawab dan pertimbangan akal pikiran (rasional). Ungkapan perasaan tersebut
dapat ditujukan kepada sesama manusia, sesama makhluk ataupun kepada Tuhan.
Penderitaan adalah menahan atau menanggung
sesuatu yang tidak menyenangkan baik secara lahir ataupun batin. Atau dapat dikatakan
sebagai lawan kata dari kesenangan. Beberapa wujud dari penderitaan antara lain
berupa kesedihan,siksaan,kekalutan mental, dan rasa sakit.
Makna Keadilan adalah
pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Menuntut hak
tetapi tidak mengerjakan kewajiban sama dengan pemerasan. Sebaliknya,
menjalankan hak tetapi tidak meminta hak sama dengan diperbudak orang lain. Namun demikian, keadilan yang hakiki hanyalah
milik Sang Maha Kuasa sebab Dia-lah sang
Maha Adil. Adapun macam-macam keadilan antara lain keadilan moral,keadilan
distributif, dan keadilan komunitatif.
DAFTAR PUSTAKA
Dyson,L.1997. Ilmu Budaya
Dasar. Surabaya: PT. Dita Pratama.
Mawardi dan Nur Hidayati. 2009.IAD-ISD-IBD.Bandung:
Cv.Pustaka Setia.
Tasnuji,dkk.2011.IAD-ISD-IBD.Surabaya:IAIN
Sunan Ampel Press.